Ketika Rasulullah Wafat

Kisah ini hanya saya sadur dari beberapa artikel di internet:

Walaupun Umar r.a mempunyai keberanian yang tinggi, namun ia tidak dapat menahan kesedihannya ketika Rasulullah saw wafat. Dengan rasa sedih dan gemetar, dia berdiri dan mengacungkan pedangnya sambil berteriak, “Barangsiapa mengatakan Rasulullah saw telah wafat, akan aku penggal lehernya. Rasulullah saw hanya pergi menjumpai Tuhannya seperti Nabi Musa a.s pergi ke gunung Thursina untuk menemui Tuhannya. Sebentar lagi beliau akan kembali. Barangsiapa menyebarkan berita bohong ini, maka akan kupotong tangan dan kakinya!”

Sementara Umar tengah berbicara di depan orang–orang, Abu Bakar keluar dan menyuruhnya untuk duduk. “Wahai Umar, duduklah!” ujar Abu Bakar.

Umar enggan menuruti suruhan itu, akan tetapi orang–orang segera meninggalkanya dan menghadapkan wajah mereka ke arah Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar r.a berkhutbah

“Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa di antara kalian yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah hidup dan takkan pernah mati.”

Selanjutnya dia membaca ayat al-Qur’an yang berbunyi:

“Dan tidaklah Muhammad itu kecuali hanya seorang rasul, yang sudah ada beberapa orang rasul sebelumnya. Apakah jika dia mati atau dibunuh kamu akan kembali menjadi kafir? Barangsiapa menjadi kafir, dia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Dan Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”(Qs. Ali Imran ayat 144)

source:
Reaksi Umar r.a. dan Sikap Abu Bakar r.a. atas Wafatnya Rasulullah
Kesedihan Para Sahabat Saat Rasulullah Wafat

Wali Allah

Siapakah wali Allah itu?

Beruntunglah yg bisa bertemu dg wali-wali Allah… apalagi di zaman seperti ini

Sebuah hadits menyebutkan bahwa di dunia ini ada sekelompok orang yang amat dekat dengan Allah. Bila mereka tiba di suatu tempat, karena kehadiran mereka, Allah selamatkan tempat itu dari tujuh puluh macam bencana. Para sahabat ra. bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah mereka itu dan bagaimana mereka mencapai derajat itu?” Nabi yang mulia menjawab: “Mereka sampai ke tingkat yang tinggi itu bukan karena rajinnya mereka ibadah. Mereka memperoleh kedudukan itu karena dua hal: ketulusan hati mereka dan kedermawanan mereka pada sesama manusia.”

Itulah karakteristik para wali. Mereka adalah orang yang berhati bersih dan senang berkhidmat pada sesamanya. Mereka ingin menyebarkan cinta itu pada seluruh makhluk di alam semesta.

source:
– Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny. 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah. 

Kambing yang Disembelih Nabi Ibrahim adalah Kambing yang Dikurbankan Habil

Mumpung masih suasana Idul Adha, aku mau cerita detil menarik… yang mungkin beberapa di antara kita belum tahu.

Ternyata kisah pengorbanan Nabi Ismail ada hubungannya dengan kisah Habil dan Qabil, dua anak Nabi Adam.

Habil dan Qabil kan masing-masing memiliki saudara kembar perempuan. Habil diperintahkan menikah dengan saudara kembar Qabil, dan Qabil dengan saudara kembar Habil. Qabil menolak, dan justru ingin menikahi saudara kembarnya sendiri… karena lebih cantik dari saudara kembar Habil.

Saat itu anak manusia yang ada hanya dari keturunan Nabi Adam, sehingga mereka dikawinkan silang.

Untuk menentukan siapa yang berhak menikahi saudara kembar Qabil, maka Allah menurunkan wahyu pada Nabi Adam as. agar memerintahkan mereka berkurban. Siapa yang kurbannya diterima, maka dia yang berhak menikahi saudara kembar Qabil.

Habil dan Qabil

Habil dan Qabil

Habil sebagai seorang peternak, mempersembahkan kambing yang terbaik (gemuk, sehat)… sementara Qabil yang bekerja sebagai petani, malah mempersembahkan hasil pertanian yang buruk (buah-buahan yang busuk).

Dan kurban yang diterima adalah kurban dari Habil… kambing yang dikurbankan Habil kemudian diangkat ke surga. Di sana dia dipelihara, sampai kemudian diturunkan lagi ke bumi pada saat peristiwa pengorbanan Ismail. Kambing itu dijadikan pengganti bagi Ismail yang hendak disembelih Nabi Ibrahim atas perintah Allah.

source:
Kronologi Pembunuhan Habil 
Kisah Kambing Kurban

How to recognize the real mother

Judgment of Solomon

Ada sebuah kisah yang akrab kita dengar…, yakni kisah perebutan seorang bayi oleh dua orang yang mengaku ibunya.

Nabi Sulaiman menjadi hakim bagi dua orang ibu tersebut.

Karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya Nabi Sulaiman memerintahkan agar bayi itu dibelah menjadi dua… agar adil.

Salah satu ibu setuju dengan keputusan Nabi Sulaiman. Dan yang lainnya, malah memohon agar bayi itu tidak dibelah. Ia bahkan merelakan sang bayi untuk diberikan pada ibu lainnya. Lebih baik bayi itu tetap hidup, walau dirawat orang lain.

Dengan demikian Nabi Sulaiman mengetahui siapa ibu sebenarnya. Itu merupakan trik Nabi Sulaiman, karena ibu kandung yang asli tentu tidak tega melihat anaknya terluka… bahkan memilih merelakannya.

Demikianlah ketulusan seorang ibu, di mana anak bukan sekedar hak milik. Meski dirawat orang lain… ia tetap mendo’akan keselamatannya.

source:
Ibu Kandung Sebenarnya

Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz

Klo dalam cerita dongeng Barat ada kisah-kisah seperti “Gadis Penjual Korek Api”, “Cinderella” dsb… yang merupakan kisah fiksi/rekaan.

Maka dalam sejarah Islam ada kisah nyata,, yang benar-benar terjadi, mengundang decak kagum dan mengubah jalan sejarah, yakni ttg “Gadis Penjual Susu”.

Umar bin Khattab saat sedang menjabat sebagai Amirul Mukminin atau Khalifah umat Islam, sering melakukan gerakan “turba” -istilah jaman Pak Harto utk ‘turun ke bawah’- atau incognito, yakni inspeksi di malam hari untuk mengetahui kondisi rakyat yang dipimpinnya.

Tidak sengaja suatu malam, ia mendengar percakapan seorang ibu dengan anak gadisnya di sebuah rumah.

Mereka adalah penjual susu, dan sang ibu memerintahkan anaknya untuk berbuat curang: menambahkan air pada susu yang mereka jual agar keuntungan menjadi berlipat.

Kata ibu, “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”.

Anaknya menjawab, “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini.”

Si ibu masih mendesak, “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu.”

Balas si anak, “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu.”

Umar bin Khattab terharu melihat kejujuran gadis itu. Ia menyuruh pengawalnya menandai pintu rumah tersebut.

Keesokan harinya, Umar memanggil anaknya Ashim dan menyuruhnya menikah dengan gadis tersebut.

Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.

Dari perkawinan tersebut lahirlah anak perempuan bernama Laila sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul Aziz.

Jadi Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Umar bin Khattab.

Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu khalifah besar umat Islam, yang di masa pemerintahannya terjadi pemerataan kemakmuran. Hingga tidak ada lagi orang yang pantas menerima zakat.

Ia mewarisi sifat Umar bin Khattab yang memimpin dengan tegas dan adil. Ia juga terkenal zuhud.

Ia mengembalikan pemerintahan seperti zaman Khulafaur Rasyidin, oleh karena itu ia juga dijuluki sebagai Khulafaur Rasyidin ke-5.

source:
Umar bin Abdul-Aziz

Kisah Cinta Ali dan Fatimah

ALI FATHIMAH2

Dalam sejarah Islam, dan dalam kisah nabi dan sahabat, ternyata ada juga kisah cinta yang mengharukan…

Ali bin Abi Thalib, pemuda kebanggaan Rasullulah, ternyata lama memendam perasaan pada Fatimah, putri Rasulullah.

Ia mengagumi Fatimah, teman mainnya sejak kecil, tapi dalam diam. Ia ingin melamar Fatimah, tapi hartanya tidak seberapa, ia blm mampu membeli mas kawin.

Hingga ia dengar Abu Bakar, sahabat Rasululullah, hendak melamar Fatimah.

Hati bergetar, ia tahu Abu Bakar lebih darinya. Ia pasrah saja, jika ini memang ketentuan Tuhan. Ternyata Rasulullah hya mendiamkan lamaran itu, yg berarti ia menolaknya.

Lalu terdengar kabar bahwa Umar bin Khattab hendak melamarnya. Ali lagi-lagi bergetar, ya Tuhan inikah ujian cinta baginya.

Lagi-lagi lamaran itu ditolak Rasulullah. Lalu Ali melamar Fatimah, dan diterima oleh Rasulullah walaupun hanya dengan mas kawin berupa baju besi.

Ternyata Rasulullah telah mengetahui perasaan Ali, hingga ia menolak lamaran dari kedua sahabat sebelumnya.

Di hari pernikahan, Fatimah menggoda Ali… bahwa sebelum menikah dg Ali, ia sebenarnya pernah mencintai seorang pemuda. Namun sayang pemuda itu sudah menikah saat ini.

Dengan rasa cemburu, Ali bertanya, “Siapa pemuda itu?” Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah kamu.”

Ternyata tidak hanya Ali yg memendam perasaan dan kekaguman dalam hati, Fatimah pun sudah lama mencintainya. Sama-sama cinta, tapi tidak saling tahu… Baru di malam pengantin, mereka mengakuinya.

Keduanya hanya menyimpan rasa itu dalam hati, dan memasrahkan pada Allah. Jika Allah menghendaki, kedua insan itu pun akan bisa saling memiliki. Mereka menjaga cinta mereka dl koridor kesucian. Mereka tahu Allah Maha Melihat, dan tidak akan keliru memasangkan jodoh pada mereka.

Jihad dalam cinta, adalah menjaga kesucian cinta… hingga menjadi halal baginya.

*Banyak referensi ttg kisah ini, di internet. Saya hya menuliskan garis besarnya saja.