FITNAH

Istriku Seribu

Di bawah ini sebuah artikel menarik dari Emha Ainun Nadjib, tentang fitnah… yang ditulis dalam bukunya “Istriku Seribu“:

Sepanjang istriku menjadi istriku, pengalaman terbesar yang selalu dialaminya adalah bahwa suaminya difitnah orang, kemudian difitnah orang, dan terus difitnah orang. Fitnah kecil maupun besar. Fitnah dengan tema remeh maupun mendasar. Tak pernah berhenti difitnah, disalahpahami, dibuang, dipinggirkan, diremehkan, disalahmengertikan, ditiadakan, di-bukan manusia-kan.

Sesekali orang bertanya kepadanya, bagaimana rasanya punya suami yang difitnah orang terus-menerus. Istriku menjawab, “Sangat senang dan bersyukur. Aku baru akan sedih dan tak bisa tidur kalau suamiku yang memfitnah orang.”

HIJRAH CINTA: Kesabaran Pipik

Hijrah Cinta

Film ini menunjukkan betapa besarnya peran Pipik dalam proses hijrah Uje.

Meskipun tumbuh dan berasal dari keluarga yg religius, tidak lantas menjadikan Uje menjadi anak yg alim. Pergaulan di dunia hiburan yg ia tekuni, mengenalkannya pada narkoba.

Ia berkonflik dg ayahnya, yg tidak setuju dg keputusan Uje masuk di dunia artis.

Uje telah bertekad untuk kembali ke jalan yg benar, namun harus jatuh bangun terlebih dahulu. Pipik mau menerima Uje, meskipun Uje belum sembuh dari ketergantungan obat-obatan.

Masa pernikahan dan bulan madu mereka jangan dianggap langsung senang… justru Pipik harus bersabar merawat Uje.

Tapi ia bertekad Uje harus sembuh! Ia menemani Uje ke dokter untuk konsultasi, mengikat Uje dan menyeretnya ke kamar mandi untuk kemudian Pipik guyur dengan air… saat Uje sakaw.

Aku merasa si Pipik tdk hanya jadi istri, tp juga perawat bagi Uje.

Merawat jiwanya, mengembalikan hidayah pada Uje.

Saat menikah, jangankan mencari nafkah… Uje saja masih jadi pecandu! Bahkan ia sering minta uang pada Pipik yg bekerja sebagai pegawai, untuk membeli obat-obatan.

Sungguh besar jiwa Pipik, sehingga akhirnya bisa mengantarkan Uje menjadi orang yang besar dan berguna.

Padahal kalau dipikir-pikir, kok mau-maunya ya…? Emangnya Pipik dapat untung apa, kok mau menikah dg pecandu narkoba dan belum bisa menafkahi? Malah Pipik yg bekerja dan sering dimintai uang Uje.

Dialog yg paling menyentuh adalah saat Uje bertanya pada Pipik, kok mau dengannya? Pipik menjawab, “Karna saat pertama kali ketemu di Menteng, aku yakin kalau kamu sebenarnya orang baik.”

Jadi keyakinan Pipik bahwa Uje bisa kembali menjadi orang baik, menguatkannya utk mendampingi Uje hingga akhir.

Pipik mendidik Uje dg tegas, di mana ia berhenti bekerja saat mengalami kehamilan pertama. Ia mengatakan, sekarang saatnya Uje belajar bertanggung jawab sebagai seorang suami dan mencari nafkah.

Uje memperoleh pendapatan pertamanya sebagai pengisi khotbah sholat Jum’at. Dan itu disyukuri Pipik, hingga ia menangis terharu.

————————

Merinding denger lagu “Istighfar” yg dinyanyikan Uje, dan lagu “Hijrah Cinta” di akhir film bikin nangis.

AINUN HABIBIE: Kesetiaan Seorang Istri

Ainun Habibie

Dari buku ini kita bisa mengenal secara singkat sosok Bu Ainun. Tapi Bu Ainun ini terkesan low profile banget, ya…? Beliau susah untuk diwawancarai dan digali kepribadiannya, sehingga info mengenai beliau amat terbatas. Mungkin hanya Pak Habibie seorang yang bisa paham luar dalam sosok Bu Ainun. Beliau memang lebih memilih prinsip “The Big You and The Small I”.

“Ibu Ainun itu imtak dan saya iptek,” kata Pak Habibie. Bu Ainun merupakan seorang istri yang religius. Ia senantiasa mendampingi suaminya saat bekerja di rumah pada malam hari dengan lantunan ayat suci, hingga setiap bulan ia bisa khatam satu kali. Ia juga aktif memprakarsai pengajian rutin untuk ibu-ibu di Patra Kuningan.

Memang demikian sejatinya sosok istri yang tepat, yakni men-support pendidikan dan karier suaminya. Kesuksesan suaminya adalah kesuksesannya jua sebagai seorang istri.

Beliau mengalami pergolakan batin, ketika anaknya sakit dan harus dirawat orang lain, sementara ia bekerja sebagai dokter anak dan merawat anak orang lain di rumah sakit.

Peristiwa ini membuat beliau tidak berambisi mengejar karier, walaupun sebenarnya bisa. Beliau melihat lebih bermanfaat bila ia bisa merawat, mendidik dan membentuk pribadi anaknya di rumah.

“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?”

Banyak kisah kebalikan dari kisah bu Ainun ini di kalangan selebriti. Di mana istri yang mengejar karier di dunia keartisan dan tidak fokus lagi sebagai ibu rumah tangga, berakibat rumah tangga yang hancur, bercerai dan anak-anak terbengkalai. Maka keikhlasan Bu Ainun untuk berperan di belakang layar patut dijadikan introspeksi bagi wanita saat ini. Keberhasilan seorang istri adalah saat suami bisa sukses dalam kariernya dan anak-anak ‘mentas’ baik pendidikan, karier, dan pribadinya.

Bu Ainun ini adalah figur yang merupakan sosok wanita Indonesia sejati. Sekalipun tinggi pendidikannya, beliau tetap sadar akan kodrat dan tanggung jawabnya sebagai perempuan, istri dan ibu. Ia paham prioritas, apa yang harus dipilih.

————————

Buku ini bagus sih…, tapi aku agak terganggu dengan cerita yang diulang-ulang di beberapa bagian.

A SEPARATION: Ego Sang Istri

A Separation

Saya bingung dengan si istri, Simin, ia ngotot mengajukan gugatan cerai karena suaminya, Nadir, tidak lagi sepakat bahwa mereka akan tinggal di luar negeri untuk kebaikan masa depan putrinya.

Masalah yang terlalu dibesar-besarkan menurut saya. Memangnya kenapa kalau harus di dalam negeri? Setahu saya Iran termasuk stabil situasi politik dan keamanannya, ketimbang Irak atau Afghanistan.

Bukankah lebih baik tetap bersama dalam kondisi sesulit apa pun?

Seorang istri yang baik harusnya mengerti kondisi ayah mertuanya yang sakit, yang menjadi alasan suaminya membatalkan rencana itu. Nadir ingin merawat ayahnya yang menderita Alzheimer.

Menurutku istrinya memang wanita, tapi sifatnya ‘terlalu lelaki’. Ia tidak bisa mengalah dan selalu merasa sebagai pengambil keputusan yang paling benar, bahkan melangkahi suaminya. Sifat pengasih seperti hilang darinya. Quite unnormal. Biasanya wanita mudah trenyuh dan tidak tega…, dan mungkin yang lebih ngotot untuk tinggal dan merawat mertuanya yang sudah sepuh dan sakit seperti itu.

Di lain waktu, Simin mengeluh mengapa Nadir tidak memohonnya untuk tinggal dan membiarkannya pergi.

Sedikit membingungkan, jadi intinya ia butuh romantisme dari suaminya?

Kalau begitu mengapa ia sampai menggugat cerai? Sementara ia masih butuh afeksi suaminya? Perceraian itu lebih parah ketimbang tidak jadi ke luar negeri!! *confused* Kan bisa tinggal terpisah negara, tapi tetap dalam ikatan pernikahan? Bercerai malah jelas berdampak buruk bagi masa depan putrinya.

Menurutku alasan gugatan cerai yang tidak masuk akal dan kurang kuat adalah kelemahan film ini.

Intinya, ‘ego’ Simin tidak bisa menerima keputusan Nadir, padahal ia kepala keluarga.

Nadir juga memikirkan masa depan putrinya. Tapi apa itu lebih penting ketimbang mengabdi pada orang tua, yang sudah kehilangan ingatannya dan tak bisa ditinggal sendiri? Toh, yang dihadapi bukan situasi yang gawat seperti sedang perang, bencana dan adanya tekanan dalam memperoleh hak-hak dasar. (Dalam film digambarkan, di Iran wanita bisa memperoleh pendidikan dan bisa berkarir.)

Nadir juga bukan suami yang fanatik dan otoriter, bahkan ia termasuk demokratis dengan mengizinkan putrinya mengambil sikap sendiri terhadap masalah mereka.

Kemajuan wanita tidak harus disimbolkan dengan perlawanan pada suami. Menurut saya, nilai yang berharga dan justru dirindukan dari wanita adalah sikap bijak dan pengertiannya. Saya rasa itu yang diinginkan setiap pria dari wanita, sehingga bisa membuatnya tenang.

Tapi bila Nadir sudah tidak bisa memperoleh ketenangan dari Simin yang selalu menuntut, saya setuju mereka memang lebih baik bercerai.