Selokan Mataram

Beberapa waktu lalu, aku sempet baca artikel tentang asal mula Selokan Mataram. ternyata bersejarah banget…, ga nyangka. padahal itu jalan yang aku susuri setiap hari klo berangkat kuliah.

Kisah tentang pemimpin yang memikirkan rakyat yang dipimpinnya.

Saat zaman penjajahan Jepang, dan diterapkan Romusha. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan cerdiknya, mengalihkan perintah Jepang itu, sehingga rakyatnya selamat dari kekejaman Romusha.

Ia merayu Jepang agar lebih baik rakyat diperintahkan membangun saluran irigasi saja. Agar persawahan di daerah Yogyakarta yang gersang dan merupakan sawah tadah hujan bisa terairi dan menghasilkan lebih banyak kebutuhan logistik tentara Jepang.

menurutku itu cerdas banget…, ia tidak secara frontal menentang Jepang. tapi dengan cara jitu & tepat sasaran, bisa memperoleh 2 hasil: rakyat selamat & saluran irigasi yang bermanfaat.

Selokan Mataram adalah kanal irigasi menghubungkan sungai Progo di arah barat dan sungai Opak di bagian timur Jogjakarta. Total aliran irigasi ini membentang sejauh 30-an kilometer.

Ide itu juga terilhami dari perkataan Sunan Kalijaga, bahwa bumi Mataram akan subur dan rakyatnya sejahtera jika Sungai Progo dan Sungai Opak bisa saling terhubung.

source:
Selokan Mataram
Sejarah Dibangunnya Selokan Mataram Jogja
Selokan Mataram yang Menyelamatkan Yogyakarta

Tidak Ada Pemimpin Besar yang Tidak Lahir dari Penderitaan

eQavccDpVT

Setiap calon pemimpin besar, pasti pernah merasakan penderitaan. Bahkan itu adalah bagian dari kesehariannya, bagaikan kawah candradimuka yang menggembleng mereka… menjadi sosok2 pahlawan.

Sering kita dengar pemimpin-pemimpin besar yang dipenjara, dikucilkan, diasingkan, karena mereka benar-benar memperjuangkan idealismenya & memikirkan penderitaan rakyat.

Mulai dari Nabi Muhammad SAW, sampai di tingkat nasional… Bung Karno dan Bung Hatta yang mengalami pembuangan di berbagai pelosok Indonesia dan merasakan dinginnya penjara.

Tapi mereka menjalani itu semua dengan kesabaran, keteguhan & pasrah pada Ilahi. Anehnya, sekalipun dipenjara… perhatian mereka tidak luput dari perjuangan yang mereka rintis. Meski ditahan di Sukamiskin, Bung Karno masih mencari kabar dan memantau perkembangan PNI yang dipimpinnya.

14058919

Kali ini saya ingin mengutip sebuah kisah haru dari penahanan Bung Hamka, tokoh ulama besar, yang dibui… atas fitnah yang tidak berdasar:

Hamka dituduh terlibat dalam upaya pembunuhan Sukarno (tuduhan subversif). Dia dianggap ikut melakukan makar terhadap penguasa.

Sebagai orang Masjumi ia dianggap tentu anti Pancasila.

Dia kemudian ditahan dan menjalani hari-hari berat di dalam tahanan: Pemeriksaan nonstop disertai intimidasi psikis. Dalam surat rahasianya kepada Rusydi, Hamka berkisah, “Selama sebulan ayah diperiksa oleh satu team polisi dengan sorot lampu, dituding, dihina sejadi-jadinya,” tulis Rusydi mengutip keterangan ayahnya.

Hamka memang tak sempat mencicipi setrum pemeriksa, tapi tangannya kerap merasakan sundutan rokok. Pernah suatu kali setelah dibentak-bentak dia ditelanjangi hingga tinggal mengenakan kolor. Akibatnya, pada suatu pagi, ujar Hamka sebagaimana dimuat di buku Rusydi, dia sampai menangis ketika berdoa lantaran merasa tak pernah melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan.

Keadaan mulai berubah setelah Hamka membuat keterangan tertulis sesuai yang diinginkan pemeriksa. Keterangan palsu itu dibuat demi menghindari siksaan fisik. Hamka melakukannya setelah dibujuk Kolonel Nasuhi, perwira Siliwangi yang terlibat penggranatan kantor PKI pada 1957, yang juga ditahan di tempat sama.

Pada 24 Maret 1964 keadaannya mulai berubah. Tim pemeriksa mendapatkan kesimpulan sementara, semua tuduhan kepada Hamka hanyalah fitnah. Sumbernya berasal dari Hasan Suri, anggota Pemuda Rakyat di Ciganjur yang menyamar jadi anggota Gerakan Anggota Pembela Islam (GAPI) di mana Hamka disebut menjadi salah satu pengurus.

Kabarnya Hasan adalah orang yang pertama kali memberikan keterangan tentang rapat gelap di Tangerang. Pengakuan itu menimbulkan kecurigaan polisi setelah dikonfrontir kepada para tahanan lain. Selain itu, seperti tertulis dalam buku Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimejo, 75 Tahun, “Ternyata dia (Hasan Suri-Red) sengaja diperintahkan bermain sandiwara ikut ditahan untuk menjebak dan menyempurnakan fitnah terhadap pemimpin-pemimpin Islam.” Tak jelas siapa yang memerintah Hasan Suri untuk bermain sandiwara memfitnah Hamka.

hamka1

Akhirnya masa pembebasan Hamka tiba. Saat Sukarno mulai tumbang dan Soeharto merangkak naik ke puncak kekuasaan, Hamka keluar dari tahanan pada Mei 1966. Buah dari pemenjaraan itu bukan hanya pengalaman pahit melainkan pula berjilid buku tafsir Alquran yang dinamainya Tafsir Al Azhar.

————————

Berbahagialah bila Anda sekarang mengalami penderitaan/penggemblengan mental yang besar… sebab, siapa tahu Anda kelak adalah “calon pemimpin besar”. Insya Allah

source:
– Di Balik Jerajak Besi Penguasa. MF Mukthi. Majalah Historia Nomor 21 Tahun II 2015.

Bung Hatta

Bunh-Hatta-165x250

Bung Hatta

Bung Hatta dan Bung Karno adalah tokoh Dwitunggal, yang memiliki kepribadian yang bertolak belakang, meski sama-sama tokoh pergerakan.

Bung Hatta lebih ke pemikir, ketimbang orator seperti Bung Karno.

Meski begitu, mereka adalah kawan yang akrab. Sehingga menjelang ajalnya, saat sedang kritis… Bung Hatta menyempatkan diri menemui Bung Karno. Kedua sahabat lama mulai dari zaman pra kemerdekaan itu, saling menanyakan kabar sambil meneteskan air mata.

Bung Hatta setengah tidak tega melihat kondisi Bung Karno yang pada masa mudanya gagah. Namun di penghujung usianya… terbaring lemah, dan mendapat perlakuan yang tidak layak.

Meski sebelumnya mereka pernah pecah kongsi, karena Bung Hatta tidak setuju dengan Bung Karno yang ngotot, ingin menerapkan Demokrasi Terpimpin.

Haji Agus Salim: Tokoh Nasional Favoritku

image

Semua orang biasanya punya idola dan preferensi sendiri tentang tokoh nasional yg dikaguminya.

Yg suka dg wacana feminisme atau emansipasi wanita mungkin mengidolakan Kartini.

Yg suka dg tokoh yg disiplin, jujur dan tidak banyak bicara, mungkin mengidolakan Bung Hatta, dan seterusnya…

Dari sekian banyaknya tokoh nasional, tokoh yg menurutku karakternya keren banget itu… Haji Agus Salim!

Yg aku kagumi dr beliau adalah “kegeniusannya” dl berdiplomasi, kritis, pandai berdebat dan bermain kata2, hingga bisa membawa derajat bangsa Indonesia dihormati di kancah dunia.

Mungkin beliau memiliki kecerdasan verbal yg tinggi, hingga bagi beliau mudah belajar bahasa asing secara otodidak. Beliau adalah polyglot, yg menguasai 9 bahasa.

Selain diplomat, founding father ini juga adalah ulama dan intelek. Yg merupakan dua serangkai dg H.O.S Cokroaminoto di Sarekat Islam (SI).

Yg lucu, sebenernya Agus Salim itu kenal Cokroaminoto bermula dr ditugaskannya ia untuk memata-matai gerakan SI. Yg akhirnya ia malah merasa cocok dg Cokroaminoto, trus ia pun membelot dr kumpeni dan bergabung dengan SI.

Sejauh ini, menurutku buku yg paling lengkap ttg beliau adalah “Seratus Tahun Haji Agus Salim”.

image

my favorite book

Buku ini dibuat untuk memperingati seratus tahun kelahiran Haji Agus Salim.

Buku ini buku langka, yg aku cari2… krn buku lamaku hilang, dan aku sudah coba beli di toko buku bekas online, tp sudah habis. 😥

Beliau adalah tokoh yg sedikit nyentrik. Byk anekdot lucu ttg beliau, krn selain cerdas beliau juga humoris.

Bung Karno yg kagum dg kecerdasan Haji Agus Salim menjuluki beliau “The Grand Old Man”.

image

Ada kisah lucu ttg perdebatan Bung Karno dg Haji Agus Salim:

Haji Agus Salim mendukung poligami krn sesuai syari’at Islam, sementara Bung Karno menentang poligami krn dianggapnya merendahkan wanita.

Namun akhirnya malah Bung Karno yg berpoligami, sementara Haji Agus Salim ttp setia dg satu istri.

HABIBIE: Kecil tapi Otak Semua #3

Habibie

Sekarang lagi suka baca tentang biografi Habibie. Menurutku sosok muslim sejati yang prestatif dan patut dijadikan role model di era modern ini,… ya beliau! Beliau tidak banyak mengumbar dalil atau sibuk berdebat tentang Islam yang teoritis. Dari kisah hidup beliau saya jadi mendapatkan figur yang bisa dicontoh tentang bagaimana menjadi seorang muslim yang baik. Yaitu, tidak banyak bicara tapi banyak berkarya, bekerja, menuntut ilmu dan memberikan kontribusi nyata dan positif bagi umat manusia, di bidang yang kita tekuni.

What can we contribute? Bukan apa yang bisa kita buat ribut…

Bung Karno pernah bertemu dengan Pak Habibie saat ia masih mahasiswa, lho… Saat itu Presiden Soekarno sedang mengadakan kunjungan ke Jerman, dan Habibie beserta teman-temannya sesama mahasiswa Indonesia mendengarkan pidatonya. Bung Karno lalu memegang kepala Habibie dan teman-temannya, memberikan semangat dan berkata, “Kamu adalah harapan masa depan Indonesia.” Sehingga Habibie merasa ada kontak pribadi dengan Bung Karno, dan tentu menambah semangatnya belajar, mengembangkan diri, dan memberikan sumbangsih bagi bangsanya.

Habibie mengenang Bung Karno sebagai insiator agar para pelajar SMA berbondong-bondong disekolahkan ke luar negeri. Saat itu tidak ada UI dan ITB, Bung Karno memandang pentingnya penguasaan teknologi yang berwawasan nasional. Dan Habibie adalah rombongan kedua di antara ratusan pelajar yang secara khusus dikirim ke berbagai negara.

Habibie adalah orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus orang yang percaya pada agama. Ia mempelajari agama hanya untuk diri sendiri, untuk ketenangan pribadi, bukan untuk berdakwah.

Dalam buku ini juga terungkap satu prinsip Habibie yang juga sesuai dengan prinsipku. Saat mahasiswa ia diajak kawannya untuk terlibat dalam ormas politik. Tapi Habibie kukuh pada pendiriannya sebagai mahasiswa yang tidak ingin terlibat politik. Dan di kemudian hari ormas itu menjadi organisasi terlarang di Indonesia.

Habibie orang yang suka menolong siapa saja, baik itu kawan maupun orang yang pernah menjadi lawan politiknya. Ia selalu tidak tenteram jika masih ada orang yang susah padahal ia pernah menghabiskan hidup bersama-sama mereka, baik sahabat maupun mantan lawan poltiknya.

Salah satu ciri orang besar, adalah tidak memperdulikan beredarnya berita-berita negatif di media yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Bila ditanggapi satu-satu hanya akan membuang energi dan kontraproduktif. Ia baru bereaksi cepat dan keras jika berita ‘miring’ itu sudah dianggapnya keterlaluan.

Dalam buku ini kita bisa tahu pendapat dan pikiran-pikiran Habibie mengenai berbagai topik, tentang musyawarah dan voting, hubungan Pancasila dengan orang Batak, toleransi dalam Islam dan lain-lain. Harus baca sendiri deh buku ini agar tahu lengkapnya…!

AINUN HABIBIE: Kesetiaan Seorang Istri

Ainun Habibie

Dari buku ini kita bisa mengenal secara singkat sosok Bu Ainun. Tapi Bu Ainun ini terkesan low profile banget, ya…? Beliau susah untuk diwawancarai dan digali kepribadiannya, sehingga info mengenai beliau amat terbatas. Mungkin hanya Pak Habibie seorang yang bisa paham luar dalam sosok Bu Ainun. Beliau memang lebih memilih prinsip “The Big You and The Small I”.

“Ibu Ainun itu imtak dan saya iptek,” kata Pak Habibie. Bu Ainun merupakan seorang istri yang religius. Ia senantiasa mendampingi suaminya saat bekerja di rumah pada malam hari dengan lantunan ayat suci, hingga setiap bulan ia bisa khatam satu kali. Ia juga aktif memprakarsai pengajian rutin untuk ibu-ibu di Patra Kuningan.

Memang demikian sejatinya sosok istri yang tepat, yakni men-support pendidikan dan karier suaminya. Kesuksesan suaminya adalah kesuksesannya jua sebagai seorang istri.

Beliau mengalami pergolakan batin, ketika anaknya sakit dan harus dirawat orang lain, sementara ia bekerja sebagai dokter anak dan merawat anak orang lain di rumah sakit.

Peristiwa ini membuat beliau tidak berambisi mengejar karier, walaupun sebenarnya bisa. Beliau melihat lebih bermanfaat bila ia bisa merawat, mendidik dan membentuk pribadi anaknya di rumah.

“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?”

Banyak kisah kebalikan dari kisah bu Ainun ini di kalangan selebriti. Di mana istri yang mengejar karier di dunia keartisan dan tidak fokus lagi sebagai ibu rumah tangga, berakibat rumah tangga yang hancur, bercerai dan anak-anak terbengkalai. Maka keikhlasan Bu Ainun untuk berperan di belakang layar patut dijadikan introspeksi bagi wanita saat ini. Keberhasilan seorang istri adalah saat suami bisa sukses dalam kariernya dan anak-anak ‘mentas’ baik pendidikan, karier, dan pribadinya.

Bu Ainun ini adalah figur yang merupakan sosok wanita Indonesia sejati. Sekalipun tinggi pendidikannya, beliau tetap sadar akan kodrat dan tanggung jawabnya sebagai perempuan, istri dan ibu. Ia paham prioritas, apa yang harus dipilih.

————————

Buku ini bagus sih…, tapi aku agak terganggu dengan cerita yang diulang-ulang di beberapa bagian.

AYAH…: Kisah Buya Hamka

buya hamka

Buku ini sebenernya memoar anak Buya Hamka, Irfan Hamka, tentang kenangannya selama hidup dengan sang ayah. Saya kurang tertarik dengan kisah-kisah pengalaman pribadi penulis, jadi saya membacanya langsung ke bagian-bagian yang berkaitan dengan Buya Hamka.

Di awal buku ini diceritakan mengenai cara Buya memberi solusi terhadap masalah rumah tangga, dengan bijak Buya menasihati sang istri agar membolehkan poligami daripada meminta cerai dari suami, dengan alasan yang syar’i. Wow…, cukup kontroversial! Jarang ada zaman sekarang, ulama yang justru menyarankan agar si istri merelakan suaminya poligami. Tapi pertimbangan Buya memang bijak, dikarenakan sang istri yang tidak bisa mengimbangi hasrat suami, sementara suaminya adalah lelaki yang beriman dan rajin beribadah, dan takut berbuat dosa untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Buya mampu memberikan solusi yang bijak dan nasihat dengan argumen yang mudah dipahami masyarakat.

Selain sebagai ulama dan sastrawan, Buya ternyata adalah pendekar silat. Ia mahir silek. Dari beberapa buku lain yang saya baca, silek adalah salah satu budaya Minang yang dilestarikan turun-menurun dalam masyarakatnya. Kata Buya, orang yang disebut Pendekar adalah orang yang memiliki akal yang pandai dan cerdas. Sebutan pendekar di Minang, berarti “pandai akal”.

Sejarah menyakitkan yang saya baca adalah saat Buya difitnah oleh PKI dengan tuduhan merencanakan pembunuhan pada Presiden Soekarno dan dipenjara selama 2 tahun 4 bulan, tanpa proses pengadilan. Sebuah tuduhan yang mengada-ada dan tak masuk akal… bila ditujukan pada seorang alim ulama, yang hidupnya tidak ditujukan untuk kekuasaan duniawi!

Dinginnya penjara tidak dapat menumpulkan kreativitasnya. Selama masa tahanan itu, beliau menghasilkan karya monumental Tafsir Al-Azhar. Memang banyak tokoh-tokoh yang justru menghasilkan karya tulis ketika mendekam dalam bui, biasanya mereka dipenjara karena tekanan penguasa.

Saya sebagai pengagum Bung Karno, merasa sedikit kecewa terhadap beliau atas keputusan yang satu ini. Menurutku beliau harusnya memperlakukan ulama dengan penuh penghormatan, bukannya malah dipenjara atas hasutan dan fitnah PKI. Mungkin saat itu Bung Karno memang sedang mesra-mesranya dengan paham komunis.

Buya Hamka dibebaskan pada saat rezim Soekarno runtuh, dan digantikan oleh Presiden Soeharto. Buya Hamka persis akan disiksa ketika Gestapu/Kudeta 1 Oktober 1965 terjadi. Ia diselamatkan oleh kudeta tersebut. Saat baru diangkat menjadi presiden, Presiden Soeharto malah memberinya hadiah pergi haji bersama istri dan anak.

Mungkin Bung Karno lengser salah satunya karena ‘kualat’ pada ulama. Saya lebih suka dengan perlakuan Presiden Soeharto yang bisa menempatkan seorang ulama sesuai dengan kehormatannya.

Buya Hamka dan Bung Karno rupanya pernah bertemu saat masa muda. Dalam buku ini ada foto mereka bersama di Bengkulu pada tahun 1941, bersama H. Abdul Karim Oei.

buya

Buya Hamka, H. Abdul Karim Oei, Bung Karno

Soekarno, Moh. Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer adalah tiga tokoh yang pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Namun Buya Hamka tidak menyimpan dendam dan memaafkan kesalahan mereka.

Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana tanggapan Buya Hamka atas rencana Gubernur DKI, Ali Sadikin untuk melegalkan perjudian dan lokalisasi tempat pelacuran.

Buya Hamka gemar merantau sejak kecil untuk menimba ilmu dan pengalaman. Pada umur 15 tahun beliau merantau ke Jawa, tepatnya Kota Yogyakarta dan Pekalongan. Di sana ia belajar dari tokoh-tokoh besar seperti HOS Tjokroaminoto, A.R. Fachruddin dan tertarik pada misi Muhammadiyah.

Buya Hamka tidak berkesempatan belajar secara tuntas di institusi pendidikan, sehingga ia tidak memiliki diploma atau ijazah. Hal itu menyulitkannya untuk menjadi guru di sekolah Muhammadiyah, yang turut didirikan oleh ayahnya. Kemudian ia bertekad mengembara lagi ke Mekkah untuk menimba ilmu agama sambil melancarkan kemampuan bahasa Arab.

Di Mekkah ia bekerja sebagai pegawai percetakan. Ada berbagai buku agama di gudang percetakan, yang dibacanya pada waktu istirahat kerja. Ketika bertemu Haji Agus Salim, ia disarankan agar kembali ke tanah air.

Pendidikan Buya Hamka terbengkalai karena orang tuanya bercerai saat ia masih kecil. Meski demikian, ia telah bertekad menjadi manusia berguna sehingga ia banyak membaca untuk membuka wawasannya dan mengejar ketertinggalan di bidang akademik. Buku yang ia konsumsi pada saat ia kecil adalah buku-buku berat, buku-buku pemikiran yang jarang dibaca anak-anak seusianya.

Buya Hamka adalah seorang ulama besar yang belajar secara otodidak, baik melalui buku maupun dari tokoh-tokoh besar.

HABIBIE: Kecil tapi Otak Semua #1

Habibie

“Hanya Allah Swt dan hati nurani saya yang melekat pada diri saya, kawan setia saya.”
– B.J. Habibie

Dalam buku ini kita dapat mengenal lebih dekat pribadi B.J. Habibie, melalui berbagai kisah yang dituturkan orang-orang yang mengenalnya. Kisah-kisahnya banyak yang menyegarkan dan mengundang tawa.

Sejak kecil Habibie lebih suka berkutat dengan buku-buku ketimbang bermain dengan anak lain di luar rumah. Satu hal yang mirip dengan masa kecilku, menurut kesaksian tetangga.

Beda dengan kebanyakan teknokrat yang biasanya berwatak serius, dalam buku ini digambarkan bahwa Habibie adalah sosok yang ceria, suka menghibur teman-temannya dengan bernyanyi maupun melakukan aksi panggung saat ada acara istimewa. Ia juga adalah sosok teknokrat yang humanis, yang akrab dengan siapa saja dan bisa mencairkan suasana.

Yang sering luput dari perhatian kita adalah arti nama Habibie. Bacharuddin Jusuf Habibie. Dalam bahasa Arab bachar berarti lautan, dan dien berarti agama. Jadi arti namanya adalah “lautan agama”.

Saat ia menunaikan ibadah haji, ia diperlakukan dengan terhormat oleh pihak kerajaan Arab Saudi, karena bagi mereka ia adalah tokoh umat Islam.

Konsep ibadah, seperti shalat dan haji bagi Habibie adalah untuk men-charge battery. Shalat adalah tempatnya untuk menemukan ketenangan, membersihkan pikiran, dan secara biologis sujud mengalirkan darah ke kepala sehingga otak mendapatkan aliran darah dan setelah shalat ia merasa fresh. Menurut Habibie isi baterai yang paling besar adalah pada bulan Ramadhan.

Sebuah kisah tentang pendirian ICMI, turut memperkaya wawasan saya. Ternyata inisiatornya adalah mahasiswa-mahasiswa Universitas Brawijaya Malang.

Saya kurang begitu suka membaca bagian kedua “Kebijakan dan Gagasan” karena bahasan yang serius dan membuat dahi berkerut, jadi bagian tersebut saya baca secara skip saja.

Dalam bagian ini kita dapat mengetahui latar belakang pemikiran dari kebijakan-kebijakan yang diambil Habibie, salah satunya tentang pengembangan Pulau Batam. Pulau Batam di tangan Habibie diubah dari pulau sepi dan terbelakang, menjadi daerah industri yang menarik banyak investor. Pulau Batam yang memiliki letak strategis dan dekat Singapura, amat menggiurkan bagi para pencari penghidupan. Akan tetapi oleh Habibie tidak sembarangan orang diperkenankan menetap di sana, selain penduduk lokal hanya pendatang yang memiliki kompetensi yang bisa menjadi penduduk Batam. Ia tak ingin Pulau Batam hanya diolah menjadi kebun sayur.

Selain sebagai ilmuwan, Habibie adalah juga penikmat seni, yang menyukai opera, lukisan, musik klasik dan puisi.

Habibie masuk dunia politik tanpa ambisi, ia adalah orang baik dan jujur, yang menganggap politik hanyalah kesempatan untuk mengabdi pada bangsanya.

“Semua yang duniawi tidak ada yang menguntungkan bagi saya.”

“Manusia tidak hanya hidup untuk makan dan pakaian, tetapi juga dengan kepuasan. Bukan (kepuasan) secara material, tetapi secara jiwa: mendapat kesempatan ikut membantu mengisi kemerdekaan. Ini sama dengan perjuangan yang saya laksanakan sejak muda.”

Harus baca deh buku ini, kisah-kisahnya menarik dan inspirasional.

GUS DUR VAN JOMBANG: Pendekatan Komikal atas Biografi Gus Dur

Seperti biasa aku hunting buku dan ngecek dulu isi buku ini di Google Books. Kirain buku ini buku ga serius, or buku biografi untuk anak-anak, ternyata isinya bernas. Jadi tahu dan paham sejarah kehidupan Gus Dur secara garis besar. Selama ini males banget klo harus baca buku biografinya yang cenderung serius, rinci dan politis.

Buku ini membantu kita memahami sifat Gus Dur yang ‘beda’. Ia cenderung menginginkan perdamaian bagi umat. Dia adalah tokoh pelopor yang kritis dan berani menentang kekuasaan Orde Baru. Tapi karena akalnya yang cerdik dan sifatnya luwes, ia selalu berhasil lolos dari ancaman penguasa Orde Baru.

Banyak orang yang mengolok-olok Gus Dur karena tidak mengerti, ia sebenarnya adalah seorang yang jenial. Terkadang kita dan banyak orang di Indonesia tidak mampu menjangkau level pemikiran beliau. Jadilah ia membahasakan kebijakannya dengan bahasa yang mudah ditangkap umum.

Dulu, maklum masih anak muda -belum kenal sosok Gus Dur- aku cuma tahu dari berita-berita wartawan saat itu. Semenjak membaca buku Melawan Melalui Lelucon: Kumpulan Kolom Abdurrahman Wahid Di Tempo aku jadi terkaget-kaget dengan pemikiran-pemikirannya yang kritis dan luasnya wawasan beliau.

Begitu mengetahui adanya buku Gus Dur van Jombang, dan tertarik setelah membaca di Google Books, aku langsung memesan buku itu di bukukita.com (toko buku online langganan). Buku itu terbitan 2010, semoga masih ada. Alhamdulillah, kru bukukita.com bisa memperolehnya. Untuk menyelesaikan buku itu cuma butuh waktu sebentar, karena ceritanya menarik.

Gus Dur adalah penuntut ilmu sejati, penikmat film dan penggemar bola. Hobiku yang sama dengan beliau adalah ‘hobi baca’.

Yang aku perhatikan, dalam hidup beliau banyak anggota keluarganya yang mengalami kecelakaan. Ayah, ibu beliau, istri dan beliau sendiri. Gus Dur pun harus menjadi anak yatim, ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ibunya meninggal, istrinya menjadi cacat dan Gus Dur sendiri mengalami gangguan penglihatan karena kecelakaan.