INVICTUS: Menyatukan Bangsa Melalui Olahraga

Invictus

Biasanya aku ga terlalu suka film bertema olahraga, tapi film yang ini beda. This movie is beautifully made sport movie. Film ini epik. Kita dapat merasakan semangat kebangsaan Afrika Selatan di akhir film.

Nelson Mandela dibebaskan dari penjara setelah 27 tahun pada 1990. Politik apatheid runtuh dan Afrika Selatan berada pada ancaman perang sipil antara warga kulit putih dan kulit hitam. Nelson terpilih sebagai presiden dalam pemilihan umum multi-ras yang pertama.

Hal yang pertama ia lakukan adalah berusaha menyatukan kulit hitam dengan kulit putih. Di antara mereka sebelumnya saling mencurigai dan bermusuhan. Tim rugby Afrika Selatan, Springboks adalah kebanggaan kulit putih. Saat Springboks bertanding melawan bangsa mana pun, warga kulit hitam malah mendukung tim lawan, bukannya mendukung tim negeri sendiri.

Nelson merupakan pemimpin yang bijaksana, berhati lembut dan cinta damai. Ia tak ingin warga kulit putih dan kulit hitam saling membentuk kubu masing-masing, yang bisa memicu pertikaian. Ia ingin mereka bersatu dalam persamaan sebagai satu bangsa. He started the vision of a rainbow nation.

Afrika Selatan akan menjadi tuan rumah Rugby World Cup, sehingga bisa berkesempatan mengikuti pertandingan itu meski timnya tidak masuk ranking dunia. Nelson memandangnya sebagai manuver kemanusiaan yang bisa menyatukan bangsa dwi-warna kulit itu.

Nelson memperhatikan betul tim rugby dan memberi pesan khusus pada kepala tim, Francois Pienaar. Ia memberinya puisi yang memberinya kekuatan, Invictus, tak terkalahkan.

I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.
I am the master of my fate
I am the captain of my soul.

Francois dan tim diminta melakukan sosialisasi “One Team One Country” dengan melatih anak-anak kulit hitam. Mereka juga berkunjung ke bekas sel Nelson, di sana Francois menghayati kebesaran jiwa presiden baru mereka.

“I was thinking about how you spend 30 years in a tiny cell, and come out ready to forgive the people who put you there.”

Nelson adalah pemimpin yang besar, seperti Bung Karno ia menempa jiwanya dalam penjara. Ia tidak mengajak pendukungnya, untuk membalas dendam pada warga kulit putih. Masa transisi dari politik apartheid di Afrika Selatan dapat berlangsung damai dalam kepemimpinannya. Ia memang pantas memperoleh Nobel Perdamaian.

Nelson Mandela adalah penggemar kain kebanggaan Indonesia, batik. Ia berulang kali menggunakan pakaian batik dalam beberapa scene.

Rugby is a rough game. Olahraga yang berdarah-darah. I like this quote:

“Football is a gentleman’s game played by hooligans, on the other hand rugby is a hooligans’ game played by gentlemen.”

Orang kulit putih di Afrika Selatan memiliki bahasa sendiri yang unik.

Aku suka pencahayaan film ini, yang warnanya membuat kita serasa kembali ke tahun 90-an.