HAMKA: Otodidak yang memperoleh Honoris Causa

Buya Hamka ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974 yang disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia ketika itu, Tun Abdul Razak.

Buya Hamka adalah tokoh ulama dan sastrawan yang menelurkan banyak karya tulis. Beliau juga pernah menjadi wartawan, politisi, aktivis dan dosen.

Mungkin contoh orang polymath (menguasai banyak bidang ilmu) adalah seperti beliau.

Karna banyak jasanya bagi masyarakat luas, beliau pun diberi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Beliau juga diberi gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.

Aku pikir gelar akademik hanya bisa diberikan pada seseorang yg berkutat dengan dunia akademik secara berjenjang atau produk perguruan tinggi saja.

Ternyata tidak…

Gelar dari universitas bisa dipersembahkan pada seorang yg memiliki keahlian yg mendalam dan bermanfaat bagi masyarakat luas, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dunia akademik atas ketokohan seseorang di dunia yang ia tekuni.

Buktinya… Buya Hamka yg menempuh pendidikan formal sampai kelas dua SD, bisa mendapatkan gelar Prof. Dr. Hamka. Tapi itu tentu saja wajar, mengingat luas dan dalamnya pengetahuan beliau. Dan banyaknya karya tulis yg beliau hasilkan.

Orang-orang bertalenta dan istimewa seperti beliau memang seharusnya dihargai oleh bangsanya sendiri.

Gelar Honoris Causa dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia. (Wikipedia)

Saya salut pada universitas-universitas seperti itu, karena tidak membatasi penghargaan hanya pada lingkungan akademik… tapi juga pada orang-orang yang memang memberikan banyak kontribusi bagi kemajuan bangsa.

gelar-doktor

Tokoh lain di Indonesia yg memiliki banyak gelar Honoris Causa adalah Bung Karno. Di mana beliau memperoleh sekitar 26 gelar Doktor Honoris Causa.

Haji Agus Salim: Tokoh Nasional Favoritku

image

Semua orang biasanya punya idola dan preferensi sendiri tentang tokoh nasional yg dikaguminya.

Yg suka dg wacana feminisme atau emansipasi wanita mungkin mengidolakan Kartini.

Yg suka dg tokoh yg disiplin, jujur dan tidak banyak bicara, mungkin mengidolakan Bung Hatta, dan seterusnya…

Dari sekian banyaknya tokoh nasional, tokoh yg menurutku karakternya keren banget itu… Haji Agus Salim!

Yg aku kagumi dr beliau adalah “kegeniusannya” dl berdiplomasi, kritis, pandai berdebat dan bermain kata2, hingga bisa membawa derajat bangsa Indonesia dihormati di kancah dunia.

Mungkin beliau memiliki kecerdasan verbal yg tinggi, hingga bagi beliau mudah belajar bahasa asing secara otodidak. Beliau adalah polyglot, yg menguasai 9 bahasa.

Selain diplomat, founding father ini juga adalah ulama dan intelek. Yg merupakan dua serangkai dg H.O.S Cokroaminoto di Sarekat Islam (SI).

Yg lucu, sebenernya Agus Salim itu kenal Cokroaminoto bermula dr ditugaskannya ia untuk memata-matai gerakan SI. Yg akhirnya ia malah merasa cocok dg Cokroaminoto, trus ia pun membelot dr kumpeni dan bergabung dengan SI.

Sejauh ini, menurutku buku yg paling lengkap ttg beliau adalah “Seratus Tahun Haji Agus Salim”.

image

my favorite book

Buku ini dibuat untuk memperingati seratus tahun kelahiran Haji Agus Salim.

Buku ini buku langka, yg aku cari2… krn buku lamaku hilang, dan aku sudah coba beli di toko buku bekas online, tp sudah habis. 😥

Beliau adalah tokoh yg sedikit nyentrik. Byk anekdot lucu ttg beliau, krn selain cerdas beliau juga humoris.

Bung Karno yg kagum dg kecerdasan Haji Agus Salim menjuluki beliau “The Grand Old Man”.

image

Ada kisah lucu ttg perdebatan Bung Karno dg Haji Agus Salim:

Haji Agus Salim mendukung poligami krn sesuai syari’at Islam, sementara Bung Karno menentang poligami krn dianggapnya merendahkan wanita.

Namun akhirnya malah Bung Karno yg berpoligami, sementara Haji Agus Salim ttp setia dg satu istri.