Abdul Muthalib

Perhatikan apa yang terjadi saat Abrahah hendak menyerang Ka’bah…

Ka’bah adalah rumah Allah, pemilik-Nya adalah Allah. maka Allah yang menunjukkan kekuasaan-Nya untuk melawan manusia-manusia yang angkuh. Karena berusaha menghancurkan Ka’bah berarti melawan Allah.

Abdul Muthalib menyadari hal ini, sehingga ia tidak begitu ‘ngotot’ melawan Abrahah. Ia hanya berusaha semampunya, untuk mencegah tindakan Abrahah. Namun, jika usaha itu tidak berhasil… ia serahkan pada Allah, Sang pemilik Ka’bah itu sendiri

Abdul Muthalib yang juga kakek dari Nabi Muhammad, adalah pemimpin Mekkah saat itu.

Ia berkata, “Demi Allah, kami tak ingin berperang dan kami tak punya kekuatan untuk melawan kalian. Akan tetapi, jika Abrahah ingin menghancurkan Baitullah, lakukan sesuka hati. Namun, aku yakin, Allah tak membiarkan rumah-Nya dihancurkan.”

source:
Kisah pasukan gajah mau hancurkan Ka’bah diserang burung ababil
Kesombongan Raja Abrahah

Jiwa Besar Bung Karno untuk Menghindari Pertumpahan Darah

supersemar

Salah satu hal yang saya kagumi dari Bung Karno adalah kecintaannya pada rakyat…

Bahkan, saat-saat menjelang turun dari kekuasaan; yang beliau pikirkan adalah keselamatan rakyatnya.

Sudah diketahui umum, bahwa pelengseran Bung Karno oleh Pak Harto… tidak berlangsung dengan adil & sukarela. Dikarenakan Pak Harto menyalahgunakan Supersemar, untuk mengambil alih pemerintahan.

Saat itu, Bung Karno sebenarnya bisa… menggalang pasukan militer yang masih setia padanya, untuk menggagalkan kudeta Pak Harto. Namun, Bung Karno memilih untuk membiarkan Pak Harto mengambil alih kekuasaan dan segera meninggalkan Istana Negara

Karena Bung Karno tidak ingin rakyatnya terlibat perang saudara, dan menjatuhkan darah satu sama lain.

Apalagi pihak asing tentunya akan berupaya untuk berkuasa lagi; bila terjadi huru-hara di Indonesia.

Pantang buat Bung Karno, bila darah rakyat harus jatuh… demi kekuasaannya.

Pemimpin besar, yang ada dalam pikirannya adalah keselamatan & kesejahteraan rakyatnya.

Bandingkan dengan pemimpin saat ini, yang tidak segan-segan menjatuhkan darah rakyat… demi hegemoni kekuasaan & golongannya.

source:
Aku Tahu Gerakan Jenderal Soeharto
Bung Karno: Biar Aku Hancur Daripada Perang Saudara

Tidak Ada Pemimpin Besar yang Tidak Lahir dari Penderitaan

eQavccDpVT

Setiap calon pemimpin besar, pasti pernah merasakan penderitaan. Bahkan itu adalah bagian dari kesehariannya, bagaikan kawah candradimuka yang menggembleng mereka… menjadi sosok2 pahlawan.

Sering kita dengar pemimpin-pemimpin besar yang dipenjara, dikucilkan, diasingkan, karena mereka benar-benar memperjuangkan idealismenya & memikirkan penderitaan rakyat.

Mulai dari Nabi Muhammad SAW, sampai di tingkat nasional… Bung Karno dan Bung Hatta yang mengalami pembuangan di berbagai pelosok Indonesia dan merasakan dinginnya penjara.

Tapi mereka menjalani itu semua dengan kesabaran, keteguhan & pasrah pada Ilahi. Anehnya, sekalipun dipenjara… perhatian mereka tidak luput dari perjuangan yang mereka rintis. Meski ditahan di Sukamiskin, Bung Karno masih mencari kabar dan memantau perkembangan PNI yang dipimpinnya.

14058919

Kali ini saya ingin mengutip sebuah kisah haru dari penahanan Bung Hamka, tokoh ulama besar, yang dibui… atas fitnah yang tidak berdasar:

Hamka dituduh terlibat dalam upaya pembunuhan Sukarno (tuduhan subversif). Dia dianggap ikut melakukan makar terhadap penguasa.

Sebagai orang Masjumi ia dianggap tentu anti Pancasila.

Dia kemudian ditahan dan menjalani hari-hari berat di dalam tahanan: Pemeriksaan nonstop disertai intimidasi psikis. Dalam surat rahasianya kepada Rusydi, Hamka berkisah, “Selama sebulan ayah diperiksa oleh satu team polisi dengan sorot lampu, dituding, dihina sejadi-jadinya,” tulis Rusydi mengutip keterangan ayahnya.

Hamka memang tak sempat mencicipi setrum pemeriksa, tapi tangannya kerap merasakan sundutan rokok. Pernah suatu kali setelah dibentak-bentak dia ditelanjangi hingga tinggal mengenakan kolor. Akibatnya, pada suatu pagi, ujar Hamka sebagaimana dimuat di buku Rusydi, dia sampai menangis ketika berdoa lantaran merasa tak pernah melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan.

Keadaan mulai berubah setelah Hamka membuat keterangan tertulis sesuai yang diinginkan pemeriksa. Keterangan palsu itu dibuat demi menghindari siksaan fisik. Hamka melakukannya setelah dibujuk Kolonel Nasuhi, perwira Siliwangi yang terlibat penggranatan kantor PKI pada 1957, yang juga ditahan di tempat sama.

Pada 24 Maret 1964 keadaannya mulai berubah. Tim pemeriksa mendapatkan kesimpulan sementara, semua tuduhan kepada Hamka hanyalah fitnah. Sumbernya berasal dari Hasan Suri, anggota Pemuda Rakyat di Ciganjur yang menyamar jadi anggota Gerakan Anggota Pembela Islam (GAPI) di mana Hamka disebut menjadi salah satu pengurus.

Kabarnya Hasan adalah orang yang pertama kali memberikan keterangan tentang rapat gelap di Tangerang. Pengakuan itu menimbulkan kecurigaan polisi setelah dikonfrontir kepada para tahanan lain. Selain itu, seperti tertulis dalam buku Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimejo, 75 Tahun, “Ternyata dia (Hasan Suri-Red) sengaja diperintahkan bermain sandiwara ikut ditahan untuk menjebak dan menyempurnakan fitnah terhadap pemimpin-pemimpin Islam.” Tak jelas siapa yang memerintah Hasan Suri untuk bermain sandiwara memfitnah Hamka.

hamka1

Akhirnya masa pembebasan Hamka tiba. Saat Sukarno mulai tumbang dan Soeharto merangkak naik ke puncak kekuasaan, Hamka keluar dari tahanan pada Mei 1966. Buah dari pemenjaraan itu bukan hanya pengalaman pahit melainkan pula berjilid buku tafsir Alquran yang dinamainya Tafsir Al Azhar.

————————

Berbahagialah bila Anda sekarang mengalami penderitaan/penggemblengan mental yang besar… sebab, siapa tahu Anda kelak adalah “calon pemimpin besar”. Insya Allah

source:
– Di Balik Jerajak Besi Penguasa. MF Mukthi. Majalah Historia Nomor 21 Tahun II 2015.

Filosofi Sistem Macapat

Karena sejak kecil saya suka baca cerita-cerita tentang Wali Songo, ada satu tema yang menarik buat saya… yakni, tentang penerapan sistem macapat (mocopat) dalam membangun tata letak lingkungan di pusat pemerintahan.

Kalau kita sering melihat pusat kota di Jawa, biasanya terletak di alun-alun… pernahkah kita bertanya, kalau itu bukan kebetulan?

Sistem tata kota yang ditinggalkan Wali Songo, dinamakan macapat. Yakni pusat kerajaan, yang biasanya terletak di alun-alun atau lapangan berbentuk segi empat (papat). Alun-alun sebagai tempat berkumpulnya rakyat, yang dikelilingi oleh pusat pemerintahan, tempat ibadah, pasar dan penjara. Lokasi-lokasi penting itu diatur sesuai dengan empat penjuru mata angin.

Inilah makna yang terkandung dari sistem tata letak tersebut:

materi-sejarahklsx2semester-36-638

Di sebelah Selatan terdapat pusat pemerintahan di mana Bupati menjalankan tugasnya, di sebelah Barat terdapat masjid tempat beribadah sehingga diharapkan Bupati dan segenap pamong prajanya tidak melupakan urusan keagamaan, di sebelah Utara terdapat pasar tempat bertemunya para kawula dan tempat dimana roda ekonomi dijalankan, di sebelah Timur terdapat bangunan penjara di mana siapapun yang melanggar aturan maka harus dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Di tengah biasanya terdapat alun-alun dan di situ terdapat dua pohon beringin.

alun-alun-kidul-yogyakarta

Alun-alun Kidul Yogyakarta

Paling jelas dapat kita lihat di alun-alun kota Jogja,, di beberapa kota lainnya… lokasi-lokasi tersebut mungkin ada yang telah digeser oleh kehadiran mall.

alun-alun-utara

Alun-alun Utara Yogyakarta

Sistem tata kota yang digagas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga tidak sekedar masalah sistem tata ruang saja, namun di balik itu banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Seperti Kantor Bupati selalu menghadap ke Utara membelakangi gunung dan menghadap ke arah laut. Ini memiliki makna bahwa seorang pimpinan harus meninggalkan sifat tinggi hati dan kesombongan sebagimana sifat gunung yang tinggi, dan pemimpin harus memiliki hati yang luas seluas samudra. Tentang alun-alun adalah punjer (pusat), dan perwujudan keberagaman masyarakat. Alun-alun berasal dari kata bahasa Arab “allaunu-allaunu” yang berarti beraneka warna jadi pemimpin adalah untuk masyarakat majemuk bukan golongan. Di tengah alun-alun terdapat dua beringin kembar yang melambangkan sumber hukum pemerintahan harus sejalan dengan dua pusaka peninggalan Nabi Muhammad SAW untuk umatnya yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.

————————

Yang saya kagumi dari masyarakat nusantara zaman dahulu, karena mereka sangat berpegang pada filosofi hidup & menerapkannya pada bangunan-bangunan yang mereka dirikan.

source & reference:
Filosofi Macapat
Alun-alun sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang

KEN DEDES: Perempuan Nareswari yang Menurunkan Raja-raja Jawa

Arca Prajnaparamita yang dianggap mewakili kecantikan Ken Dedes

Arca Prajnaparamita yang dianggap mewakili kecantikan Ken Dedes

Aku kurang menguasai sejarah Indonesia di jaman kerajaan dulu…, tapi tokoh Ken Dedes ini istimewa banget. Dan aku jadi ingin mendokumentasikan tentang dia dalam blog-ku ini.

Ken Dedes adalah pemeluk Buddha yang taat, ia adalah putri dari pendeta Buddha bernama Mpu Purwa. Ken Dedes dikenal sebagai wanita nareswari, yakni wanita yang utama… Ia selama hidupnya tercatat nglakoni karma amandangi yang artinya bertingkah laku sempurna, tanpa cela dan salah langkah.

Karena keistimewaannya ia diperebutkan pria-pria, pertama Tunggul Ametung… akuwu Tumapel yang menculiknya karena tidak sabaran menunggu ayah Ken Dedes, Mpu Purwa yang sedang bertapa. Kemudian Ken Arok…

Ken Arok adalah pemuda berandalan yang bekerja sebagai pengawal kerajaan. Ia tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes tersingkap dan mengeluarkan cahaya. Ia lantas berkonsultasi dengan penasehat spiritualnya, Lohgawe. Menurut Lohgawe, hal tersebut menandakan bahwa Ken Dedes adalah wanita nareswari atau yang paling utama. Di mana barangsiapa yang memperistrinya akan menjadi maharaja, meskipun ia seorang pendosa. Juga akan menurunkan raja-raja besar di Jawa.

Tertarik dengan ramalan tersebut, Ken Arok berusaha mendapatkan Ken Dedes. Ia memesan keris Mpu Gandring, untuk membunuh Tunggul Ametung. Dengan kelihaiannya, Ken Arok dapat memperoleh tahta Tunggul Ametung, sekaligus memperistri Ken Dedes.

Raja-raja Majapahit adalah keturunan Ken Dedes, seperti Raden Wijaya dan Hayam Wuruk. Juga raja-raja dari kerajaan Demak, Pajang, Mataram, hingga Kesultanan Jogjakarta dan Kasunanan Surakarta yang masih ada hingga saat ini.

Setelah membaca berbagai artikel tentangnya, menurutku Ken Dedes menjadi wanita nareswari… karena ikhtiarnya untuk selalu dekat dengan Sang Pencipta. Ia menjaga akhlaknya, menempa dirinya agar rendah hati, bertingkah laku mulia dan tidak sombong dengan kecantikannya.

source:
Ken Dedes, Wanita Utama dari Desa Panawijen
Ideologi Masyarakat Jawa yang Terkandung dalam Mitos Keutamaan Ken Dedes
Ken Dedes, Wanita Terbesar di Tanah Jawa
Mengenal lebih dekat Ken Dedes, sang permaisuri kerajaan Singasari

Saat Bung Karno Harus Menandatangani Vonis Mati Kartosuwiryo

wpid-bung-karno-dan-kartosoewirjo.jpg

Bung Karno dan Kartosuwiryo adalah sesama anak kos di rumah HOS Cokroaminoto pada masa muda.

Mereka mengambil ideologi yang berbeda, Bung Karno nasionalisme… sementara Kartosuwiryo Islam garis keras.

Kartosuwiryo memimpin gerakan pemberontakan DI/TII di saat republik ini baru merdeka. Dan merencanakan berbagai percobaan pembunuhan pada Bung Karno.

Kartosuwiryo akhirnya tertangkap dan pengadilan menjatuhkan vonis hukuman mati terhadapnya.

Untuk melaksanakan hukuman mati itu… harus mendapatkan izin dari Bung Karno, sebagai presiden.

Bung Karno mengalami dilema, karena Kartosuwiryo adalah kawan masa kecilnya. Ia senantiasa teringat masa muda, di mana mereka sering diskusi dan bercanda bersama.

Sejak ditangkap hingga tiga bulan kemudian, Bung Karno selalu menyingkirkan berkas kertas vonis mati atas diri Kartosuwiryo. Keesokan hari, manakala di antara berkas yang harus ditandatangani bertumpuk di atas meja kerja, dan ia dapati kembali berkas vonis mati bagi Kartosuwiryo, ia pun menyingkirkannya. Begitu berulang-ulang, hingga klimaksnya Bung Karno begitu frustrasi dan ia lempar berkas vonis tadi ke udara dan bercecer di lantai ruang kerjanya.

Adalah Megawati sang putri yang menyadarkan sang ayah, agar menepati dharmanya sebagai kepala negara, kepala pemerintahan serta tidak mencampur-adukkan antara hakikat persahabatan dengan tugas dan fungsinya sebagai kepala negara.

Meski mereka adalah sahabat kecil, namun saat ini Kartosuwiryo adalah musuh negara. Yang mana bila dibiarkan tetap hidup, dapat mengancam kedaulatan negara. Ia telah melakukan berbagai tindakan ‘merusuh’ di Indonesia.

Bung Karno harus bertindak tegas, meski pada perasaannya sendiri.

Akhirnya Bung Karno menandatangani berkas vonis mati Kartosuwiryo. Walaupun ia sampai berurai air mata saat menatap foto sahabat lamanya.

source:
Bharatayudha versi Bung Karno versus Kartosoewirjo
Bung Karno dan Kartosuwirjo, Saling Ejek, Saling Bunuh

Sejarah ’17’ Agustus

Indonesia_declaration_of_independence_17_August_1945

Sebentar lagi, mau peringatan dirgahayu proklamasi RI.

Enaknya kilas balik sejarah… di balik penentuan, kenapa proklamasi harus tanggal 17 Agustus 1945.

Saat itu terdengar kabar Jepang dibom nuklir dan menyerah pada Sekutu. Angkatan muda pejuang, mendesak para angkatan tua seperti Bung Karno agar segera melaksanakan proklamasi.

Mereka bahkan ‘mengamankan’ para tokoh tua ke Rengasdengklok.

Sampai-sampai Bung Karno diancam dengan todongan senjata, agar segera memproklamirkan kemerdekaan.

Maklum, darah muda… tidak sabaran dan grusa-grusu.

Padahal Bung Karno sudah merencanakan dengan matang kapan tanggal terbaik, untuk proklamasi.

Bung Karno sudah memikirkan tanggal terbaik untuk itu adalah tanggal 17.

“Mengapa justru tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?”, kata para pemuda.

Bung Karno adalah penganut kebatinan, yang percaya pada tanggal baik dan isyarat-isyarat alam.

Saat itu adalah bulan Ramadhan, dan adanya kekalahan Jepang, merupakan isyarat dari Tuhan akan kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno merenung, bahwa 17 Ramadhan adalah saat turunnya Al-Qur’an. Dan jumlah rakaat dalam sholat sehari semalam adalah 17. Oleh karena itu, menurut Bung Karno angka 17 adalah angka ‘istimewa’, yang baik untuk melaksanakan proklamasi.

source:
Angka 17, Angka Keramat