Haji Agus Salim: Tokoh Nasional Favoritku

image

Semua orang biasanya punya idola dan preferensi sendiri tentang tokoh nasional yg dikaguminya.

Yg suka dg wacana feminisme atau emansipasi wanita mungkin mengidolakan Kartini.

Yg suka dg tokoh yg disiplin, jujur dan tidak banyak bicara, mungkin mengidolakan Bung Hatta, dan seterusnya…

Dari sekian banyaknya tokoh nasional, tokoh yg menurutku karakternya keren banget itu… Haji Agus Salim!

Yg aku kagumi dr beliau adalah “kegeniusannya” dl berdiplomasi, kritis, pandai berdebat dan bermain kata2, hingga bisa membawa derajat bangsa Indonesia dihormati di kancah dunia.

Mungkin beliau memiliki kecerdasan verbal yg tinggi, hingga bagi beliau mudah belajar bahasa asing secara otodidak. Beliau adalah polyglot, yg menguasai 9 bahasa.

Selain diplomat, founding father ini juga adalah ulama dan intelek. Yg merupakan dua serangkai dg H.O.S Cokroaminoto di Sarekat Islam (SI).

Yg lucu, sebenernya Agus Salim itu kenal Cokroaminoto bermula dr ditugaskannya ia untuk memata-matai gerakan SI. Yg akhirnya ia malah merasa cocok dg Cokroaminoto, trus ia pun membelot dr kumpeni dan bergabung dengan SI.

Sejauh ini, menurutku buku yg paling lengkap ttg beliau adalah “Seratus Tahun Haji Agus Salim”.

image

my favorite book

Buku ini dibuat untuk memperingati seratus tahun kelahiran Haji Agus Salim.

Buku ini buku langka, yg aku cari2… krn buku lamaku hilang, dan aku sudah coba beli di toko buku bekas online, tp sudah habis. 😥

Beliau adalah tokoh yg sedikit nyentrik. Byk anekdot lucu ttg beliau, krn selain cerdas beliau juga humoris.

Bung Karno yg kagum dg kecerdasan Haji Agus Salim menjuluki beliau “The Grand Old Man”.

image

Ada kisah lucu ttg perdebatan Bung Karno dg Haji Agus Salim:

Haji Agus Salim mendukung poligami krn sesuai syari’at Islam, sementara Bung Karno menentang poligami krn dianggapnya merendahkan wanita.

Namun akhirnya malah Bung Karno yg berpoligami, sementara Haji Agus Salim ttp setia dg satu istri.

AYAH…: Kisah Buya Hamka

buya hamka

Buku ini sebenernya memoar anak Buya Hamka, Irfan Hamka, tentang kenangannya selama hidup dengan sang ayah. Saya kurang tertarik dengan kisah-kisah pengalaman pribadi penulis, jadi saya membacanya langsung ke bagian-bagian yang berkaitan dengan Buya Hamka.

Di awal buku ini diceritakan mengenai cara Buya memberi solusi terhadap masalah rumah tangga, dengan bijak Buya menasihati sang istri agar membolehkan poligami daripada meminta cerai dari suami, dengan alasan yang syar’i. Wow…, cukup kontroversial! Jarang ada zaman sekarang, ulama yang justru menyarankan agar si istri merelakan suaminya poligami. Tapi pertimbangan Buya memang bijak, dikarenakan sang istri yang tidak bisa mengimbangi hasrat suami, sementara suaminya adalah lelaki yang beriman dan rajin beribadah, dan takut berbuat dosa untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Buya mampu memberikan solusi yang bijak dan nasihat dengan argumen yang mudah dipahami masyarakat.

Selain sebagai ulama dan sastrawan, Buya ternyata adalah pendekar silat. Ia mahir silek. Dari beberapa buku lain yang saya baca, silek adalah salah satu budaya Minang yang dilestarikan turun-menurun dalam masyarakatnya. Kata Buya, orang yang disebut Pendekar adalah orang yang memiliki akal yang pandai dan cerdas. Sebutan pendekar di Minang, berarti “pandai akal”.

Sejarah menyakitkan yang saya baca adalah saat Buya difitnah oleh PKI dengan tuduhan merencanakan pembunuhan pada Presiden Soekarno dan dipenjara selama 2 tahun 4 bulan, tanpa proses pengadilan. Sebuah tuduhan yang mengada-ada dan tak masuk akal… bila ditujukan pada seorang alim ulama, yang hidupnya tidak ditujukan untuk kekuasaan duniawi!

Dinginnya penjara tidak dapat menumpulkan kreativitasnya. Selama masa tahanan itu, beliau menghasilkan karya monumental Tafsir Al-Azhar. Memang banyak tokoh-tokoh yang justru menghasilkan karya tulis ketika mendekam dalam bui, biasanya mereka dipenjara karena tekanan penguasa.

Saya sebagai pengagum Bung Karno, merasa sedikit kecewa terhadap beliau atas keputusan yang satu ini. Menurutku beliau harusnya memperlakukan ulama dengan penuh penghormatan, bukannya malah dipenjara atas hasutan dan fitnah PKI. Mungkin saat itu Bung Karno memang sedang mesra-mesranya dengan paham komunis.

Buya Hamka dibebaskan pada saat rezim Soekarno runtuh, dan digantikan oleh Presiden Soeharto. Buya Hamka persis akan disiksa ketika Gestapu/Kudeta 1 Oktober 1965 terjadi. Ia diselamatkan oleh kudeta tersebut. Saat baru diangkat menjadi presiden, Presiden Soeharto malah memberinya hadiah pergi haji bersama istri dan anak.

Mungkin Bung Karno lengser salah satunya karena ‘kualat’ pada ulama. Saya lebih suka dengan perlakuan Presiden Soeharto yang bisa menempatkan seorang ulama sesuai dengan kehormatannya.

Buya Hamka dan Bung Karno rupanya pernah bertemu saat masa muda. Dalam buku ini ada foto mereka bersama di Bengkulu pada tahun 1941, bersama H. Abdul Karim Oei.

buya

Buya Hamka, H. Abdul Karim Oei, Bung Karno

Soekarno, Moh. Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer adalah tiga tokoh yang pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Namun Buya Hamka tidak menyimpan dendam dan memaafkan kesalahan mereka.

Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana tanggapan Buya Hamka atas rencana Gubernur DKI, Ali Sadikin untuk melegalkan perjudian dan lokalisasi tempat pelacuran.

Buya Hamka gemar merantau sejak kecil untuk menimba ilmu dan pengalaman. Pada umur 15 tahun beliau merantau ke Jawa, tepatnya Kota Yogyakarta dan Pekalongan. Di sana ia belajar dari tokoh-tokoh besar seperti HOS Tjokroaminoto, A.R. Fachruddin dan tertarik pada misi Muhammadiyah.

Buya Hamka tidak berkesempatan belajar secara tuntas di institusi pendidikan, sehingga ia tidak memiliki diploma atau ijazah. Hal itu menyulitkannya untuk menjadi guru di sekolah Muhammadiyah, yang turut didirikan oleh ayahnya. Kemudian ia bertekad mengembara lagi ke Mekkah untuk menimba ilmu agama sambil melancarkan kemampuan bahasa Arab.

Di Mekkah ia bekerja sebagai pegawai percetakan. Ada berbagai buku agama di gudang percetakan, yang dibacanya pada waktu istirahat kerja. Ketika bertemu Haji Agus Salim, ia disarankan agar kembali ke tanah air.

Pendidikan Buya Hamka terbengkalai karena orang tuanya bercerai saat ia masih kecil. Meski demikian, ia telah bertekad menjadi manusia berguna sehingga ia banyak membaca untuk membuka wawasannya dan mengejar ketertinggalan di bidang akademik. Buku yang ia konsumsi pada saat ia kecil adalah buku-buku berat, buku-buku pemikiran yang jarang dibaca anak-anak seusianya.

Buya Hamka adalah seorang ulama besar yang belajar secara otodidak, baik melalui buku maupun dari tokoh-tokoh besar.

GUS DUR VAN JOMBANG: Pendekatan Komikal atas Biografi Gus Dur

Seperti biasa aku hunting buku dan ngecek dulu isi buku ini di Google Books. Kirain buku ini buku ga serius, or buku biografi untuk anak-anak, ternyata isinya bernas. Jadi tahu dan paham sejarah kehidupan Gus Dur secara garis besar. Selama ini males banget klo harus baca buku biografinya yang cenderung serius, rinci dan politis.

Buku ini membantu kita memahami sifat Gus Dur yang ‘beda’. Ia cenderung menginginkan perdamaian bagi umat. Dia adalah tokoh pelopor yang kritis dan berani menentang kekuasaan Orde Baru. Tapi karena akalnya yang cerdik dan sifatnya luwes, ia selalu berhasil lolos dari ancaman penguasa Orde Baru.

Banyak orang yang mengolok-olok Gus Dur karena tidak mengerti, ia sebenarnya adalah seorang yang jenial. Terkadang kita dan banyak orang di Indonesia tidak mampu menjangkau level pemikiran beliau. Jadilah ia membahasakan kebijakannya dengan bahasa yang mudah ditangkap umum.

Dulu, maklum masih anak muda -belum kenal sosok Gus Dur- aku cuma tahu dari berita-berita wartawan saat itu. Semenjak membaca buku Melawan Melalui Lelucon: Kumpulan Kolom Abdurrahman Wahid Di Tempo aku jadi terkaget-kaget dengan pemikiran-pemikirannya yang kritis dan luasnya wawasan beliau.

Begitu mengetahui adanya buku Gus Dur van Jombang, dan tertarik setelah membaca di Google Books, aku langsung memesan buku itu di bukukita.com (toko buku online langganan). Buku itu terbitan 2010, semoga masih ada. Alhamdulillah, kru bukukita.com bisa memperolehnya. Untuk menyelesaikan buku itu cuma butuh waktu sebentar, karena ceritanya menarik.

Gus Dur adalah penuntut ilmu sejati, penikmat film dan penggemar bola. Hobiku yang sama dengan beliau adalah ‘hobi baca’.

Yang aku perhatikan, dalam hidup beliau banyak anggota keluarganya yang mengalami kecelakaan. Ayah, ibu beliau, istri dan beliau sendiri. Gus Dur pun harus menjadi anak yatim, ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ibunya meninggal, istrinya menjadi cacat dan Gus Dur sendiri mengalami gangguan penglihatan karena kecelakaan.