Jiwa Besar Bung Karno untuk Menghindari Pertumpahan Darah

supersemar

Salah satu hal yang saya kagumi dari Bung Karno adalah kecintaannya pada rakyat…

Bahkan, saat-saat menjelang turun dari kekuasaan; yang beliau pikirkan adalah keselamatan rakyatnya.

Sudah diketahui umum, bahwa pelengseran Bung Karno oleh Pak Harto… tidak berlangsung dengan adil & sukarela. Dikarenakan Pak Harto menyalahgunakan Supersemar, untuk mengambil alih pemerintahan.

Saat itu, Bung Karno sebenarnya bisa… menggalang pasukan militer yang masih setia padanya, untuk menggagalkan kudeta Pak Harto. Namun, Bung Karno memilih untuk membiarkan Pak Harto mengambil alih kekuasaan dan segera meninggalkan Istana Negara

Karena Bung Karno tidak ingin rakyatnya terlibat perang saudara, dan menjatuhkan darah satu sama lain.

Apalagi pihak asing tentunya akan berupaya untuk berkuasa lagi; bila terjadi huru-hara di Indonesia.

Pantang buat Bung Karno, bila darah rakyat harus jatuh… demi kekuasaannya.

Pemimpin besar, yang ada dalam pikirannya adalah keselamatan & kesejahteraan rakyatnya.

Bandingkan dengan pemimpin saat ini, yang tidak segan-segan menjatuhkan darah rakyat… demi hegemoni kekuasaan & golongannya.

source:
Aku Tahu Gerakan Jenderal Soeharto
Bung Karno: Biar Aku Hancur Daripada Perang Saudara

Saat Bung Karno Harus Menandatangani Vonis Mati Kartosuwiryo

wpid-bung-karno-dan-kartosoewirjo.jpg

Bung Karno dan Kartosuwiryo adalah sesama anak kos di rumah HOS Cokroaminoto pada masa muda.

Mereka mengambil ideologi yang berbeda, Bung Karno nasionalisme… sementara Kartosuwiryo Islam garis keras.

Kartosuwiryo memimpin gerakan pemberontakan DI/TII di saat republik ini baru merdeka. Dan merencanakan berbagai percobaan pembunuhan pada Bung Karno.

Kartosuwiryo akhirnya tertangkap dan pengadilan menjatuhkan vonis hukuman mati terhadapnya.

Untuk melaksanakan hukuman mati itu… harus mendapatkan izin dari Bung Karno, sebagai presiden.

Bung Karno mengalami dilema, karena Kartosuwiryo adalah kawan masa kecilnya. Ia senantiasa teringat masa muda, di mana mereka sering diskusi dan bercanda bersama.

Sejak ditangkap hingga tiga bulan kemudian, Bung Karno selalu menyingkirkan berkas kertas vonis mati atas diri Kartosuwiryo. Keesokan hari, manakala di antara berkas yang harus ditandatangani bertumpuk di atas meja kerja, dan ia dapati kembali berkas vonis mati bagi Kartosuwiryo, ia pun menyingkirkannya. Begitu berulang-ulang, hingga klimaksnya Bung Karno begitu frustrasi dan ia lempar berkas vonis tadi ke udara dan bercecer di lantai ruang kerjanya.

Adalah Megawati sang putri yang menyadarkan sang ayah, agar menepati dharmanya sebagai kepala negara, kepala pemerintahan serta tidak mencampur-adukkan antara hakikat persahabatan dengan tugas dan fungsinya sebagai kepala negara.

Meski mereka adalah sahabat kecil, namun saat ini Kartosuwiryo adalah musuh negara. Yang mana bila dibiarkan tetap hidup, dapat mengancam kedaulatan negara. Ia telah melakukan berbagai tindakan ‘merusuh’ di Indonesia.

Bung Karno harus bertindak tegas, meski pada perasaannya sendiri.

Akhirnya Bung Karno menandatangani berkas vonis mati Kartosuwiryo. Walaupun ia sampai berurai air mata saat menatap foto sahabat lamanya.

source:
Bharatayudha versi Bung Karno versus Kartosoewirjo
Bung Karno dan Kartosuwirjo, Saling Ejek, Saling Bunuh

Sejarah ’17’ Agustus

Indonesia_declaration_of_independence_17_August_1945

Sebentar lagi, mau peringatan dirgahayu proklamasi RI.

Enaknya kilas balik sejarah… di balik penentuan, kenapa proklamasi harus tanggal 17 Agustus 1945.

Saat itu terdengar kabar Jepang dibom nuklir dan menyerah pada Sekutu. Angkatan muda pejuang, mendesak para angkatan tua seperti Bung Karno agar segera melaksanakan proklamasi.

Mereka bahkan ‘mengamankan’ para tokoh tua ke Rengasdengklok.

Sampai-sampai Bung Karno diancam dengan todongan senjata, agar segera memproklamirkan kemerdekaan.

Maklum, darah muda… tidak sabaran dan grusa-grusu.

Padahal Bung Karno sudah merencanakan dengan matang kapan tanggal terbaik, untuk proklamasi.

Bung Karno sudah memikirkan tanggal terbaik untuk itu adalah tanggal 17.

“Mengapa justru tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?”, kata para pemuda.

Bung Karno adalah penganut kebatinan, yang percaya pada tanggal baik dan isyarat-isyarat alam.

Saat itu adalah bulan Ramadhan, dan adanya kekalahan Jepang, merupakan isyarat dari Tuhan akan kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno merenung, bahwa 17 Ramadhan adalah saat turunnya Al-Qur’an. Dan jumlah rakaat dalam sholat sehari semalam adalah 17. Oleh karena itu, menurut Bung Karno angka 17 adalah angka ‘istimewa’, yang baik untuk melaksanakan proklamasi.

source:
Angka 17, Angka Keramat

Bung Hatta

Bunh-Hatta-165x250

Bung Hatta

Bung Hatta dan Bung Karno adalah tokoh Dwitunggal, yang memiliki kepribadian yang bertolak belakang, meski sama-sama tokoh pergerakan.

Bung Hatta lebih ke pemikir, ketimbang orator seperti Bung Karno.

Meski begitu, mereka adalah kawan yang akrab. Sehingga menjelang ajalnya, saat sedang kritis… Bung Hatta menyempatkan diri menemui Bung Karno. Kedua sahabat lama mulai dari zaman pra kemerdekaan itu, saling menanyakan kabar sambil meneteskan air mata.

Bung Hatta setengah tidak tega melihat kondisi Bung Karno yang pada masa mudanya gagah. Namun di penghujung usianya… terbaring lemah, dan mendapat perlakuan yang tidak layak.

Meski sebelumnya mereka pernah pecah kongsi, karena Bung Hatta tidak setuju dengan Bung Karno yang ngotot, ingin menerapkan Demokrasi Terpimpin.

HAMKA: Otodidak yang memperoleh Honoris Causa

Buya Hamka ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974 yang disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia ketika itu, Tun Abdul Razak.

Buya Hamka adalah tokoh ulama dan sastrawan yang menelurkan banyak karya tulis. Beliau juga pernah menjadi wartawan, politisi, aktivis dan dosen.

Mungkin contoh orang polymath (menguasai banyak bidang ilmu) adalah seperti beliau.

Karna banyak jasanya bagi masyarakat luas, beliau pun diberi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Beliau juga diberi gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.

Aku pikir gelar akademik hanya bisa diberikan pada seseorang yg berkutat dengan dunia akademik secara berjenjang atau produk perguruan tinggi saja.

Ternyata tidak…

Gelar dari universitas bisa dipersembahkan pada seorang yg memiliki keahlian yg mendalam dan bermanfaat bagi masyarakat luas, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dunia akademik atas ketokohan seseorang di dunia yang ia tekuni.

Buktinya… Buya Hamka yg menempuh pendidikan formal sampai kelas dua SD, bisa mendapatkan gelar Prof. Dr. Hamka. Tapi itu tentu saja wajar, mengingat luas dan dalamnya pengetahuan beliau. Dan banyaknya karya tulis yg beliau hasilkan.

Orang-orang bertalenta dan istimewa seperti beliau memang seharusnya dihargai oleh bangsanya sendiri.

Gelar Honoris Causa dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia. (Wikipedia)

Saya salut pada universitas-universitas seperti itu, karena tidak membatasi penghargaan hanya pada lingkungan akademik… tapi juga pada orang-orang yang memang memberikan banyak kontribusi bagi kemajuan bangsa.

gelar-doktor

Tokoh lain di Indonesia yg memiliki banyak gelar Honoris Causa adalah Bung Karno. Di mana beliau memperoleh sekitar 26 gelar Doktor Honoris Causa.

Haji Agus Salim: Tokoh Nasional Favoritku

image

Semua orang biasanya punya idola dan preferensi sendiri tentang tokoh nasional yg dikaguminya.

Yg suka dg wacana feminisme atau emansipasi wanita mungkin mengidolakan Kartini.

Yg suka dg tokoh yg disiplin, jujur dan tidak banyak bicara, mungkin mengidolakan Bung Hatta, dan seterusnya…

Dari sekian banyaknya tokoh nasional, tokoh yg menurutku karakternya keren banget itu… Haji Agus Salim!

Yg aku kagumi dr beliau adalah “kegeniusannya” dl berdiplomasi, kritis, pandai berdebat dan bermain kata2, hingga bisa membawa derajat bangsa Indonesia dihormati di kancah dunia.

Mungkin beliau memiliki kecerdasan verbal yg tinggi, hingga bagi beliau mudah belajar bahasa asing secara otodidak. Beliau adalah polyglot, yg menguasai 9 bahasa.

Selain diplomat, founding father ini juga adalah ulama dan intelek. Yg merupakan dua serangkai dg H.O.S Cokroaminoto di Sarekat Islam (SI).

Yg lucu, sebenernya Agus Salim itu kenal Cokroaminoto bermula dr ditugaskannya ia untuk memata-matai gerakan SI. Yg akhirnya ia malah merasa cocok dg Cokroaminoto, trus ia pun membelot dr kumpeni dan bergabung dengan SI.

Sejauh ini, menurutku buku yg paling lengkap ttg beliau adalah “Seratus Tahun Haji Agus Salim”.

image

my favorite book

Buku ini dibuat untuk memperingati seratus tahun kelahiran Haji Agus Salim.

Buku ini buku langka, yg aku cari2… krn buku lamaku hilang, dan aku sudah coba beli di toko buku bekas online, tp sudah habis. 😥

Beliau adalah tokoh yg sedikit nyentrik. Byk anekdot lucu ttg beliau, krn selain cerdas beliau juga humoris.

Bung Karno yg kagum dg kecerdasan Haji Agus Salim menjuluki beliau “The Grand Old Man”.

image

Ada kisah lucu ttg perdebatan Bung Karno dg Haji Agus Salim:

Haji Agus Salim mendukung poligami krn sesuai syari’at Islam, sementara Bung Karno menentang poligami krn dianggapnya merendahkan wanita.

Namun akhirnya malah Bung Karno yg berpoligami, sementara Haji Agus Salim ttp setia dg satu istri.

HABIBIE: Kecil tapi Otak Semua #3

Habibie

Sekarang lagi suka baca tentang biografi Habibie. Menurutku sosok muslim sejati yang prestatif dan patut dijadikan role model di era modern ini,… ya beliau! Beliau tidak banyak mengumbar dalil atau sibuk berdebat tentang Islam yang teoritis. Dari kisah hidup beliau saya jadi mendapatkan figur yang bisa dicontoh tentang bagaimana menjadi seorang muslim yang baik. Yaitu, tidak banyak bicara tapi banyak berkarya, bekerja, menuntut ilmu dan memberikan kontribusi nyata dan positif bagi umat manusia, di bidang yang kita tekuni.

What can we contribute? Bukan apa yang bisa kita buat ribut…

Bung Karno pernah bertemu dengan Pak Habibie saat ia masih mahasiswa, lho… Saat itu Presiden Soekarno sedang mengadakan kunjungan ke Jerman, dan Habibie beserta teman-temannya sesama mahasiswa Indonesia mendengarkan pidatonya. Bung Karno lalu memegang kepala Habibie dan teman-temannya, memberikan semangat dan berkata, “Kamu adalah harapan masa depan Indonesia.” Sehingga Habibie merasa ada kontak pribadi dengan Bung Karno, dan tentu menambah semangatnya belajar, mengembangkan diri, dan memberikan sumbangsih bagi bangsanya.

Habibie mengenang Bung Karno sebagai insiator agar para pelajar SMA berbondong-bondong disekolahkan ke luar negeri. Saat itu tidak ada UI dan ITB, Bung Karno memandang pentingnya penguasaan teknologi yang berwawasan nasional. Dan Habibie adalah rombongan kedua di antara ratusan pelajar yang secara khusus dikirim ke berbagai negara.

Habibie adalah orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus orang yang percaya pada agama. Ia mempelajari agama hanya untuk diri sendiri, untuk ketenangan pribadi, bukan untuk berdakwah.

Dalam buku ini juga terungkap satu prinsip Habibie yang juga sesuai dengan prinsipku. Saat mahasiswa ia diajak kawannya untuk terlibat dalam ormas politik. Tapi Habibie kukuh pada pendiriannya sebagai mahasiswa yang tidak ingin terlibat politik. Dan di kemudian hari ormas itu menjadi organisasi terlarang di Indonesia.

Habibie orang yang suka menolong siapa saja, baik itu kawan maupun orang yang pernah menjadi lawan politiknya. Ia selalu tidak tenteram jika masih ada orang yang susah padahal ia pernah menghabiskan hidup bersama-sama mereka, baik sahabat maupun mantan lawan poltiknya.

Salah satu ciri orang besar, adalah tidak memperdulikan beredarnya berita-berita negatif di media yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Bila ditanggapi satu-satu hanya akan membuang energi dan kontraproduktif. Ia baru bereaksi cepat dan keras jika berita ‘miring’ itu sudah dianggapnya keterlaluan.

Dalam buku ini kita bisa tahu pendapat dan pikiran-pikiran Habibie mengenai berbagai topik, tentang musyawarah dan voting, hubungan Pancasila dengan orang Batak, toleransi dalam Islam dan lain-lain. Harus baca sendiri deh buku ini agar tahu lengkapnya…!

AYAH…: Kisah Buya Hamka

buya hamka

Buku ini sebenernya memoar anak Buya Hamka, Irfan Hamka, tentang kenangannya selama hidup dengan sang ayah. Saya kurang tertarik dengan kisah-kisah pengalaman pribadi penulis, jadi saya membacanya langsung ke bagian-bagian yang berkaitan dengan Buya Hamka.

Di awal buku ini diceritakan mengenai cara Buya memberi solusi terhadap masalah rumah tangga, dengan bijak Buya menasihati sang istri agar membolehkan poligami daripada meminta cerai dari suami, dengan alasan yang syar’i. Wow…, cukup kontroversial! Jarang ada zaman sekarang, ulama yang justru menyarankan agar si istri merelakan suaminya poligami. Tapi pertimbangan Buya memang bijak, dikarenakan sang istri yang tidak bisa mengimbangi hasrat suami, sementara suaminya adalah lelaki yang beriman dan rajin beribadah, dan takut berbuat dosa untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Buya mampu memberikan solusi yang bijak dan nasihat dengan argumen yang mudah dipahami masyarakat.

Selain sebagai ulama dan sastrawan, Buya ternyata adalah pendekar silat. Ia mahir silek. Dari beberapa buku lain yang saya baca, silek adalah salah satu budaya Minang yang dilestarikan turun-menurun dalam masyarakatnya. Kata Buya, orang yang disebut Pendekar adalah orang yang memiliki akal yang pandai dan cerdas. Sebutan pendekar di Minang, berarti “pandai akal”.

Sejarah menyakitkan yang saya baca adalah saat Buya difitnah oleh PKI dengan tuduhan merencanakan pembunuhan pada Presiden Soekarno dan dipenjara selama 2 tahun 4 bulan, tanpa proses pengadilan. Sebuah tuduhan yang mengada-ada dan tak masuk akal… bila ditujukan pada seorang alim ulama, yang hidupnya tidak ditujukan untuk kekuasaan duniawi!

Dinginnya penjara tidak dapat menumpulkan kreativitasnya. Selama masa tahanan itu, beliau menghasilkan karya monumental Tafsir Al-Azhar. Memang banyak tokoh-tokoh yang justru menghasilkan karya tulis ketika mendekam dalam bui, biasanya mereka dipenjara karena tekanan penguasa.

Saya sebagai pengagum Bung Karno, merasa sedikit kecewa terhadap beliau atas keputusan yang satu ini. Menurutku beliau harusnya memperlakukan ulama dengan penuh penghormatan, bukannya malah dipenjara atas hasutan dan fitnah PKI. Mungkin saat itu Bung Karno memang sedang mesra-mesranya dengan paham komunis.

Buya Hamka dibebaskan pada saat rezim Soekarno runtuh, dan digantikan oleh Presiden Soeharto. Buya Hamka persis akan disiksa ketika Gestapu/Kudeta 1 Oktober 1965 terjadi. Ia diselamatkan oleh kudeta tersebut. Saat baru diangkat menjadi presiden, Presiden Soeharto malah memberinya hadiah pergi haji bersama istri dan anak.

Mungkin Bung Karno lengser salah satunya karena ‘kualat’ pada ulama. Saya lebih suka dengan perlakuan Presiden Soeharto yang bisa menempatkan seorang ulama sesuai dengan kehormatannya.

Buya Hamka dan Bung Karno rupanya pernah bertemu saat masa muda. Dalam buku ini ada foto mereka bersama di Bengkulu pada tahun 1941, bersama H. Abdul Karim Oei.

buya

Buya Hamka, H. Abdul Karim Oei, Bung Karno

Soekarno, Moh. Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer adalah tiga tokoh yang pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Namun Buya Hamka tidak menyimpan dendam dan memaafkan kesalahan mereka.

Dalam buku ini juga diceritakan bagaimana tanggapan Buya Hamka atas rencana Gubernur DKI, Ali Sadikin untuk melegalkan perjudian dan lokalisasi tempat pelacuran.

Buya Hamka gemar merantau sejak kecil untuk menimba ilmu dan pengalaman. Pada umur 15 tahun beliau merantau ke Jawa, tepatnya Kota Yogyakarta dan Pekalongan. Di sana ia belajar dari tokoh-tokoh besar seperti HOS Tjokroaminoto, A.R. Fachruddin dan tertarik pada misi Muhammadiyah.

Buya Hamka tidak berkesempatan belajar secara tuntas di institusi pendidikan, sehingga ia tidak memiliki diploma atau ijazah. Hal itu menyulitkannya untuk menjadi guru di sekolah Muhammadiyah, yang turut didirikan oleh ayahnya. Kemudian ia bertekad mengembara lagi ke Mekkah untuk menimba ilmu agama sambil melancarkan kemampuan bahasa Arab.

Di Mekkah ia bekerja sebagai pegawai percetakan. Ada berbagai buku agama di gudang percetakan, yang dibacanya pada waktu istirahat kerja. Ketika bertemu Haji Agus Salim, ia disarankan agar kembali ke tanah air.

Pendidikan Buya Hamka terbengkalai karena orang tuanya bercerai saat ia masih kecil. Meski demikian, ia telah bertekad menjadi manusia berguna sehingga ia banyak membaca untuk membuka wawasannya dan mengejar ketertinggalan di bidang akademik. Buku yang ia konsumsi pada saat ia kecil adalah buku-buku berat, buku-buku pemikiran yang jarang dibaca anak-anak seusianya.

Buya Hamka adalah seorang ulama besar yang belajar secara otodidak, baik melalui buku maupun dari tokoh-tokoh besar.