Pengalaman Pertama ke Galeri Seni

undagi poster

Aku ga sengaja nemuin poster tentang UNDAGI pas maen ke Perpustakaan Kota Yogyakarta.

Wah, boleh juga nih… aku memang seneng dengan benda-benda unik yang bermuatan seni. Biasanya sih pembuatnya, atau senimannya tidak hanya membuat sebuah bentuk yang unik, namun juga sekaligus menyampaikan pesan dan kritik sosial melalui karyanya.

Aslinya aku pengen ke sana bareng adekku yang akan dateng dari Malang. Tapi keburu pamerannya abis, dan aku ga sempet nonton… udahlah aku ke sana sendiri. Adekku juga kayaknya lebih seneng wisata alam, dia malah kepengen ke Gunung Kidul. maaf ya ga bisa nemenin, aku banyak tugas

Bedanya museum dengan galeri seni: klo museum benda yang dipajang biasanya permanen, untuk jangka waktu lama. Sementara pameran di galeri seni, hanya sewaktu-waktu dan tentu bendanya khusus, produk-produk terbaru (kontemporer) karya seniman. Klo di museum kan benda-benda yang sudah lama dibuat

Emang ga rugi, sempet mampir ke sana…

Ini adalah salah satu karya yang mengandung sindiran sosial:

Aku suka dengan filosofi patung Dewi Saraswati ini:

… pengalaman yang menyenangkan…

Terpesona dengan Masjid Gedhe Kauman

20160813_191229

Hari Sabtu, tanggal 13 Agustus kemaren… karena ada waktu luang, aku berkunjung ke rumah saudara sepupuku di Bantul. Sepulangnya dari sana sekitar maghrib, aku menuju alun-alun kidul… karena pgn liat, katanya ada festival. Tapi aku sekedar lewat doang, trus menyusuri jalan lewat Ngasem dan kemudian, seperti pesen Mba Bety (sepupuku tadi)… klo lewat sekitar keraton bisa mampir tuh, ke Masjid Gedhe Kauman

Aku sering lewat di depannya, tapi baru kali ini mampir…

Indah banget tyt interiornya, dan suasananya khusyuk banget. Aku sholat Isya di sana, dan di pelataran masjid aku liat ada panggung untuk Festival Shalawat yang diadakan tanggal 14 Agustus keesokan harinya.

Esoknya, karena pingin liat Festival Shalawat… aku ke sana lagi, dan sempet ikutan sholat Isya berjamaah. Lebih banyak nenek-nenek/ibu-ibu yang sudah tua yang sholat jamaah di barisan shaf wanita. Aku sampe berpikir, ini generasi mudanya kemana ya?

Seperti yang kulihat di film “Sang Pencerah”, ternyata emang bener ya… kiblat masjid ini dibetulkan oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Dapat dilihat dengan jelas dari pagar pembatas shaf wanita dengan pria yang berupa diagonal yang melintang, bukan sejajar/horisontal seperti kebanyakan masjid lain.

Dan, satu hal yang berkesan banget. Ada satu aturan dalam shalat berjamaah yang tidak pernah aku lihat diterapkan, namun di sini diterapkan: shaf wanita diisi yang paling belakang dulu.

Yang bener khan, emang begitu… anak-anak di depan, dan sebaik2nya shaf buat wanita itu yang di belakang. Jadi yang diisi barisan belakang dulu

Beda dengan aturan untuk shaf laki2

Tapi aturan semacam ini, saya tidak pernah melihat hal tersebut diterapkan. Baru di masjid ini saya lihat spt itu… *dan itu bagus, berarti menunjukkan keseriusan

Trus, selesai sholat… aku nungguin tuh, Festival Shalawat-nya dimulai. Katanya abis Isya, tapi lama banget aku tungguin belum mulai2. *masih persiapan… trus kulihat jam udah menunjukkan jam 8 malam. Wah, ga bisa nih aku ikutan. Karena badan udah lelah, waktunya istirahat… ga enak juga klo pulang kos malem2 dan besok juga mau kuliah. Jadi, aku pulang deh..

Jalan-Jalan ke Bangkok

Ceritanya, Bapak kan lagi dines di Thailand… berkunjung ke sebuah rekanan perusahaan (tempat Bapak kerja) di daerah utara Thailand, dekat perbatasan dg Laos. Trus aku, Ibu dan adikku nyusul, sekalian jalan-jalan di sana. Aku dan adikku kan belum pernah, Ibu sudah pernah sekali… ikut rombongan arisan. Bapak untuk kedua kalinya, dulu pernah dalam rangka dinas juga.

Tanggal 11 Februari 2015, jam 9-an kami tiba di hotel Ibis Bangkok Riverside. Karena belum terlalu malem… kami maen dulu ke Asiatique Night Market yang dekat dari hotel. Di sana kami cari makanan, tapi bingung yg halal yg mana… akhirnya beli roti panggang aja.

Trus naik komidi putar, dan foto-foto di pinggiran sungai.

wpid-20150211_223719.jpg

image

Yunus & Ibu

Abis itu kita beli beberapa camilan, seperti buah jambu air dan popcorn. Dan balik ke hotel, untuk istirahat.

————————

Pas sarapan di pinggir sungai Chao Phraya, kita ngeliat ada kuil di seberang sungai… yang bernama Wat Yannawa. Karena keliatannya bagus, dan sama Bapak blm boleh pergi jauh-jauh… *reservasi hotel blm beres, krn mau memperpanjang waktu nginap, katanya kamarnya penuh semua, dan Bapak masih di perjalanan ke Bangkok* ya udah, kita maen ke Wat Yannawa dulu, naik taksi.

Tenyata, jarak tempuh via taksi lumayan lama… walaupun keliatannya tuh kuil cuma di seberang sungai. Dikarenakan macet dan jalur lalu lintas yang mutar-muter. Akhirnya kami sampai di Wat Yannawa,, padahal ini bukan atraksi turis utama… tapi bangunannya udah bagus banget. Apalagi di kompleks Grand Palace, ya? pikirku…

image

Wat Yannawa

wpid-20150212_102530.jpg

Continue reading

Kesanku tentang Malaysia: Kuala Lumpur

Kesanku tentang Malaysia, terutama Kuala Lumpur adalah… suasananya damai… penduduknya kalem-kalem, sholeh… karena sebelum adzan dikumandangkan aja, pegawai kantorannya dah pada ngumpul di masjid untuk dengerin ceramah dan sholat jamaah.

Terhadap turis yang terlihat bingung dengan jalan, mereka dengan senang hati membantu… bahkan supir taksi sampai turun dari taksinya untuk menerangkan pada kita bahwa jarak tujuan kita dekat hanya 1 menit dan tidak perlu pakai taksi, ketika kami hendak naik taksinya…

Padahal di Indonesia saja, klo ketauan bukan warga lokal bisa aja diakal-akalin agar keluar uang banyak… untuk jarak yang dekat. #pengalaman

Trus, dari logat kita mereka biasanya suka nanya, “dari Indonesia, ya?”, “dari mana? Jakarta atau Jawa…”. Karena kami tinggal di Lampung, trus aku jawab aja… “dari Sumatera”.

Kalau naik taksi, biasanya Bapak yang duduk di depan dan suka ngajakin supirnya ngobrol… Supir taksi pertama yang kami naiki dari KL Sentral menuju hotel ternyata adalah keturunan orang Padang. Dia bertanya, gimana kabar Indonesia dengan presiden barunya? Berhubung kami ke sana menjelang Jokowi dilantik, yakni tanggal 19, 20, 21 Oktober 2014.

Jadi, kami ga tau lho…!, kehebohan di Indonesia pas lagi rame2nya pelantikan presiden baru, he3x.

Menurutku orangnya ramah-ramah dan tidak terlalu usil dengan orang lain seperti di Indonesia, yang suka nggosip… Bersih, tertib dan tindak kriminalnya rendah. Kami merasa aman berjalan-jalan di sana, walaupun di negeri yang asing.

Dan lagi, sistem transportasinya bikin ngiler…

Bikin Jakarta seperti itu, dong!

Pokoke nyaman banget jalan2 di sana, dan bikin betah… aku aja ampe males pulang. Pinginnya tinggal di sana, dalam jangka waktu yang lama.

Cintaku tertinggal di Malaysia, he3x

Yang aku suka adalah suasana Islami yang kuat berpadu dengan modernitas dan teknologi yang maju, namun masih menyisakan ruang untuk tradisi dan budaya 3 etnis utama, yakni Melayu, China dan India.

Juga bangunan-bangunan peninggalan jaman kolonial, yang masih berdiri megah dan terawat.

Patut ditiru Indonesia!

Sebagai sesama rumpun bangsa Melayu, saya salut dengan kemajuan yang dicapai Malaysia. Malaysia adalah model negara muslim modern, yang tidak hanya mencapai kesolehan sosial saja, tapi juga maju dalam peradaban.

3 Days in Malaysia: Kuala Lumpur (Day III)

Hari ini kita cuma jalan2 ke Little India, krn sekalian perjalanan pulang ke airport melalui KL Sentral untuk naik kereta KLIA Ekspres.

Di dekat stasiun KL Sentral, terdapat wilayah Brickfields yang merupakan wilayah komunitas India, dengan julukan Little India.

Setelah check out dr hotel, kami naik taksi ke KL Sentral. Karena jalan terlihat sepi, Bapak bertanya pada supir taksi. Ternyata, hari ini adalah hari “cuti” atau hari libur nasional. Karena ada perayaan “Deepavali”, yakni hari raya orang India.

Justru semalam adalah puncaknya, kalau hari ini toko di Little India banyak yang tutup.

Makanya kok semalam ada yg nyalain kembang api dan terlihat dari jendela hotel. Seperti perayaan tahun baru saja…, pikirku.

Krn kaki ibuku sakit, jadi Ibu dan Bapak nunggu aja di KL Sentral. Aku dan adikku berjalan kaki kira2 15 menit ke Little India.

image

Continue reading

3 Days in Malaysia: Kuala Lumpur (Day II)

Day II : Masjid Jamek, Abdul Samad Building, Shri Mahamariamman Temple, KTM Old Railway Station, KTMB Headquarters

Hari ini, karena bangun agak siang dan krn sempet muter2 di stasiun LRT untuk cari terminal bis Pudu, krn rencana awalnya pgn ke Penang. *padahal waktunya ga banyak, dan akhirnya ga jadi…

Pelajaran: supaya plan yang dibuat realistis, sesuai dengan jumlah hari yang tersedia.

Daripada ngabisin waktu ke luar kota…, jadinya kita jalan2 di dalem kota Kuala Lumpur.

Pertama-tama kita mampir ke bangunan masjid unik di samping stasiun LRT, yang ternyata merupakan Masjid Jamek. Tempat ibadah dan sekaligus spot wisata sejarah. Bangunan ini memiliki ciri khas arsitektur mughal India.

image

Continue reading

3 Days in Malaysia: Kuala Lumpur (Day I)

It was a rainy day in Malaysia…, jadi tidak terlalu banyak tempat yang kami kunjungi.

Day I: Petronas, KLCC, Central Market dan Petaling Street

Begitu tiba di bandara KLIA 2, kami membeli SIM Card utk menggunakan smartphone di wilayah Malaysia dg hemat. Kami menggunakan provider Hotlink, yg ternyata tdk harus mendaftar paket internet terlebih dahulu spt di Indonesia krn sudah otomatis dalam layanannya.

Setelah itu melihat jam sudah siang, dan krn ingin segera jalan-jalan… kami mengambil transportasi KLIA Ekspres utk menuju KL Sentral, Kuala Lumpur seharga 35 RM dg waktu perjalanan sekitar 30 menit. *Informasi ini kudapat dari buku Hairun Fahrudin yg sangat membantu*

image

adikku @YunusYulfianto dalam KLIA Express

Continue reading