KANGEN INDONESIA: Kenangan Orang Jepang

Kangen Indonesia

Ekspatriat asal Jepang, Hisanori Kato, menceritakan kenangannya terhadap Indonesia.

Ia kenal dengan Gus Dur saat melakukan penelitian mengenai Islam di Indonesia dan memiliki kekaguman pada sikapnya yang toleran.

Ia membandingkan makanan Padang yang pedas dengan makanan daerah Jawa Tengah yang cenderung manis. Menurutnya watak asli daerah mempengaruhi rasa masakan, bahkan menurutnya perlu diadakan penelitian tentang itu.

Jakarta baginya sudah seperti kampung halaman kedua. Ia sudah berulang kali mengalami kecopetan dan penodongan dalam bis kota. Lantas ia membalasnya dengan mengamen di bis kota, yang ternyata disambut dengan hangat oleh penumpang bis. Baginya orang Indonesia sangat terbuka pada orang asing.

Ia menyayangkan pendirian mal-mal yang semakin banyak dan semakin sempitnya ruang terbuka hijau. Baginya dengan bangunan mal-mal itu, Jakarta akan sama dengan kota-kota besar lain di dunia. Tidak istimewa. Aku juga setuju dengan pendapat ini, beda dengan Yogyakarta dan Bali yang masih memiliki ciri khas.

Hal kecil seperti peristiwa di bus Transjakarta, di mana orang yang akan turun menyilahkan orang yang berdiri agar duduk di kursinya, baginya adalah suatu peristiwa yang istimewa. Ia hampir meneteskan air mata melihatnya, karena di negaranya sudah jarang sifat yang memperdulikan orang lain.

Ia kagum dengan sifat orang Indonesia yang mudah memaafkan, berbeda dengan orang Jepang yang selalu menuntut yang terbaik. Istilah-istilah yang ia paling ingat dan baginya identik dengan Indonesia adalah “tidak apa-apa” dan “bagaimana nanti”.

Ia sering mengalami dilema, antara sebal dengan sifat orang Indonesia yang santai dan kurang disiplin, tetapi ia sadar akan kenyataan bahwa setiap tahun ada 30.000 orang ‘bunuh diri’ di Jepang.

Ia kagum dengan konsep sa’cukupe dari temannya di Jawa Tengah.

“Uang memang perlu. Tetapi, tidak perlu lebih dari yang dibutuhkan. Barang-barang yang praktis perlu asal tidak merusak alam.”

Kearifan lokal yang tersembunyi dan lebih bijaksana dari peradaban global yang materialistis.