Selokan Mataram

Beberapa waktu lalu, aku sempet baca artikel tentang asal mula Selokan Mataram. ternyata bersejarah banget…, ga nyangka. padahal itu jalan yang aku susuri setiap hari klo berangkat kuliah.

Kisah tentang pemimpin yang memikirkan rakyat yang dipimpinnya.

Saat zaman penjajahan Jepang, dan diterapkan Romusha. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan cerdiknya, mengalihkan perintah Jepang itu, sehingga rakyatnya selamat dari kekejaman Romusha.

Ia merayu Jepang agar lebih baik rakyat diperintahkan membangun saluran irigasi saja. Agar persawahan di daerah Yogyakarta yang gersang dan merupakan sawah tadah hujan bisa terairi dan menghasilkan lebih banyak kebutuhan logistik tentara Jepang.

menurutku itu cerdas banget…, ia tidak secara frontal menentang Jepang. tapi dengan cara jitu & tepat sasaran, bisa memperoleh 2 hasil: rakyat selamat & saluran irigasi yang bermanfaat.

Selokan Mataram adalah kanal irigasi menghubungkan sungai Progo di arah barat dan sungai Opak di bagian timur Jogjakarta. Total aliran irigasi ini membentang sejauh 30-an kilometer.

Ide itu juga terilhami dari perkataan Sunan Kalijaga, bahwa bumi Mataram akan subur dan rakyatnya sejahtera jika Sungai Progo dan Sungai Opak bisa saling terhubung.

source:
Selokan Mataram
Sejarah Dibangunnya Selokan Mataram Jogja
Selokan Mataram yang Menyelamatkan Yogyakarta

Pengalaman Pertama ke Galeri Seni

undagi poster

Aku ga sengaja nemuin poster tentang UNDAGI pas maen ke Perpustakaan Kota Yogyakarta.

Wah, boleh juga nih… aku memang seneng dengan benda-benda unik yang bermuatan seni. Biasanya sih pembuatnya, atau senimannya tidak hanya membuat sebuah bentuk yang unik, namun juga sekaligus menyampaikan pesan dan kritik sosial melalui karyanya.

Aslinya aku pengen ke sana bareng adekku yang akan dateng dari Malang. Tapi keburu pamerannya abis, dan aku ga sempet nonton… udahlah aku ke sana sendiri. Adekku juga kayaknya lebih seneng wisata alam, dia malah kepengen ke Gunung Kidul. maaf ya ga bisa nemenin, aku banyak tugas

Bedanya museum dengan galeri seni: klo museum benda yang dipajang biasanya permanen, untuk jangka waktu lama. Sementara pameran di galeri seni, hanya sewaktu-waktu dan tentu bendanya khusus, produk-produk terbaru (kontemporer) karya seniman. Klo di museum kan benda-benda yang sudah lama dibuat

Emang ga rugi, sempet mampir ke sana…

Ini adalah salah satu karya yang mengandung sindiran sosial:

Aku suka dengan filosofi patung Dewi Saraswati ini:

… pengalaman yang menyenangkan…

Surga Buku

Klo menurutku, salah satu jenis surga yang mungkin akan diciptakan Tuhan di alam akhirat nanti… mungkin adalah “surga buku”.

Buat penggemar buku, masuk ke suatu tempat dengan banyak buku-buku bermutu itu laksana memasuki gudang harta karun yang isinya emas permata dsb. mungkin seperti  gudang uangnya Paman Gober dalam komik Donal Bebek

Kemaren malem, tanggal 22 Agustus… aku ke Toko Buku Toga Mas di Jl. Gejayan, deket kosku. Sebenernya nyari buku untuk tugas kuliah sih… eh, kenapa keluarnya malah dapetnya buku Biografi Pak Habibie (?)

Aku orangnya emang susah fokus pada satu bidang studi,, ibaratnya pas kuliah D3 dulu… aku malah sibuk jadi aktivis & belajar hal-hal lain di luar bidang studi yang sebenernya. Aku orang yang punya terlalu banyak minat, atau banyak ilmu pengetahuan yang pingin aku serap. Padahal sebenernya kita memang harus punya satu hal yang kita ekspertis banget. Seperti klo jurusanku di IT, ya harus expert dan mendalami IT, tho?

Ya itulah, kali ini aku berusaha fokus dan ga bingung menjelajah surga-surga buku di Jogja ini & malah membaca buku2 yang di luar tema studiku.

Suasana Jogja yang memfalisitasi banget terhadap pendidikan, dengan berlimpahnya sumber pengetahuan… memang menggiurkan. Seperti suasana saat aku di Bandung dulu,, yg banyak toko buku dan perpustakaan. juga pusat penjualan buku murah atau diskonan, seperti BBC (Bandung Book Center) di Palasari.

Aku orangnya mudah jenuh, jadi kan di kuliahan (pas D3 & S1) udah full bahasan tentang teknik… sehingga sebagai hiburan, aku mencari bacaan2 alternatif. Dan aku memang sebenernya lebih suka hal-hal yang bersifat sosial kemasyarakatan, ketimbang hal-hal yang sifatnya teknis

Apalagi pas udah kerja; ya membaca buku adalah salah satu alternatif hiburanku, selain musik, film, menulis…

Tapi semoga aku dapat menahan hasratku itu… dan mengalihkannya ke buku-buku bacaan yang selaras dengan jurusanku, dan menunjang pengerjaan tugas-tugas kuliah.

Buat temen-temen yang tinggal di Jogja, kalian itu sadar ga sih… klo kalian tinggal di salah satu kota surga pengetahuan di Indonesia. manfaatkanlah sebaik2nya, karena tidak semua wilayah di Indonesia bisa mendapatkan akses seleluasa di kota ini, terhadap ilmu pengetahuan

*ibaratnya, pas aku tinggal di Lampung… aku harus belanja buku secara online untuk mendapatkan buku-buku bagus, dan itu pun kadang habis atau stok tidak ada. Sementara aku lihat di sini, buku-buku yang aku cari dan tidak tersedia secara online tersebut, malah masih banyak stoknya; atau juga bisa dipinjam di perpustakaan

Terpesona dengan Masjid Gedhe Kauman

20160813_191229

Hari Sabtu, tanggal 13 Agustus kemaren… karena ada waktu luang, aku berkunjung ke rumah saudara sepupuku di Bantul. Sepulangnya dari sana sekitar maghrib, aku menuju alun-alun kidul… karena pgn liat, katanya ada festival. Tapi aku sekedar lewat doang, trus menyusuri jalan lewat Ngasem dan kemudian, seperti pesen Mba Bety (sepupuku tadi)… klo lewat sekitar keraton bisa mampir tuh, ke Masjid Gedhe Kauman

Aku sering lewat di depannya, tapi baru kali ini mampir…

Indah banget tyt interiornya, dan suasananya khusyuk banget. Aku sholat Isya di sana, dan di pelataran masjid aku liat ada panggung untuk Festival Shalawat yang diadakan tanggal 14 Agustus keesokan harinya.

Esoknya, karena pingin liat Festival Shalawat… aku ke sana lagi, dan sempet ikutan sholat Isya berjamaah. Lebih banyak nenek-nenek/ibu-ibu yang sudah tua yang sholat jamaah di barisan shaf wanita. Aku sampe berpikir, ini generasi mudanya kemana ya?

Seperti yang kulihat di film “Sang Pencerah”, ternyata emang bener ya… kiblat masjid ini dibetulkan oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Dapat dilihat dengan jelas dari pagar pembatas shaf wanita dengan pria yang berupa diagonal yang melintang, bukan sejajar/horisontal seperti kebanyakan masjid lain.

Dan, satu hal yang berkesan banget. Ada satu aturan dalam shalat berjamaah yang tidak pernah aku lihat diterapkan, namun di sini diterapkan: shaf wanita diisi yang paling belakang dulu.

Yang bener khan, emang begitu… anak-anak di depan, dan sebaik2nya shaf buat wanita itu yang di belakang. Jadi yang diisi barisan belakang dulu

Beda dengan aturan untuk shaf laki2

Tapi aturan semacam ini, saya tidak pernah melihat hal tersebut diterapkan. Baru di masjid ini saya lihat spt itu… *dan itu bagus, berarti menunjukkan keseriusan

Trus, selesai sholat… aku nungguin tuh, Festival Shalawat-nya dimulai. Katanya abis Isya, tapi lama banget aku tungguin belum mulai2. *masih persiapan… trus kulihat jam udah menunjukkan jam 8 malam. Wah, ga bisa nih aku ikutan. Karena badan udah lelah, waktunya istirahat… ga enak juga klo pulang kos malem2 dan besok juga mau kuliah. Jadi, aku pulang deh..

Belanja di mana?

Buat yang nyari oleh-oleh di Jogja, terutama yang bukan berupa makanan… semisal batik & souvenir atau kerajinan tangan. Lebih suka belanja di mana: pasar tradisional atau swalayan?

Sebenarnya jadwal wajib kunjung saya klo ke Jogja itu Mirota Batik (sekarang sudah jadi Hamzah Batik)

Spesial banget toko itu…

Klo pgn nyari souvenir & macem2 kerajinan tangan, emang lebih enak di sini. Krn model & macamnya variatif… jadi ga perlu keliling Jogja tuh, buat nyari kerajinan2 khasnya.

Tapi, krn kali ini ada yg pesen bahan batik… dan aku ragu, beli di Pasar Bringharjo atau Mirota Batik

Pertimbanganku, klo di Pasar Bringharjo mgkn lbh murah & bisa ditawar

Tapi, beli di pasar tradisional jg beresiko. Krn aku orangnya ga bisa nawar. Berapa pun harga yg penjual kasih, aku iya2 aja… (nawar sih, tp ga sampe separuh harga. dan ga ngotot2 amat ke penjualnya, seperti kebanyakan ibu2)

Dan aku senengnya, di pasar tradisional itu ada kedekatan dengan penjualnya. Kadang dia ikut memilihkan motif dari batik yang kita cari. Dan menceritakan motif batik ini tentang apa: “yang ini motif garuda”, “ini motif ikan”, “ini sekar jagat”

Lucunya, krn dr harga yang ditawarkan penjual… ga aku tawar; in the end mereka sdr yg nurunin harganya. *mgkn krn kasian liat aku yg ga bisa nawar, hehe

Oh ya, klo ke Pasar Bringharjo dan pgn murah… enaknya, pas pagi. krn biasanya masih sepi, dan penjual nyari penglaris. Cuma, ya beberapa kios mgkn blm buka… jadi pilihan agak terbatas

Jogja

Hari ini, jam 10.45 nanti… aku akan kembali sebentar ke Lampung, untuk mengurus berkas-berkas permohonan Tugas Belajar-ku.

Sebelumnya, saya ingin menuliskan beberapa kesan saya tentang Jogja. Kota yang selama 2 minggu… sudah saya tinggali

Alhamdulillah, saya sudah diterima di Program Magister CIO (Chief Information Officer) di UGM melalui beasiswa dari Kemkominfo.

Dan tanggal 4 kemarin sudah diadakan kuliah perdana sebagai orientasi terhadap Mahasiswa Baru. Jadi tanggal 3 Agustus aku dah pamitan sama temen2 kantor

Sebenarnya aku ga bener2 fresh & siap, karena baru aja sebelum berangkat ada beberapa masalah di kantor

Tapi ya sudahlah, berangkat aja mulai kuliah… 4 an escape from reality

————————

Ada beberapa kesulitan saya untuk beradaptasi dengan kultur Jogja…

Di sini semua serba sopan, ramah, unggah-unguh. Sementara di Lampung ga harus gitu… Adakalanya di sana, klo orang terlalu ramah, baik, sopan malah bisa ‘dikerjain’.

Aku biasa jaga jarak dengan orang lain dalam pergaulan; karena di sana kehidupan keras. Dan di sini tiba-tiba harus akrab gitu… aku belum bisa

Filosofi Sistem Macapat

Karena sejak kecil saya suka baca cerita-cerita tentang Wali Songo, ada satu tema yang menarik buat saya… yakni, tentang penerapan sistem macapat (mocopat) dalam membangun tata letak lingkungan di pusat pemerintahan.

Kalau kita sering melihat pusat kota di Jawa, biasanya terletak di alun-alun… pernahkah kita bertanya, kalau itu bukan kebetulan?

Sistem tata kota yang ditinggalkan Wali Songo, dinamakan macapat. Yakni pusat kerajaan, yang biasanya terletak di alun-alun atau lapangan berbentuk segi empat (papat). Alun-alun sebagai tempat berkumpulnya rakyat, yang dikelilingi oleh pusat pemerintahan, tempat ibadah, pasar dan penjara. Lokasi-lokasi penting itu diatur sesuai dengan empat penjuru mata angin.

Inilah makna yang terkandung dari sistem tata letak tersebut:

materi-sejarahklsx2semester-36-638

Di sebelah Selatan terdapat pusat pemerintahan di mana Bupati menjalankan tugasnya, di sebelah Barat terdapat masjid tempat beribadah sehingga diharapkan Bupati dan segenap pamong prajanya tidak melupakan urusan keagamaan, di sebelah Utara terdapat pasar tempat bertemunya para kawula dan tempat dimana roda ekonomi dijalankan, di sebelah Timur terdapat bangunan penjara di mana siapapun yang melanggar aturan maka harus dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Di tengah biasanya terdapat alun-alun dan di situ terdapat dua pohon beringin.

alun-alun-kidul-yogyakarta

Alun-alun Kidul Yogyakarta

Paling jelas dapat kita lihat di alun-alun kota Jogja,, di beberapa kota lainnya… lokasi-lokasi tersebut mungkin ada yang telah digeser oleh kehadiran mall.

alun-alun-utara

Alun-alun Utara Yogyakarta

Sistem tata kota yang digagas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga tidak sekedar masalah sistem tata ruang saja, namun di balik itu banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Seperti Kantor Bupati selalu menghadap ke Utara membelakangi gunung dan menghadap ke arah laut. Ini memiliki makna bahwa seorang pimpinan harus meninggalkan sifat tinggi hati dan kesombongan sebagimana sifat gunung yang tinggi, dan pemimpin harus memiliki hati yang luas seluas samudra. Tentang alun-alun adalah punjer (pusat), dan perwujudan keberagaman masyarakat. Alun-alun berasal dari kata bahasa Arab “allaunu-allaunu” yang berarti beraneka warna jadi pemimpin adalah untuk masyarakat majemuk bukan golongan. Di tengah alun-alun terdapat dua beringin kembar yang melambangkan sumber hukum pemerintahan harus sejalan dengan dua pusaka peninggalan Nabi Muhammad SAW untuk umatnya yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.

————————

Yang saya kagumi dari masyarakat nusantara zaman dahulu, karena mereka sangat berpegang pada filosofi hidup & menerapkannya pada bangunan-bangunan yang mereka dirikan.

source & reference:
Filosofi Macapat
Alun-alun sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang