SNOW WHITE AND THE SEVEN DWARFS: Rasa Iri yang Menjerumuskan

Snow White

*barusan nonton film klasik ini…

Kita semua tahu ya inti kisahnya. Ratu yang iri pada kecantikan anak tirinya, Snow White.

Mirror mirror on the wall. Who is the fairest one of all?

Sebenernya Ratu ini kan udah berkuasa di kerajaan, kenapa dia malah takut banget sama kecantikan Snow White? Padahal kan ga mengganggu kekuasaannya

Akhirnya karena terobsesi menjadi yang tercantik di kerajaan, ia menyuruh seorang pemburu untuk membawa Snow White ke hutan dan membunuhnya.

Sang pemburu tidak sampai hati membunuh sang putri, ia menyuruh Snow White pergi dan bersembunyi.

Snow White menemukan rumah kurcaci yang kotor dan berantakan. Ia lalu membersihkan rumah kurcaci itu. Para kurcaci senang melihat rumah mereka rapi… ia pun lantas diizinkan untuk tinggal di rumah mereka.

Snow White seperti ibu bagi para kurcaci. Ia telaten merawat mereka, membuat mereka mau mandi dan menyiapkan makanan buat mereka.

Ratu akhirnya mengetahui Snow White belum mati. Lalu ia berencana ‘menangani’ Snow White sendiri… Ia membuat ramuan yang mengubahnya menjadi sosok nenek tua yang baik hati dan menawarkan sebuah apel beracun pada Snow White.

Snow White yang polos… tertipu dg penampilan ratu yang sedang berpura-pura jadi orang baik ini. Ia pun terbujuk untuk mencicipi apel pemberian sang nenek tua.

Yang katanya dapat mengabulkan segala keinginan…, sementara Snow White ingin sekali bertemu pangeran impiannya.

Akibat ia terbujuk melakukan cara-cara instan untuk mencapai keinginannya, Snow White pun terpedaya.

Ratu tersebut mendapatkan yang ia inginkan, yakni tewasnya Snow White. Akan tetapi ia juga tidak dapat menikmati kemenangannya… karena dalam versi klasik ini, ratu akhirnya terperosok ke dalam jurang.

Ratu ini terkenal jahat, licik dan suka menggunakan black magic.

Di akhir kisah, Snow White mendapat keinginannya: Pangeran yang datang untuk membawa Snow White ke kastilnya.

————————

Film-film Disney selalu bertema sama: gadis yg baik hati versus wanita yg jahat, baik itu evil queen, step mom, step sister, witch… dll.

Mungkin untuk memberi optimisme pada anak-anak untuk setia pada nilai-nilai kebaikan, seberapa berat pun yg harus dihadapi.

Dan bahwa perjuangan mereka setia pada kebaikan akan selalu menghantarkan pada hasil yang baik pula.

ELLA ENCHANTED: Plesetan Cinderella

Ella Enchanted

“Nobody should be forced to do things they don’t want to do.”
– Ella of Frell

This one is my favorite! Kisah film ini diangkat dari buku berjudul sama: Ella Enchanted karya Gail Carson Levine yang merupakan plesetan atau interpretasi lain dari kisah Cinderella.

Sifat Cinderella yang seolah manut saja bila diperintah ibu tiri dan saudara tirinya, digambarkan dengan lebih rasional. Ibu peri Ella yang sembrono memberi ‘gift of obedience -yang lebih tepat disebut ‘curse’– agar ia patuh pada setiap perintah yang diberikan padanya.

Saudara tirinya Hattie mengetahui kelemahan Ella itu dan mempermainkan Ella dengan menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak ingin ia lakukan. Karena tidak tahan lagi, Ella bertekad menemui Lucinda -ibu perinya- agar mencabut ‘gift’ tersebut.

Dalam perjalanan Ella berjumpa dengan Pangeran Charmont  -plesetan dari Prince Charming- yang menyelamatkannya dari para ogre. Ella tidak menyetujui kebijakan-kebijakan baru Sir Edgar, paman Pangeran Charmont. Ia memegang kendali kerajaan setelah ayah Pangeran Charmont tewas. Ia mengeluarkan berbagai kebijakan yang tidak adil antara lain menyingkirkan elf, ogre dan raksasa ke hutan.

Para elf dipaksa hanya bekerja sebagai penghibur dan penyanyi, sementara Slannen –elf teman seperjalanan Ella- ingin berprofesi sebagai pengacara. Ella juga dibekali peri rumahnya, Mandy, dengan buku yang bisa berbicara bernama Benny. Benny serupa ensiklopedia berjalan yang bisa menunjukkan pada Ella berbagai informasi, peta dan menampilkan gambar mengenai keberadaan Lucinda.

Benny tak ubahnya iPad atau tablet pada masa ini.

Sir Edgar-lah yang sebenarnya membunuh ayah Pangeran Charmont. Ia pun memanfaatkan kelemahan Ella dengan memerintahkannya membunuh Pangeran Charmont tepat saat ia dilamar. Ella akhirnya bisa mematahkan ‘kutukan’-nya, akan tetapi Pangeran Charmont sudah terlanjur salah sangka. Ella pun ditahan dalam penjara.

Akhir kisahnya cukup mudah untuk ditebak. But, watching this movie is a great pleasure! Banyak adegan-adegan yang lucu karena dianalogikannya kondisi modern ke zaman itu. Misalnya ada eskalator dari tangga kayu, ada demo dengan mengacung-acungkan poster, dan Pangeran Charmont bahkan serupa selebriti yang memiliki fan club.

Saya suka akting Anne Hathaway yang ekspresif dan total. Tidak seperti putri yang anggun, ia malah aktif melompat-lompat, berkelahi, dan melakukan berbagai gerakan-gerakan aneh yang diperintahkan pada tokoh yang ia perankan.

BEAUTY AND THE BEAST: How to Tame a Heart

Only sincere love could change a beast.

Ini adalah film animasi yang dewasa. Kisah percintaannya tidak klise.¬†It’s a love-hate relationship.

Film Disney satu ini masih terngiang-ngiang di kepalaku, rupanya film ini berkesan sekali bagiku. Karakter tokoh utama istimewa, karena memiliki prinsip dan bukan typical gadis yang menanti datangnya pangeran tampan.

Belle digambarkan sebagai gadis yang berbeda dengan gadis kebanyakan. Ia pintar dan hobi baca buku. Ia gadis tercantik di kota itu, sehingga idola wanita ga penting, Gaston tergila-gila padanya. Akan tetapi Gaston hanya memandang fisik Bella, dan menganggap wanita hanya sebagai obyek lelaki, tidak memandang intelegensinya.

Letak kecantikan Bella sebenarnya ada pada hati dan pikirannya, juga rasa sayangnya pada orang tua.

Beast adalah seorang pangeran yang dikutuk menjadi serupa binatang buas, akibat perilakunya yang tidak mengenal cinta kasih. Bella datang dan mengajarinya ‘how to love’. Beast is totally know nothing ’bout love. Perilakunya kasar dan temperamental. Mana mungkin Bella bisa mau berdekat-dekatan dengannya? Padahal Beast yakin Bella-lah yang akan menghapus kutukan yang ditimpakan pada dirinya dan seluruh istananya.

Sosok pangeran tidak digambarkan perfect dan ‘sudah jadi’. Bella melalui proses yang penuh kesabaran dan ketulusan untuk bisa membentuk Beast memiliki hati dan perilaku seorang pangeran sejati. Belum lagi Beast dijelmakan sebagai binatang buas yang kasar, bukan pangeran tampan yang penuh pesona dan berkelakuan anggun.

Bella memiliki hati yang tulus, ia tidak serta merta menolak Beast mentah-mentah. Ia tidak terlalu memperdulikan penampilan fisik Beast, hanya saja ia kurang nyaman dengan sifat Beast yang kasar dan mudah marah. Sampai Bella nekat kabur dan melanggar janjinya untuk tidak meninggalkan istana. Saat ia diserang komplotan serigala, Beast datang melindunginya.

Bella merawat luka-luka Beast dan tidak jadi ‘minggat’. Ia mulai merasa betah dan akur dengan Beast. Ia mengajari Beast kasih sayang dan kelembutan. Cinta telah tumbuh di hati Beast. Ia pun rela melepas Bella kembali pada ayahnya, walaupun ia tahu tenggang waktu kutukan makin dekat. Ia rela kehilangan kesempatan satu-satunya untuk bisa mengembalikan menjadi manusia.

Menurutku, walaupun kutukan itu tidak terhapus, jiwanya telah menjadi manusia. Karena hatinya sudah mengenal cinta dan dia tidak lagi berkelakuan seperti binatang.

It’s only a matter of physical appearance.

Beast menunjukkan cintanya pada Bella, dengan memberinya perpustakaan istana. Ia mampu membaca hati Bella, dan menghargai potensi-potensi Bella secara utuh. Tidak seperti Gaston yang berniat memperlakukan Bella layaknya pelayan bila menjadi istrinya.

Kekuatan animasi ini pada ceritanya.

So it remains a classic, regardless of the technology.