Tidak Ada Pemimpin Besar yang Tidak Lahir dari Penderitaan

eQavccDpVT

Setiap calon pemimpin besar, pasti pernah merasakan penderitaan. Bahkan itu adalah bagian dari kesehariannya, bagaikan kawah candradimuka yang menggembleng mereka… menjadi sosok2 pahlawan.

Sering kita dengar pemimpin-pemimpin besar yang dipenjara, dikucilkan, diasingkan, karena mereka benar-benar memperjuangkan idealismenya & memikirkan penderitaan rakyat.

Mulai dari Nabi Muhammad SAW, sampai di tingkat nasional… Bung Karno dan Bung Hatta yang mengalami pembuangan di berbagai pelosok Indonesia dan merasakan dinginnya penjara.

Tapi mereka menjalani itu semua dengan kesabaran, keteguhan & pasrah pada Ilahi. Anehnya, sekalipun dipenjara… perhatian mereka tidak luput dari perjuangan yang mereka rintis. Meski ditahan di Sukamiskin, Bung Karno masih mencari kabar dan memantau perkembangan PNI yang dipimpinnya.

14058919

Kali ini saya ingin mengutip sebuah kisah haru dari penahanan Bung Hamka, tokoh ulama besar, yang dibui… atas fitnah yang tidak berdasar:

Hamka dituduh terlibat dalam upaya pembunuhan Sukarno (tuduhan subversif). Dia dianggap ikut melakukan makar terhadap penguasa.

Sebagai orang Masjumi ia dianggap tentu anti Pancasila.

Dia kemudian ditahan dan menjalani hari-hari berat di dalam tahanan: Pemeriksaan nonstop disertai intimidasi psikis. Dalam surat rahasianya kepada Rusydi,¬†Hamka berkisah, “Selama sebulan ayah diperiksa oleh satu team polisi dengan sorot lampu, dituding, dihina sejadi-jadinya,” tulis Rusydi mengutip keterangan ayahnya.

Hamka memang tak sempat mencicipi setrum pemeriksa, tapi tangannya kerap merasakan sundutan rokok. Pernah suatu kali setelah dibentak-bentak dia ditelanjangi hingga tinggal mengenakan kolor. Akibatnya, pada suatu pagi, ujar Hamka sebagaimana dimuat di buku Rusydi, dia sampai menangis ketika berdoa lantaran merasa tak pernah melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan.

Keadaan mulai berubah setelah Hamka membuat keterangan tertulis sesuai yang diinginkan pemeriksa. Keterangan palsu itu dibuat demi menghindari siksaan fisik. Hamka melakukannya setelah dibujuk Kolonel Nasuhi, perwira Siliwangi yang terlibat penggranatan kantor PKI pada 1957, yang juga ditahan di tempat sama.

Pada 24 Maret 1964 keadaannya mulai berubah. Tim pemeriksa mendapatkan kesimpulan sementara, semua tuduhan kepada Hamka hanyalah fitnah. Sumbernya berasal dari Hasan Suri, anggota Pemuda Rakyat di Ciganjur yang menyamar jadi anggota Gerakan Anggota Pembela Islam (GAPI) di mana Hamka disebut menjadi salah satu pengurus.

Kabarnya Hasan adalah orang yang pertama kali memberikan keterangan tentang rapat gelap di Tangerang. Pengakuan itu menimbulkan kecurigaan polisi setelah dikonfrontir kepada para tahanan lain. Selain itu, seperti tertulis dalam buku¬†Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimejo, 75 Tahun, “Ternyata dia (Hasan Suri-Red) sengaja diperintahkan bermain sandiwara ikut ditahan untuk menjebak dan menyempurnakan fitnah terhadap pemimpin-pemimpin Islam.” Tak jelas siapa yang memerintah Hasan Suri untuk bermain sandiwara memfitnah Hamka.

hamka1

Akhirnya masa pembebasan Hamka tiba. Saat Sukarno mulai tumbang dan Soeharto merangkak naik ke puncak kekuasaan, Hamka keluar dari tahanan pada Mei 1966. Buah dari pemenjaraan itu bukan hanya pengalaman pahit melainkan pula berjilid buku tafsir Alquran yang dinamainya Tafsir Al Azhar.

————————

Berbahagialah bila Anda sekarang mengalami penderitaan/penggemblengan mental yang besar… sebab, siapa tahu Anda kelak adalah “calon pemimpin besar”. Insya Allah

source:
– Di Balik Jerajak Besi Penguasa. MF Mukthi. Majalah Historia Nomor 21 Tahun II 2015.

HAMKA: Otodidak yang memperoleh Honoris Causa

Buya Hamka ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974 yang disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia ketika itu, Tun Abdul Razak.

Buya Hamka adalah tokoh ulama dan sastrawan yang menelurkan banyak karya tulis. Beliau juga pernah menjadi wartawan, politisi, aktivis dan dosen.

Mungkin contoh orang polymath (menguasai banyak bidang ilmu) adalah seperti beliau.

Karna banyak jasanya bagi masyarakat luas, beliau pun diberi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Beliau juga diberi gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.

Aku pikir gelar akademik hanya bisa diberikan pada seseorang yg berkutat dengan dunia akademik secara berjenjang atau produk perguruan tinggi saja.

Ternyata tidak…

Gelar dari universitas bisa dipersembahkan pada seorang yg memiliki keahlian yg mendalam dan bermanfaat bagi masyarakat luas, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dunia akademik atas ketokohan seseorang di dunia yang ia tekuni.

Buktinya… Buya Hamka yg menempuh pendidikan formal sampai kelas dua SD, bisa mendapatkan gelar Prof. Dr. Hamka. Tapi itu tentu saja wajar, mengingat luas dan dalamnya pengetahuan beliau. Dan banyaknya karya tulis yg beliau hasilkan.

Orang-orang bertalenta dan istimewa seperti beliau memang seharusnya dihargai oleh bangsanya sendiri.

Gelar Honoris Causa dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia. (Wikipedia)

Saya salut pada universitas-universitas seperti itu, karena tidak membatasi penghargaan hanya pada lingkungan akademik… tapi juga pada orang-orang yang memang memberikan banyak kontribusi bagi kemajuan bangsa.

gelar-doktor

Tokoh lain di Indonesia yg memiliki banyak gelar Honoris Causa adalah Bung Karno. Di mana beliau memperoleh sekitar 26 gelar Doktor Honoris Causa.

AYAH…: Kisah Buya Hamka

buya hamka

Buku ini sebenernya memoar anak Buya Hamka, Irfan Hamka, tentang kenangannya selama hidup dengan sang ayah. Saya kurang tertarik dengan kisah-kisah pengalaman pribadi penulis, jadi saya membacanya langsung ke bagian-bagian yang berkaitan dengan Buya Hamka.

Di awal buku ini diceritakan mengenai cara Buya memberi solusi terhadap masalah rumah tangga, dengan bijak Buya menasihati sang istri agar membolehkan poligami daripada meminta cerai dari suami, dengan alasan yang syar’i. Wow…, cukup kontroversial! Jarang ada zaman sekarang, ulama yang justru menyarankan agar si istri merelakan suaminya poligami. Tapi pertimbangan Buya memang bijak, dikarenakan sang istri yang tidak bisa mengimbangi hasrat suami, sementara suaminya adalah lelaki yang beriman dan rajin beribadah, dan takut berbuat dosa untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Buya mampu memberikan solusi yang bijak dan nasihat dengan argumen yang mudah dipahami masyarakat.

Selain sebagai ulama dan sastrawan, Buya ternyata adalah pendekar silat. Ia mahir silek. Dari beberapa buku lain yang saya baca, silek adalah salah satu budaya Minang yang dilestarikan turun-menurun dalam masyarakatnya. Kata Buya, orang yang disebut Pendekar adalah orang yang memiliki akal yang pandai dan cerdas. Sebutan pendekar di Minang, berarti “pandai akal”.

Sejarah menyakitkan yang saya baca adalah saat Buya difitnah oleh PKI dengan tuduhan merencanakan pembunuhan pada Presiden Soekarno dan dipenjara selama 2 tahun 4 bulan, tanpa proses pengadilan. Sebuah tuduhan yang mengada-ada dan tak masuk akal… bila ditujukan pada seorang alim ulama, yang hidupnya tidak ditujukan untuk kekuasaan duniawi!

Dinginnya penjara tidak dapat menumpulkan kreativitasnya. Selama masa tahanan itu, beliau menghasilkan karya monumental Tafsir Al-Azhar. Memang banyak tokoh-tokoh yang justru menghasilkan karya tulis ketika mendekam dalam bui, biasanya mereka dipenjara karena tekanan penguasa.

Saya sebagai pengagum Bung Karno, merasa sedikit kecewa terhadap beliau atas keputusan yang satu ini. Menurutku beliau harusnya memperlakukan ulama dengan penuh penghormatan, bukannya malah dipenjara atas hasutan dan fitnah PKI. Mungkin saat itu Bung Karno memang sedang mesra-mesranya dengan paham komunis.

Buya Hamka dibebaskan pada saat rezim Soekarno runtuh, dan digantikan oleh Presiden Soeharto. Buya Hamka persis akan disiksa ketika Gestapu/Kudeta 1 Oktober 1965 terjadi. Ia diselamatkan oleh kudeta tersebut. Saat baru diangkat menjadi presiden, Presiden Soeharto malah memberinya hadiah pergi haji bersama istri dan anak.

Mungkin Bung Karno lengser salah satunya karena ‘kualat’ pada ulama. Saya lebih suka dengan perlakuan Presiden Soeharto yang bisa menempatkan seorang ulama sesuai dengan kehormatannya.

Buya Hamka dan Bung Karno rupanya pernah bertemu saat masa muda. Dalam buku ini ada foto mereka bersama di Bengkulu pada tahun 1941, bersama H. Abdul Karim Oei.

buya

Buya Hamka, H. Abdul Karim Oei, Bung Karno

Soekarno, Moh. Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer adalah tiga tokoh yang pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Namun Buya Hamka tidak menyimpan dendam dan memaafkan kesalahan mereka.

Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana tanggapan Buya Hamka atas rencana Gubernur DKI, Ali Sadikin untuk melegalkan perjudian dan lokalisasi tempat pelacuran.

Buya Hamka gemar merantau sejak kecil untuk menimba ilmu dan pengalaman. Pada umur 15 tahun beliau merantau ke Jawa, tepatnya Kota Yogyakarta dan Pekalongan. Di sana ia belajar dari tokoh-tokoh besar seperti HOS Tjokroaminoto, A.R. Fachruddin dan tertarik pada misi Muhammadiyah.

Buya Hamka tidak berkesempatan belajar secara tuntas di institusi pendidikan, sehingga ia tidak memiliki diploma atau ijazah. Hal itu menyulitkannya untuk menjadi guru di sekolah Muhammadiyah, yang turut didirikan oleh ayahnya. Kemudian ia bertekad mengembara lagi ke Mekkah untuk menimba ilmu agama sambil melancarkan kemampuan bahasa Arab.

Di Mekkah ia bekerja sebagai pegawai percetakan. Ada berbagai buku agama di gudang percetakan, yang dibacanya pada waktu istirahat kerja. Ketika bertemu Haji Agus Salim, ia disarankan agar kembali ke tanah air.

Pendidikan Buya Hamka terbengkalai karena orang tuanya bercerai saat ia masih kecil. Meski demikian, ia telah bertekad menjadi manusia berguna sehingga ia banyak membaca untuk membuka wawasannya dan mengejar ketertinggalan di bidang akademik. Buku yang ia konsumsi pada saat ia kecil adalah buku-buku berat, buku-buku pemikiran yang jarang dibaca anak-anak seusianya.

Buya Hamka adalah seorang ulama besar yang belajar secara otodidak, baik melalui buku maupun dari tokoh-tokoh besar.