Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz

Klo dalam cerita dongeng Barat ada kisah-kisah seperti “Gadis Penjual Korek Api”, “Cinderella” dsb… yang merupakan kisah fiksi/rekaan.

Maka dalam sejarah Islam ada kisah nyata,, yang benar-benar terjadi, mengundang decak kagum dan mengubah jalan sejarah, yakni ttg “Gadis Penjual Susu”.

Umar bin Khattab saat sedang menjabat sebagai Amirul Mukminin atau Khalifah umat Islam, sering melakukan gerakan “turba” -istilah jaman Pak Harto utk ‘turun ke bawah’- atau incognito, yakni inspeksi di malam hari untuk mengetahui kondisi rakyat yang dipimpinnya.

Tidak sengaja suatu malam, ia mendengar percakapan seorang ibu dengan anak gadisnya di sebuah rumah.

Mereka adalah penjual susu, dan sang ibu memerintahkan anaknya untuk berbuat curang: menambahkan air pada susu yang mereka jual agar keuntungan menjadi berlipat.

Kata ibu, “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”.

Anaknya menjawab, “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini.”

Si ibu masih mendesak, “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu.”

Balas si anak, “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu.”

Umar bin Khattab terharu melihat kejujuran gadis itu. Ia menyuruh pengawalnya menandai pintu rumah tersebut.

Keesokan harinya, Umar memanggil anaknya Ashim dan menyuruhnya menikah dengan gadis tersebut.

Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.

Dari perkawinan tersebut lahirlah anak perempuan bernama Laila sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul Aziz.

Jadi Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Umar bin Khattab.

Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu khalifah besar umat Islam, yang di masa pemerintahannya terjadi pemerataan kemakmuran. Hingga tidak ada lagi orang yang pantas menerima zakat.

Ia mewarisi sifat Umar bin Khattab yang memimpin dengan tegas dan adil. Ia juga terkenal zuhud.

Ia mengembalikan pemerintahan seperti zaman Khulafaur Rasyidin, oleh karena itu ia juga dijuluki sebagai Khulafaur Rasyidin ke-5.

source:
Umar bin Abdul-Aziz

BioGraphic Novel: Dalai Lama ke-14

Dalai Lama

Sudah lama dengar ttg Dalai Lama dan perjuangannya membebaskan Tibet dari jajahan Cina. Karena aku ga suka baca berita2 politik atau baca biografi tokoh yg tebal dan serius, jd aku emg ngincer bgt buku biografi dalam bentuk novel grafis/komik ini.

Dalam buku ini diceritakan kisah Dalai Lama semenjak ia kecil. Saat itu Dalai Lama ke-13 sdh wafat, dan dicarilah sosok penggantinya yg sesuai dg ciri2 dalam ramalan.

FYI Dalai Lama yg hidup di masa ini adalah Dalai Lama ke-14.

Setelah ditemukan, dibawalah Kundun (nama kecil Dalai Lama ke-14) ke pusat pemerintahan Tibet, Lhasa. Untuk diberi pendidikan dasar dan kemudian dinobatkan sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin spiritual tertinggi di Tibet, yg bergelar “Dalai Lama”.

Agama resmi Tibet adalah Buddha, yg mengatur semua sendi kehidupan mereka termasuk di pemerintahan.

Selama Dalai Lama belum cukup umur utk memimpin pemerintahan, ia diwakili oleh seorang wali, yg juga bertindak sebagai gurunya.

Ternyata dalam pemerintahan Tibet juga sempat terjadi perebutkan kekuasaan oleh mantan rahib yg pernah menjadi wali dan guru Dalai Lama.

Semenjak proklamasi Republik Rakyat Cina yg menganut komunisme, Tibet terus-menerus berusaha mereka kuasai. Bahkan melalui diplomasi yg penuh tipuan dan jebakan.

Dalai Lama berusaha mencegah invasi Cina dg militer maupun diplomasi ke negara-negara asing. Namun gagal…

Setelah berhasil menjadikan Tibet salah satu provinsinya melalui perjanjian diplomatik yg sebenarnya palsu, Cina membuat peraturan2 yg merugikan budaya dan agama rakyat Tibet. Cina berusaha mengikis identitas dan tradisi spiritual penduduk Tibet, agar semangat nasionalisme mereka meredup dan hilang.

Pertemuan Dalai Lama dg pemimpin komunis Cina, Mao Zedong, pun sempat diperalat sebagai propaganda untuk mengubah citra negatif Cina di mata dunia, dan menunjukkan bahwa mereka bukan penjajah.

Padahal sebenarnya kepergian Dalai Lama itu ditentang warga Tibet.

Bagi Mao Zedong, agama adalah candu yg membuat manusia lalai mencapai kemajuan materi. Hal itu tentu bertentangan dg prinsip hidup warga Tibet yg religius.

Dalai Lama mengakui kemajuan Cina dalam pertumbuhan ekonomi, namun menyayangkan Cina yg semakin jauh dari kekayaan spiritual.

Pernah juga dibuat sebuah konspirasi, di mana Dalai Lama hendak dijadikan target pembunuhan. Beliau diundang datang ke sebuah perayaan, tp dengan syarat membawa pengawal yg terbatas dan dengan diam-diam, tanpa pengumuman ke masyarakat luas. Namun rakyat rupanya tahu, dan menentang kepergian Dalai Lama itu, dengan berdemonstrasi di depan istana Norbulingka. Mereka khawatir akan keselamatan pemimpinnya.

Dalai Lama khawatir konsentrasi masyarakat di depan istana, bisa memancing aksi para tentara Cina yg menganggapnya sebagai gangguan keamanan.

Dan mmg tentara Cina sedang menyusun strategi utk menyerang istana, bahkan Dalai Lama diminta menunjukkan posisinya di istana utk bs mereka amankan dr serangan.

Setelah melalui perundingan internal istana, diputuskan Dalai Lama mengungsi ke India yg memberikan suaka pada warga Tibet. Agar konsentrasi rakyat bubar, dan tidak diserang tentara Cina. Dalai Lama diungsikan diam-diam, dan baru akan diumumkan bila sudah tiba di tujuan.

Namun sayangnya, tentara Cina sudah menyerang istana. Ribuan warga tewas diberondong peluru, dan kemungkinan besar Dalai Lama jg dijadikan target. Buktinya, ia diminta menunjukkan posisinya…

Padahal dg adanya kerusuhan massa itu bisa dijadikan alasan tepat utk terbunuhnya Dalai Lama. *krn tdk sengaja tertembak, dan sebagainya…

Untung Dalai Lama sudah mengungsi!

Kemudian berbondong-bondong sebagian warga Tibet ikut mengungsi. Mereka membangun komunitas Tibet di daerah pengungsian, yg kemudian berkembang menjadi kota bernama Dharamsala. Kota tersebut menjadi daerah yg unik, karena berada di wilayah India namun bernuansa Tibet.

Dalai Lama terus berusaha meningkatkan dukungan atas kemerdekaan melalui jalur diplomasi ke negara-negara asing. Ia terinspirasi Mahatma Gandhi, untuk melawan tanpa kekerasan.

Ia kemudian mendapat nobel perdamaian atas ketokohannya.

Penulis buku ini mengharapkan warga Tibet untuk tetap mengikuti Dalai Lama, yang berjuang membebaskan Tibet dengan ajaran antikekerasan.

————————

Aku suka buku ini karena disertai dengan foto-foto real kejadian yg dialami Dalai Lama, misal saat bertemu Mao Zedong, saat terjadi unjuk rasa di depan istana *yg ternyata byk sekali pesertanya!, saat Dalai Lama mengungsi ke India, dan lainnya.

Pilihlah Pemimpin dari Kinerja/Kerja Nyata

joko-widodo-dan-basuki-tjahaya-purnama-mengapit-prabowo_663_382

Prabowo adalah tokoh di balik duet Jokowi-Ahok saat Pilkada DKI.

Bahkan yg menarik dan mendanai Jokowi utk menjadi gubernur di Jakarta itu Prabowo…, karna ia anggap Jokowi pemimpin muda berprestasi di Solo.

Byk jasanya…, walau ia blm jadi presiden. Ridwan Kamil di Bandung dan Bima Arya di Bogor.

Keliatan bener perubahan yg dihasilkan, dr pemetaan kepemimpinan daerah yg dilakukan Gerindra.

Meski pemuda yg ia tarik, bukan dari partainya… krn berprestasi ia usahakan jd pemimpin. Misalnya Jokowi dari PDIP, atau Ahok dari Golkar, dan Bima Arya dari PAN.

*Saya dari dulu suka sosok Bima Arya, krn sering liat dia jadi narasumber di MetroTV.*

Jokowi dan Ahok dulu yg ngangkat ke DKI, atas inisiatif Prabowo. Yg memang mencari pemimpin2 muda terbaik… Jokowi besar krn jasa Prabowo Subianto.

Siapa otak di balik pencalonan Jokowi, sehingga ia menjadi tenar dan dikenal?
Siapa yg berjasa?

Yg patut dilihat, adalah yg menjadi “otak” dalam menempatkan pemimpin2 muda berprestasi sebagai pemimpin2 baru.

“OTAK”-nya itulah yg lebih besar daripada pemuda2 yg ia petakan itu.

Siapa yg mengatur strategi, agar pemimpin2 muda yg progresif ini, bisa naik ke posisi yg memudahkan mereka melakukan perubahan yg masif? Sehingga kursi kepemimpinan tidak lg dipegang birokrat2 yg kaku dan konservatif.

Bayangkan, belum mjd presiden saja, ia sudah berusaha melakukan perubahan.
Dan terlihat jelas, kan? perbedaan dan perubahan yg ia hasilkan, dg menempatkan pemuda terbaik di posisi yg tepat. Pemuda yg ia pilih sendiri. Spt di Bandung.

Apalagi dia jadi Presiden…, bayangkan perubahan yg bisa ia hasilkan?

Menurut saya itu bukan ambisi. tapi hya sarana yg memudahkannya untuk lbh banyak melakukan perubahan berarti…, yg sudah ia rencanakan dan persiapkan dg matang bertahun2.

Saya yakin ia tidak hanya berambisi menjadi presiden demi hegemoni pribadi. Tapi ia mmg sudah mempersiapkan diri dg baik, krn mungkin gemas dg ketertinggalan bangsa dan negaranya dari bangsa lain.

Saya kira, ia tidak hya menghambur2kan uang dg beriklan selama bertahun2.
Itu hanya sarana, krn ia memang telah dan terus melakukan perubahan. Walau ia tidak menjabat sbg presiden. Itulah karakter perubah sejati.

Kecuali, kalau ia cuma menunggu… Lalu setiap 5 tahun sekali, nongol utk minta dipilih jadi presiden. Selama ini tetap melakukan perubahan, spt menempatkan pemuda2 hebat mjd pemimpin di berbagai daerah, kendati ia belum menjabat sebagai presiden.

Meritokrasi sebagai antitesa Demokrasi; dengan Musyawarah Mufakat

Datuk Ninik mamak

rapat ninik mamak

Sistem demokrasi ala Barat, di mana rakyat yg diminta memilih. Dg kuantitas jumlah pemilih yg jd ukuran, bukannya kualitas pemilih… akan terus menimbulkan masalah.

Krn setiap calon akan berusaha memanipulasi pencitraan melalui kampanye dan iklan2/poster2 politik. Menyebarkan sembako dan politik uang untuk menarik simpati masyarakat.

Begitu seterusnya, shg tokoh2 pemimpin yg lahir dr sistem spt ini, blm tentu adalah tokoh yg terbaik.

Krn pukul rata latar belakang pendidikan pemilih. Yg terpelajar mgkn tidak akan tertipu money politic atau pencitraan. Tp masyarakat yg msh lugu, amat mudah dikendalikan oleh politik uang dl memilih.

Shg tjd lingkaran setan, untuk berkampanye agar terpilih, modal utamanya adalah uang.

Selalu hrs berduit atau pya sponsor utk mjd pemimpin. Di mana sponsor itu pasti pya kepentingan.

Keluar uang banyak, lalu saat menjabat korupsi. Dan yg kalah, rugi banyak krn dana kampanye yg besar.

Shg kadang2 kompetensi dan track record calon pemimpin itu tdk jelas, tp krn iklan yg masif… ia jd menang. Tokoh politik tak ubahnya selebriti pd saat ini. Bila iklannya byk dan terkenal, mk ia dianggap mampu dan pantas jd pemimpin.

#mengamati model pemilihan pemimpin, spt caleg/gubernur#

Model pemilihan pemimpin spt ini, memungkinkan pihak2 yg berkepentingan utk menggolkan pemimpin yg tidak kompeten, krn kemenangannya bisa direkayasa melalui pencitraan dan politik uang. Krn pemilihan diserahkan pd rakyat, yg dipukul rata tgkt kelayakannya dl memilih. Krn yg berpengaruh hya kuantitas pemilih, bukan kualitas pemilih.

Klo dl sejarah dulu, dl memilih pemimpin (perang/pemerintahan) atau khalifah setelahnya… Rasulullah menunjuk langsung org2 yg kompeten. Setelah Nabi tdk ada, melalui musyawarah di antara sahabat. Bukan diserahkan pada semua masyarakat untuk voting, tp musyawarah dewan tertinggi / para pemuka / tetua / pemimpin / org2 yg berilmu atau kompeten di antara mereka.

Sehingga pemilihan pemimpin tidak jatuh pada sembarang atau semua org, tp kita serahkan pd org2 yg kompeten, dan dipercaya di masyarakat. Spt yg tjd di masyarakat adat.

Sehingga bukan demokrasi, di mana pemegang suara terbanyak yg jd pemimpin.

Tp meritokrasi, yg kompeten yg mjd pemimpin dan memegang amanah.

Banyak dipilih, blm tentu bagus secara kualitas. Tp baru setaraf popularitas.

HABIBIE: Kecil tapi Otak Semua #3

Habibie

Sekarang lagi suka baca tentang biografi Habibie. Menurutku sosok muslim sejati yang prestatif dan patut dijadikan role model di era modern ini,… ya beliau! Beliau tidak banyak mengumbar dalil atau sibuk berdebat tentang Islam yang teoritis. Dari kisah hidup beliau saya jadi mendapatkan figur yang bisa dicontoh tentang bagaimana menjadi seorang muslim yang baik. Yaitu, tidak banyak bicara tapi banyak berkarya, bekerja, menuntut ilmu dan memberikan kontribusi nyata dan positif bagi umat manusia, di bidang yang kita tekuni.

What can we contribute? Bukan apa yang bisa kita buat ribut…

Bung Karno pernah bertemu dengan Pak Habibie saat ia masih mahasiswa, lho… Saat itu Presiden Soekarno sedang mengadakan kunjungan ke Jerman, dan Habibie beserta teman-temannya sesama mahasiswa Indonesia mendengarkan pidatonya. Bung Karno lalu memegang kepala Habibie dan teman-temannya, memberikan semangat dan berkata, “Kamu adalah harapan masa depan Indonesia.” Sehingga Habibie merasa ada kontak pribadi dengan Bung Karno, dan tentu menambah semangatnya belajar, mengembangkan diri, dan memberikan sumbangsih bagi bangsanya.

Habibie mengenang Bung Karno sebagai insiator agar para pelajar SMA berbondong-bondong disekolahkan ke luar negeri. Saat itu tidak ada UI dan ITB, Bung Karno memandang pentingnya penguasaan teknologi yang berwawasan nasional. Dan Habibie adalah rombongan kedua di antara ratusan pelajar yang secara khusus dikirim ke berbagai negara.

Habibie adalah orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus orang yang percaya pada agama. Ia mempelajari agama hanya untuk diri sendiri, untuk ketenangan pribadi, bukan untuk berdakwah.

Dalam buku ini juga terungkap satu prinsip Habibie yang juga sesuai dengan prinsipku. Saat mahasiswa ia diajak kawannya untuk terlibat dalam ormas politik. Tapi Habibie kukuh pada pendiriannya sebagai mahasiswa yang tidak ingin terlibat politik. Dan di kemudian hari ormas itu menjadi organisasi terlarang di Indonesia.

Habibie orang yang suka menolong siapa saja, baik itu kawan maupun orang yang pernah menjadi lawan politiknya. Ia selalu tidak tenteram jika masih ada orang yang susah padahal ia pernah menghabiskan hidup bersama-sama mereka, baik sahabat maupun mantan lawan poltiknya.

Salah satu ciri orang besar, adalah tidak memperdulikan beredarnya berita-berita negatif di media yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Bila ditanggapi satu-satu hanya akan membuang energi dan kontraproduktif. Ia baru bereaksi cepat dan keras jika berita ‘miring’ itu sudah dianggapnya keterlaluan.

Dalam buku ini kita bisa tahu pendapat dan pikiran-pikiran Habibie mengenai berbagai topik, tentang musyawarah dan voting, hubungan Pancasila dengan orang Batak, toleransi dalam Islam dan lain-lain. Harus baca sendiri deh buku ini agar tahu lengkapnya…!

AYAH…: Kisah Buya Hamka

buya hamka

Buku ini sebenernya memoar anak Buya Hamka, Irfan Hamka, tentang kenangannya selama hidup dengan sang ayah. Saya kurang tertarik dengan kisah-kisah pengalaman pribadi penulis, jadi saya membacanya langsung ke bagian-bagian yang berkaitan dengan Buya Hamka.

Di awal buku ini diceritakan mengenai cara Buya memberi solusi terhadap masalah rumah tangga, dengan bijak Buya menasihati sang istri agar membolehkan poligami daripada meminta cerai dari suami, dengan alasan yang syar’i. Wow…, cukup kontroversial! Jarang ada zaman sekarang, ulama yang justru menyarankan agar si istri merelakan suaminya poligami. Tapi pertimbangan Buya memang bijak, dikarenakan sang istri yang tidak bisa mengimbangi hasrat suami, sementara suaminya adalah lelaki yang beriman dan rajin beribadah, dan takut berbuat dosa untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Buya mampu memberikan solusi yang bijak dan nasihat dengan argumen yang mudah dipahami masyarakat.

Selain sebagai ulama dan sastrawan, Buya ternyata adalah pendekar silat. Ia mahir silek. Dari beberapa buku lain yang saya baca, silek adalah salah satu budaya Minang yang dilestarikan turun-menurun dalam masyarakatnya. Kata Buya, orang yang disebut Pendekar adalah orang yang memiliki akal yang pandai dan cerdas. Sebutan pendekar di Minang, berarti “pandai akal”.

Sejarah menyakitkan yang saya baca adalah saat Buya difitnah oleh PKI dengan tuduhan merencanakan pembunuhan pada Presiden Soekarno dan dipenjara selama 2 tahun 4 bulan, tanpa proses pengadilan. Sebuah tuduhan yang mengada-ada dan tak masuk akal… bila ditujukan pada seorang alim ulama, yang hidupnya tidak ditujukan untuk kekuasaan duniawi!

Dinginnya penjara tidak dapat menumpulkan kreativitasnya. Selama masa tahanan itu, beliau menghasilkan karya monumental Tafsir Al-Azhar. Memang banyak tokoh-tokoh yang justru menghasilkan karya tulis ketika mendekam dalam bui, biasanya mereka dipenjara karena tekanan penguasa.

Saya sebagai pengagum Bung Karno, merasa sedikit kecewa terhadap beliau atas keputusan yang satu ini. Menurutku beliau harusnya memperlakukan ulama dengan penuh penghormatan, bukannya malah dipenjara atas hasutan dan fitnah PKI. Mungkin saat itu Bung Karno memang sedang mesra-mesranya dengan paham komunis.

Buya Hamka dibebaskan pada saat rezim Soekarno runtuh, dan digantikan oleh Presiden Soeharto. Buya Hamka persis akan disiksa ketika Gestapu/Kudeta 1 Oktober 1965 terjadi. Ia diselamatkan oleh kudeta tersebut. Saat baru diangkat menjadi presiden, Presiden Soeharto malah memberinya hadiah pergi haji bersama istri dan anak.

Mungkin Bung Karno lengser salah satunya karena ‘kualat’ pada ulama. Saya lebih suka dengan perlakuan Presiden Soeharto yang bisa menempatkan seorang ulama sesuai dengan kehormatannya.

Buya Hamka dan Bung Karno rupanya pernah bertemu saat masa muda. Dalam buku ini ada foto mereka bersama di Bengkulu pada tahun 1941, bersama H. Abdul Karim Oei.

buya

Buya Hamka, H. Abdul Karim Oei, Bung Karno

Soekarno, Moh. Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer adalah tiga tokoh yang pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Namun Buya Hamka tidak menyimpan dendam dan memaafkan kesalahan mereka.

Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana tanggapan Buya Hamka atas rencana Gubernur DKI, Ali Sadikin untuk melegalkan perjudian dan lokalisasi tempat pelacuran.

Buya Hamka gemar merantau sejak kecil untuk menimba ilmu dan pengalaman. Pada umur 15 tahun beliau merantau ke Jawa, tepatnya Kota Yogyakarta dan Pekalongan. Di sana ia belajar dari tokoh-tokoh besar seperti HOS Tjokroaminoto, A.R. Fachruddin dan tertarik pada misi Muhammadiyah.

Buya Hamka tidak berkesempatan belajar secara tuntas di institusi pendidikan, sehingga ia tidak memiliki diploma atau ijazah. Hal itu menyulitkannya untuk menjadi guru di sekolah Muhammadiyah, yang turut didirikan oleh ayahnya. Kemudian ia bertekad mengembara lagi ke Mekkah untuk menimba ilmu agama sambil melancarkan kemampuan bahasa Arab.

Di Mekkah ia bekerja sebagai pegawai percetakan. Ada berbagai buku agama di gudang percetakan, yang dibacanya pada waktu istirahat kerja. Ketika bertemu Haji Agus Salim, ia disarankan agar kembali ke tanah air.

Pendidikan Buya Hamka terbengkalai karena orang tuanya bercerai saat ia masih kecil. Meski demikian, ia telah bertekad menjadi manusia berguna sehingga ia banyak membaca untuk membuka wawasannya dan mengejar ketertinggalan di bidang akademik. Buku yang ia konsumsi pada saat ia kecil adalah buku-buku berat, buku-buku pemikiran yang jarang dibaca anak-anak seusianya.

Buya Hamka adalah seorang ulama besar yang belajar secara otodidak, baik melalui buku maupun dari tokoh-tokoh besar.

INVICTUS: Menyatukan Bangsa Melalui Olahraga

Invictus

Biasanya aku ga terlalu suka film bertema olahraga, tapi film yang ini beda. This movie is beautifully made sport movie. Film ini epik. Kita dapat merasakan semangat kebangsaan Afrika Selatan di akhir film.

Nelson Mandela dibebaskan dari penjara setelah 27 tahun pada 1990. Politik apatheid runtuh dan Afrika Selatan berada pada ancaman perang sipil antara warga kulit putih dan kulit hitam. Nelson terpilih sebagai presiden dalam pemilihan umum multi-ras yang pertama.

Hal yang pertama ia lakukan adalah berusaha menyatukan kulit hitam dengan kulit putih. Di antara mereka sebelumnya saling mencurigai dan bermusuhan. Tim rugby Afrika Selatan, Springboks adalah kebanggaan kulit putih. Saat Springboks bertanding melawan bangsa mana pun, warga kulit hitam malah mendukung tim lawan, bukannya mendukung tim negeri sendiri.

Nelson merupakan pemimpin yang bijaksana, berhati lembut dan cinta damai. Ia tak ingin warga kulit putih dan kulit hitam saling membentuk kubu masing-masing, yang bisa memicu pertikaian. Ia ingin mereka bersatu dalam persamaan sebagai satu bangsa. He started the vision of a rainbow nation.

Afrika Selatan akan menjadi tuan rumah Rugby World Cup, sehingga bisa berkesempatan mengikuti pertandingan itu meski timnya tidak masuk ranking dunia. Nelson memandangnya sebagai manuver kemanusiaan yang bisa menyatukan bangsa dwi-warna kulit itu.

Nelson memperhatikan betul tim rugby dan memberi pesan khusus pada kepala tim, Francois Pienaar. Ia memberinya puisi yang memberinya kekuatan, Invictus, tak terkalahkan.

I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.
I am the master of my fate
I am the captain of my soul.

Francois dan tim diminta melakukan sosialisasi “One Team One Country” dengan melatih anak-anak kulit hitam. Mereka juga berkunjung ke bekas sel Nelson, di sana Francois menghayati kebesaran jiwa presiden baru mereka.

“I was thinking about how you spend 30 years in a tiny cell, and come out ready to forgive the people who put you there.”

Nelson adalah pemimpin yang besar, seperti Bung Karno ia menempa jiwanya dalam penjara. Ia tidak mengajak pendukungnya, untuk membalas dendam pada warga kulit putih. Masa transisi dari politik apartheid di Afrika Selatan dapat berlangsung damai dalam kepemimpinannya. Ia memang pantas memperoleh Nobel Perdamaian.

Nelson Mandela adalah penggemar kain kebanggaan Indonesia, batik. Ia berulang kali menggunakan pakaian batik dalam beberapa scene.

Rugby is a rough game. Olahraga yang berdarah-darah. I like this quote:

“Football is a gentleman’s game played by hooligans, on the other hand rugby is a hooligans’ game played by gentlemen.”

Orang kulit putih di Afrika Selatan memiliki bahasa sendiri yang unik.

Aku suka pencahayaan film ini, yang warnanya membuat kita serasa kembali ke tahun 90-an.

THE LADY: Story of a Brave Woman

“You may not think about politics. But politics thinks about you.”
– Aung San

Aung San Suu Kyi adalah putri jenderal Aung San, seorang pahlawan nasional Burma yang menjadi martir demi demokrasi di Burma.

Sebelumnya aku tidak begitu kenal dengan Aung San Suu Kyi, karena berita-berita politik hanya kuperhatikan sekilas. Film adalah sarana yang baik untuk membantuku mengenal tokoh-tokoh besar dan perjuangannya. She’s a living hero. Dia memperjuangkan kebebasan rakyatnya dari tekanan junta militer Burma.

Mirip dengan Gandhi, dia anti kekerasan.

Aung San Suu Kyi adalah istri seorang akademisi dan dosen, Michael Aris. Ia tinggal bersama keluarganya di Inggris dan adalah ibu rumah tangga biasa, sambil menulis esai mengenai ayahnya. Saat ibunya sakit, Suu kembali ke Burma untuk merawatnya. Saat itu ia menyaksikan sendiri tindak kekerasan junta militer Burma pada para mahasiswa yang melakukan demonstrasi.

Karena ia adalah putri seorang pahlawan nasional, rakyat menaruh harapan padanya untuk merubah situasi di Burma. Rakyat dilarang berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Junta militer bertindak otoriter dan menghalalkan kekerasan untuk menekan perjuangan Suu dan National League for Democracy yang dipimpinnya.

Sementara Suu dalam tahanan rumah, suaminya berusaha mencari dukungan dari dunia internasional. Tahun 1991, Suu memperoleh Nobel Perdamaian saat ia sendiri sedang dalam tahanan rumah. Akibat tekanan internasional pula, akhirnya Suu dibebaskan dari tahanan rumah.

Suaminya menderita kanker, dan Suu tidak dapat menemaninya pada saat-saat terakhir. Bila ia meninggalkan Burma, ia tidak akan diizinkan untuk memasuki negara itu lagi. Dan suaminya mendukungnya untuk terus mempertahankan apa yang telah mereka perjuangkan selama ini.

Biopik ini dikisahkan dari sudut pandang keluarga Aung San Suu Kyi. Di mana demi memperjuangkan kemerdekaan dan hak-hak rakyatnya dari tekanan junta militer, Suu terpaksa harus berpisah dari suami dan anak-anaknya.

For me, the hugs and kisses is too much. *repeating scenes* Penggambaran pihak militer terlalu karikatural. Pemimpin militer digambarkan mendasarkan kebijakannya pada dukun dan angka hoki. Tentaranya berperawakan kurus dan tingkah lakunya ugal-ugalan.

Aung San Suu Kyi adalah tokoh wanita yang pemberani. Ia berani menantang kokangan senjata para tentara. Dia memiliki kesadaran untuk memberikan dirinya secara total demi bangsanya. Ia bukan orang egois yang sudah hidup nyaman di luar negeri lantas ‘masa bodo’ dengan kondisi tanah airnya. Ia terpanggil untuk menolong rakyatnya, meski dengan resiko yang amat besar. Keberaniannya telah menginspirasi rakyat untuk melawan kediktatoran junta militer.

It’s a great movie.