Sumpah Ibu Habibie

R.A. Tuti Marini Puspowardojo

Pak Habibie adalah tokoh teknokrat jenius yang bersahaja.

Salah satu putra kebanggaan Indonesia, yang mengharumkan nama bangsa hingga tingkat internasional.

Sampai saat ini, masih sulit sosok seperti Pak Habibie lahir atau ditemukan lagi… ada di Indonesia.

Ada dua orang yang berjasa dalam kehidupan seorang pria, yakni ibu dan istrinya.

Kisah mengenai Bu Ainun yang menjadi pendukung kesuksesan karir Pak Habibie mungkin sering kita dengar.  Kali ini, saya ingin bercerita mengenai ibu dari Pak Habibie.

Ainun & Ibu Habibie

Ainun & Ibu Habibie

Ayah Habibie bernama Alwi Abdul Jalil Habibie yang berasal dari Gorontalo, sementara ibunya bernama R.A. Tuti Marini Puspowardojo berasal dari Yogyakarta.

Dalam keluarga Habibie, pendidikan sangat penting.

Ayah Habibie meninggal mendadak dalam keadaan bersujud saat shalat Isya, karena serangan jantung. Di saat Habibie masih berusia sekitar 14 tahun, kelas I HBS.

Ibu Habibie sangat syok, di depan jenazah suaminya… dalam kondisi hamil besar, ia bersumpah: Demi Allah, seluruh anak-anak akan kusekolahkan setinggi-tingginya dengan biaya dari keringatku sendiri.

Ibu Habibie bertekad, meski anak-anaknya menjadi yatim… pendidikan mereka tidak akan terhenti.

Ibu Habibie bersama anak-anaknya

Ibu Habibie bersama anak-anaknya

Adalah amanah dan cita-cita dari suaminya, agar anak-anak mereka melanjutkan sekolah hingga setinggi mungkin. Terutama Habibie yang dipandang sangat berbakat dan mewarisi kepintaran ayahnya.

Ibu Habibie mungkin tidak pernah menyangka, bahwa sumpahnya akan membawa perubahan besar bagi Indonesia. Seandainya ia hanya pasrah & menyekolahkan Habibie seadanya, tentu tidak lahir pemuda pakar dalam penerbangan yang membanggakan Indonesia.

Habibie akhirnya dipindahkan untuk sekolah di Jawa.

Kutipan dari buku “Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner”:

Banyak yang bilang pada Rudy kalau darah Bugis punya darah perantau dan nekat. Namun, justru Mami yang berdarah Jawa yang nekat mengirimnya sendirian ke pulau yang sama sekali asing untuknya.

Rudi ingat dia menangis di Pelabuhan Makassar, memohon dan terus memohon agar dia tak dikirim ke Jawa.

“Ini justru tanda aku sayang dan yakin padamu, Rudy. Kalau Mami jahat, justru Mami akan menahanmu di sini dan memanjakanmu. Karena itu, kamu harus pergi. Jadi yang nomor satu!” bujuk Mami. Padahal, tentu hatinya cemas. Ibu mana yang tak cemas merelakan anak umur 14 tahunnya, putra kebanggaannya, pergi sendirian merantau?

Jakarta adalah kota besar dengan penduduk yang jauh lebih banyak dibandingkan Makassar. Pada 1948, penduduk Jakarta meliputi 823.000 jiwa, pada 1950 menjadi 1.437.085 jiwa karena warga yang baru pindah akibat pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat. Situasi ekonomi dan politik juga belum menentu karena Indonesia baru lima tahun merdeka. Namun, Tuti Marini adalah seorang perempuan yang berani mengambil resiko.”

Ibu Habibie kemudian memutuskan untuk pindah ke Bandung dan mendampingi Habibie menjalani pendidikannya.

Sebelumnya ia telah menjual seluruh warisan dan harta yang tersisa di Makassar untuk dijadikan modal usaha rumah indekos. Begitu sampai di Bandung, ibu Habibie membeli sebuah rumah untuk tempat tinggal dan dua rumah lainnya untuk tempat indekos.

Ketika Habibie ingin melanjutkan kuliah ke Jerman, ibunya langsung setuju. Ibu Habibie tidak mau menunjukkan kekhawatirannya pada Habibie. Padahal, mendapatkan izin untuk ke luar negeri dan membeli mata uang asing bukanlah hal yang mudah pada tahun 1954.

Sumpahnya pada almarhum suaminya bukan saja membuatnya bersemangat untuk menyekolahkan Habibie, tetapi juga membuatnya berani

Ia membesarkan hati anaknya dan berjuang mewujudkan cita-cita anaknya.

Kepada Habibie, Ibunya berkata bahwa uang bisa didapat dengan menyewakan kamar Habibie menjadi kamar indekos. Namun, sebenarnya hal tersebut tak semudah yang ibunya bilang.

Habibie tidak tahu bahwa ibunya telah menjual beberapa aset keluarga untuk keberangkatannya. Ia juga melebur perhiasan emasnya untuk dijadikan koin emas yang bisa Habibie gadaikan di Jerman, bila butuh uang.

Untuk membiayai Habibie ini pula, sang ibu mendirikan perusahaan yang bergerak dalam ekspor impor dengan koneksi seadanya.

Pak Habibie bersama ibunya

Pak Habbibie bersama ibunya

Kutipan dari wikipedia:

Pada bulan Juli 1959, Tuti mendapat kabar bahwa B.J. Habibie terbaring tak berdaya di rumah sakit, virus influenza di tubuh Rudy menyerang jantung. Tuti menyusul ke Jerman dan berupaya membangkitkan semangat hidup anaknya hingga akhirnya Rudy berangsur-angsur pulih kembali dan melanjutkan studinya sehingga akhirnya Rudy berhasil menjadi insinyur sebagai lulusan terbaik. Tuti sempat merasakan keberhasilan putra-putrinya sebagai manusia yang memiliki martabat dan juga ia telah menunaikan janjinya kepada sang suami.

Demikianlah yang harus kita teladani dari kekuatan tekad seorang ibu, sehingga anaknya menjadi sosok yang berhasil & berguna bagi nusa dan bangsa.

source:
Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner
The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan
R.A. Tuti Marini Puspowardojo
BJ Habibie : Bapak Teknologi Indonesia

Terapi Menulis

terapi-menulis-untuk-kesehatan-mental

Menulis baik untuk mengurangi depresi dan kecemasan.

Awal mula saya mulai menulis di  blog adalah karena saya orang introvert,, hanya mempunyai sedikit teman yang cocok untuk curhat. Ketika sudah lulus kuliah, kan harus terpisah dengan teman2 itu… dan aku mengalihkan hasrat ingin curhat dan cerita itu lewat blog ini.

Karena sudah ngantor dan ga sebebas pas kuliah dulu, yang aktif organisasi macem2 untuk mengeluarkan pendapat dan berekspresi… jadi aku butuh tempat untuk menyalurkan hobiku beropini, dan menunjukkan pendirian atau sikap saya atas suatu hal.

Mulailah aku nge-blog…

Aslinya saya orang yang agak minder awalnya, buat nulis… tapi efeknya enak banget habis nulis. Ada sebuah kelegaan, seolah telah mengeluarkan beban dalam dada. Jadi menulis adalah sebuah terapi buat saya untuk menghilangkan stress…, mengeluarkan isi hati, dan menghilangkan kejenuhan dari rutinitas kerja kantoran.

Saya rekomendasikan buat teman2 di luar sana, kalau mengalami kesulitan untuk berbagi dengan orang lain… baiknya dikeluarkan dalam bentuk karya,, seperti tulisan

Ada lho, contoh orang di Indonesia… yang menggunakan terapi menulis, untuk menghilangkan depresinya. Dan hasilnya adalah karya yang dibukukan, bahkan difilmkan! Siapa coba…?

Yakni Pak Habibie, yang menyalurkan rasa kehilangannya akan Bu Ainun… dengan menulis. Padahal dokter sudah hampir menyerah, melihat Pak Habibie yang begitu terpuruk

menulis

Di bawah ini kutipan dari beberapa artikel ttg manfaat menulis:

1.  Refresh Your Mind

Setelah kita menyelesaikan apa yang kita tulis, kita pasti menghela napas panjang itu adalah tanda bahwa perasaan kita sudah mulai refresh kembali dan merasa puas karena sudah menyelesaikan tulisan kita. Dan cobalah untuk membacanya sekali lagi pasti anda akan merasa lebih baik lagi.

2.  Knowing yourself

Dengan anda memulai menulis secara teratur, anda akan lebih mengetahui diri anda lebih dari sebelumnya dan juga mengetahui apa karakter dan bakat yang anda punya.

3.  Eliminate stress

Tentunya dengan kita menulis beban perasaan kita akan terasa berkurang daripada kita hanya menyimpannya di dalam perasaan kita sendiri. kita juga bisa menghilangkan intuisi negatif yang hadir ketika perasaan stress tadi menghampiri kita.

4.  Solve Your Problem

Dari semua yang telah kita tulis kita juga bisa mengambil satu titik temu dari permasalahan yang kita hadapi, kita juga bisa melihat permasalahan dengan lebih tenang, dan juga kita bisa menyelesaikan permasalahan kita dengan lebih efektif.

5.  Overcome missunderstandings

Sebuah kesalahpahaman yang tidak bisa kita selesaikan dengan perkataan bisa kita selesaikan dengan tulisan, sehingga kita dapat memberikan penjelasan yang lebih konkret dan masuk akal jika ditambahi dengan tulisan.

~~~~~~~~~

Menulis juga baik untuk mengenalkan siapa diri kita pada orang2 lain,, yang mungkin sebelumnya kita terlalu tertutup dan tak terjangkau orang lain.

Dan baik juga untuk belajar mengekspresikan diri…

~~~~~~~~~

Jika ada kenangan yang hanya kau simpan
jika ada bacaan yang sekedar kau renungkan
jika ada cerita yang pernah kau dengar, tapi tak pernah kau tuliskan:
itulah kesunyian paling menyedihkan
ia bakal hilang bersama debu
dan kisah hidupmu akan berlalu begitu saja diterbangkan waktu.


(Kiai Baghowi, Kedungmaling, Brangkal, Mojokerto)

source:
Terapi Menulis (Therapeutic Writing)
Menulis Terapi Rasa
Tiga Jam Bersama BJ Habibie: Ibu Ainun Cinta Sejati

HABIBIE: Kecil tapi Otak Semua #3

Habibie

Sekarang lagi suka baca tentang biografi Habibie. Menurutku sosok muslim sejati yang prestatif dan patut dijadikan role model di era modern ini,… ya beliau! Beliau tidak banyak mengumbar dalil atau sibuk berdebat tentang Islam yang teoritis. Dari kisah hidup beliau saya jadi mendapatkan figur yang bisa dicontoh tentang bagaimana menjadi seorang muslim yang baik. Yaitu, tidak banyak bicara tapi banyak berkarya, bekerja, menuntut ilmu dan memberikan kontribusi nyata dan positif bagi umat manusia, di bidang yang kita tekuni.

What can we contribute? Bukan apa yang bisa kita buat ribut…

Bung Karno pernah bertemu dengan Pak Habibie saat ia masih mahasiswa, lho… Saat itu Presiden Soekarno sedang mengadakan kunjungan ke Jerman, dan Habibie beserta teman-temannya sesama mahasiswa Indonesia mendengarkan pidatonya. Bung Karno lalu memegang kepala Habibie dan teman-temannya, memberikan semangat dan berkata, “Kamu adalah harapan masa depan Indonesia.” Sehingga Habibie merasa ada kontak pribadi dengan Bung Karno, dan tentu menambah semangatnya belajar, mengembangkan diri, dan memberikan sumbangsih bagi bangsanya.

Habibie mengenang Bung Karno sebagai insiator agar para pelajar SMA berbondong-bondong disekolahkan ke luar negeri. Saat itu tidak ada UI dan ITB, Bung Karno memandang pentingnya penguasaan teknologi yang berwawasan nasional. Dan Habibie adalah rombongan kedua di antara ratusan pelajar yang secara khusus dikirim ke berbagai negara.

Habibie adalah orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus orang yang percaya pada agama. Ia mempelajari agama hanya untuk diri sendiri, untuk ketenangan pribadi, bukan untuk berdakwah.

Dalam buku ini juga terungkap satu prinsip Habibie yang juga sesuai dengan prinsipku. Saat mahasiswa ia diajak kawannya untuk terlibat dalam ormas politik. Tapi Habibie kukuh pada pendiriannya sebagai mahasiswa yang tidak ingin terlibat politik. Dan di kemudian hari ormas itu menjadi organisasi terlarang di Indonesia.

Habibie orang yang suka menolong siapa saja, baik itu kawan maupun orang yang pernah menjadi lawan politiknya. Ia selalu tidak tenteram jika masih ada orang yang susah padahal ia pernah menghabiskan hidup bersama-sama mereka, baik sahabat maupun mantan lawan poltiknya.

Salah satu ciri orang besar, adalah tidak memperdulikan beredarnya berita-berita negatif di media yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Bila ditanggapi satu-satu hanya akan membuang energi dan kontraproduktif. Ia baru bereaksi cepat dan keras jika berita ‘miring’ itu sudah dianggapnya keterlaluan.

Dalam buku ini kita bisa tahu pendapat dan pikiran-pikiran Habibie mengenai berbagai topik, tentang musyawarah dan voting, hubungan Pancasila dengan orang Batak, toleransi dalam Islam dan lain-lain. Harus baca sendiri deh buku ini agar tahu lengkapnya…!

AINUN HABIBIE: Kesetiaan Seorang Istri

Ainun Habibie

Dari buku ini kita bisa mengenal secara singkat sosok Bu Ainun. Tapi Bu Ainun ini terkesan low profile banget, ya…? Beliau susah untuk diwawancarai dan digali kepribadiannya, sehingga info mengenai beliau amat terbatas. Mungkin hanya Pak Habibie seorang yang bisa paham luar dalam sosok Bu Ainun. Beliau memang lebih memilih prinsip “The Big You and The Small I”.

“Ibu Ainun itu imtak dan saya iptek,” kata Pak Habibie. Bu Ainun merupakan seorang istri yang religius. Ia senantiasa mendampingi suaminya saat bekerja di rumah pada malam hari dengan lantunan ayat suci, hingga setiap bulan ia bisa khatam satu kali. Ia juga aktif memprakarsai pengajian rutin untuk ibu-ibu di Patra Kuningan.

Memang demikian sejatinya sosok istri yang tepat, yakni men-support pendidikan dan karier suaminya. Kesuksesan suaminya adalah kesuksesannya jua sebagai seorang istri.

Beliau mengalami pergolakan batin, ketika anaknya sakit dan harus dirawat orang lain, sementara ia bekerja sebagai dokter anak dan merawat anak orang lain di rumah sakit.

Peristiwa ini membuat beliau tidak berambisi mengejar karier, walaupun sebenarnya bisa. Beliau melihat lebih bermanfaat bila ia bisa merawat, mendidik dan membentuk pribadi anaknya di rumah.

“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?”

Banyak kisah kebalikan dari kisah bu Ainun ini di kalangan selebriti. Di mana istri yang mengejar karier di dunia keartisan dan tidak fokus lagi sebagai ibu rumah tangga, berakibat rumah tangga yang hancur, bercerai dan anak-anak terbengkalai. Maka keikhlasan Bu Ainun untuk berperan di belakang layar patut dijadikan introspeksi bagi wanita saat ini. Keberhasilan seorang istri adalah saat suami bisa sukses dalam kariernya dan anak-anak ‘mentas’ baik pendidikan, karier, dan pribadinya.

Bu Ainun ini adalah figur yang merupakan sosok wanita Indonesia sejati. Sekalipun tinggi pendidikannya, beliau tetap sadar akan kodrat dan tanggung jawabnya sebagai perempuan, istri dan ibu. Ia paham prioritas, apa yang harus dipilih.

————————

Buku ini bagus sih…, tapi aku agak terganggu dengan cerita yang diulang-ulang di beberapa bagian.

HABIBIE: Kecil tapi Otak Semua #1

Habibie

“Hanya Allah Swt dan hati nurani saya yang melekat pada diri saya, kawan setia saya.”
– B.J. Habibie

Dalam buku ini kita dapat mengenal lebih dekat pribadi B.J. Habibie, melalui berbagai kisah yang dituturkan orang-orang yang mengenalnya. Kisah-kisahnya banyak yang menyegarkan dan mengundang tawa.

Sejak kecil Habibie lebih suka berkutat dengan buku-buku ketimbang bermain dengan anak lain di luar rumah. Satu hal yang mirip dengan masa kecilku, menurut kesaksian tetangga.

Beda dengan kebanyakan teknokrat yang biasanya berwatak serius, dalam buku ini digambarkan bahwa Habibie adalah sosok yang ceria, suka menghibur teman-temannya dengan bernyanyi maupun melakukan aksi panggung saat ada acara istimewa. Ia juga adalah sosok teknokrat yang humanis, yang akrab dengan siapa saja dan bisa mencairkan suasana.

Yang sering luput dari perhatian kita adalah arti nama Habibie. Bacharuddin Jusuf Habibie. Dalam bahasa Arab bachar berarti lautan, dan dien berarti agama. Jadi arti namanya adalah “lautan agama”.

Saat ia menunaikan ibadah haji, ia diperlakukan dengan terhormat oleh pihak kerajaan Arab Saudi, karena bagi mereka ia adalah tokoh umat Islam.

Konsep ibadah, seperti shalat dan haji bagi Habibie adalah untuk men-charge battery. Shalat adalah tempatnya untuk menemukan ketenangan, membersihkan pikiran, dan secara biologis sujud mengalirkan darah ke kepala sehingga otak mendapatkan aliran darah dan setelah shalat ia merasa fresh. Menurut Habibie isi baterai yang paling besar adalah pada bulan Ramadhan.

Sebuah kisah tentang pendirian ICMI, turut memperkaya wawasan saya. Ternyata inisiatornya adalah mahasiswa-mahasiswa Universitas Brawijaya Malang.

Saya kurang begitu suka membaca bagian kedua “Kebijakan dan Gagasan” karena bahasan yang serius dan membuat dahi berkerut, jadi bagian tersebut saya baca secara skip saja.

Dalam bagian ini kita dapat mengetahui latar belakang pemikiran dari kebijakan-kebijakan yang diambil Habibie, salah satunya tentang pengembangan Pulau Batam. Pulau Batam di tangan Habibie diubah dari pulau sepi dan terbelakang, menjadi daerah industri yang menarik banyak investor. Pulau Batam yang memiliki letak strategis dan dekat Singapura, amat menggiurkan bagi para pencari penghidupan. Akan tetapi oleh Habibie tidak sembarangan orang diperkenankan menetap di sana, selain penduduk lokal hanya pendatang yang memiliki kompetensi yang bisa menjadi penduduk Batam. Ia tak ingin Pulau Batam hanya diolah menjadi kebun sayur.

Selain sebagai ilmuwan, Habibie adalah juga penikmat seni, yang menyukai opera, lukisan, musik klasik dan puisi.

Habibie masuk dunia politik tanpa ambisi, ia adalah orang baik dan jujur, yang menganggap politik hanyalah kesempatan untuk mengabdi pada bangsanya.

“Semua yang duniawi tidak ada yang menguntungkan bagi saya.”

“Manusia tidak hanya hidup untuk makan dan pakaian, tetapi juga dengan kepuasan. Bukan (kepuasan) secara material, tetapi secara jiwa: mendapat kesempatan ikut membantu mengisi kemerdekaan. Ini sama dengan perjuangan yang saya laksanakan sejak muda.”

Harus baca deh buku ini, kisah-kisahnya menarik dan inspirasional.