BEAUTY AND THE BEST: Dilema Pendidikan

beauty and the best

Sabtu kemaren abis nonton film ini… lumayan bagus, lucu & bikin kita mengenang masa SMA.

Inti ceritanya seputar Ira & Kelly, juga Aldo yang merupakan sepupu Kelly.

Ira adalah siswi SMA yang lebih sering ngikutin kegiatan modelling daripada belajar sungguh-sungguh, sementara Kelly adalah cewek pinter yang fokus banget di pendidikan.

Suatu saat, Ira tanpa sengaja bisa memiliki nilai lebih tinggi dari Kelly untuk pelajaran Kimia… meski tanpa menggunakan contekan. Hal itu menimbulkan kecurigaan Kelly, temen-temen segengnya dan guru Kimia. Mereka semua tidak percaya, kalau Ira bisa meraih nilai tinggi tanpa mencontek. Dan hal ini harus dibuktikan oleh Ira, dengan meraih nilai yang tinggi pula di ujian-ujian selanjutnya.

Belum lagi Kelly juga menantang Ira,, mereka bertaruh klo Ira nilainya rendah… ia harus mau melakukan apapun yang diperintahkan Kelly. Sebaliknya, bila Kelly yang kalah… maka Kelly yang harus jadi asisten Ira.

Ira berusaha mati-matian untuk mengalahkan Kelly, tapi ia butuh bantuan dari orang yang lebih pandai dari Kelly, yakni Aldo. Aldo adalah sepupu Kelly; mereka berdarah bule.

Tapi aku heran deh, emangnya klo bule berarti secara ‘pasti’ lebih pinter dari pribumi? Dalam film ini kok kesannya, mengistimewakan turunan bule. *sindrom inferior

Tipe-tipe cowok kaya Aldo ini emang sering aku temui di dunia pendidikan, pas SMA, pas kuliah. Biasanya emang cowok-cowok pinter yang hobi banget dengan dunia sains.

Ya, tipenya Rangga klo di film AADC. Aku kenal beberapa temen, yang sifatnya kayak gitu.

Asli, lho… klo Rangga kan cuma peran di film.

Biasanya sih, tipe cowok yang dingin… susah didekati.

Mereka itu klo memahami dunia sains/pendidikan, bagaikan memahami puisi yang puitis. Menikmati banget… kayak Aldo, di film ini. Jadi peristiwa Kimia, Fisika, Biologi itu bener-bener dipahami filosofinya, makanya mungkin itu yang bikin mereka mudah memahami pelajaran.

Aldo juga nerapin ilmu-ilmu saat SMA di dunia nyata, yang mungkin buat kita menjemukan… seperti di jurusan IPA yang cenderung hafalan. Misalnya, dia bisa menyimpulkan: kalau Ira merupakan orang dengan tipe belajar kinestetik, klo pohon meranggas/menjatuhkan daun-daunnya yang kering, agar bisa tumbuh lagi daun hijau yang baru.

Jadi, cowok2 geek itu sebenarnya romantis… karena teori2 sains aja, sampe dimaknai sedalam-dalamnya.

~~~~~~~~~

Satu hal yang bikin aku sempat nangis, pas adegan Kelly dipaksa ibunya ninggalin hobinya di musik… demi masuk kedokteran, jurusan favorit.

Padahal, Kelly kan aslinya dah pinter… ga perlu dipaksa & diatur juga dia pasti ngerti, klo prioritas utama adalah pendidikan. Biarlah dia menekuni musik, sebagai hobi. *toh, ga ganggu pendidikannya juga kan?

SNOW WHITE AND THE SEVEN DWARFS: Rasa Iri yang Menjerumuskan

Snow White

*barusan nonton film klasik ini…

Kita semua tahu ya inti kisahnya. Ratu yang iri pada kecantikan anak tirinya, Snow White.

Mirror mirror on the wall. Who is the fairest one of all?

Sebenernya Ratu ini kan udah berkuasa di kerajaan, kenapa dia malah takut banget sama kecantikan Snow White? Padahal kan ga mengganggu kekuasaannya

Akhirnya karena terobsesi menjadi yang tercantik di kerajaan, ia menyuruh seorang pemburu untuk membawa Snow White ke hutan dan membunuhnya.

Sang pemburu tidak sampai hati membunuh sang putri, ia menyuruh Snow White pergi dan bersembunyi.

Snow White menemukan rumah kurcaci yang kotor dan berantakan. Ia lalu membersihkan rumah kurcaci itu. Para kurcaci senang melihat rumah mereka rapi… ia pun lantas diizinkan untuk tinggal di rumah mereka.

Snow White seperti ibu bagi para kurcaci. Ia telaten merawat mereka, membuat mereka mau mandi dan menyiapkan makanan buat mereka.

Ratu akhirnya mengetahui Snow White belum mati. Lalu ia berencana ‘menangani’ Snow White sendiri… Ia membuat ramuan yang mengubahnya menjadi sosok nenek tua yang baik hati dan menawarkan sebuah apel beracun pada Snow White.

Snow White yang polos… tertipu dg penampilan ratu yang sedang berpura-pura jadi orang baik ini. Ia pun terbujuk untuk mencicipi apel pemberian sang nenek tua.

Yang katanya dapat mengabulkan segala keinginan…, sementara Snow White ingin sekali bertemu pangeran impiannya.

Akibat ia terbujuk melakukan cara-cara instan untuk mencapai keinginannya, Snow White pun terpedaya.

Ratu tersebut mendapatkan yang ia inginkan, yakni tewasnya Snow White. Akan tetapi ia juga tidak dapat menikmati kemenangannya… karena dalam versi klasik ini, ratu akhirnya terperosok ke dalam jurang.

Ratu ini terkenal jahat, licik dan suka menggunakan black magic.

Di akhir kisah, Snow White mendapat keinginannya: Pangeran yang datang untuk membawa Snow White ke kastilnya.

————————

Film-film Disney selalu bertema sama: gadis yg baik hati versus wanita yg jahat, baik itu evil queen, step mom, step sister, witch… dll.

Mungkin untuk memberi optimisme pada anak-anak untuk setia pada nilai-nilai kebaikan, seberapa berat pun yg harus dihadapi.

Dan bahwa perjuangan mereka setia pada kebaikan akan selalu menghantarkan pada hasil yang baik pula.

GET MARRIED 5: Sindiran Sosial

get married 5

Minggu lalu nonton film ini di bioskop bareng Ibu.

Kita kan dah lama ga nonton film bareng, trus liat-liat film apa nih yang lagi tayang. Ada film Mission Impossible 5, dan lainnya film Indonesia.

Klo ke bioskop, aku dan ibuku lebih suka nonton film Indonesia.

Ngeliat tema-tema filmnya, ada yang cinta2an, ada yang horor… nah, Get Married 5 ni tentang apa ya? Kok, ada tambahan judul 99% Muhrim?

Daripada salah milih film, aku cek dulu di google tentang ulasan film ini. Oh, ada tema religinya…

Tapi aku paling penasaran pas dibilang film ini nyindir situasi sosial di masyarakat sekarang. Tentang hobi selfie, dan kesadaran religius masyarakat Indonesia yang lagi hype saat ini.

Aku ga ngikutin keseluruhan seri ini, cuma seri ke-1 dan ke-2, klo ga salah.

Sinopsisnya:

Mae yang dulunya anak kampung dan tomboy, sekarang sudah lebih elegan dan gayanya udah sosialita banget.

Ibu dan bapaknya pas naik mobil dibegal, dan sang Ibu harus dirawat beberapa lama di rumah sakit. Anak-anak Mae ngaji Yassin sambil nungguin neneknya yang lagi koma, dan itu bikin Mae jadi terheran-heran… kapan mereka belajar ngaji? *karena Mae ga pernah inget pernah ngajarin mereka ngaji

Ternyata saat anak-anaknya dijaga oleh kakek-neneknya, sang nenek mengajari mereka ngaji. Trus Mae yang jadi terharu, bingung nyariin buku Yassin-nya juga. Taunya udah dikasih suaminya ke office boy… (?)

Nah, Mae sendiri juga udah lupa cara baca tulisan Arab. Akhirnya dia harus belajar lagi dari nol, pake Iqro’ dan Juz Amma.

Sophie adik ipar Mae, dikisahkan kawin gantung sama Jali. *aku ga tau nih awalnya, mungkin di seri sebelumnya?

Sophie yang ngerasa risih dengan Jali yang ndeketin dia mulu, akhirnya jadi terinspirasi masuk pesantren demi menghindari Jali. Klo di film ini, yang diikutin tuh pesantren kilat,,

Tapi perubahan Sophie drastis banget, pake jilbab lebar… *mendadak sholeh

Ibunya merasa khawatir dan meminta Mae menasehatinya, ia takut Sophie ikut aliran garis keras (seperti ISIS dll, yang berbau terorisme). Namun, ternyata Sophie yang awalnya cuma ikut-ikutan, memang merasa lebih nyaman dengan kondisinya sekarang ini.

————————

Ini memang film ringan, dan banyak alur cerita yang cenderung klise. Tapi sindiran sosialnya kena banget, dan bikin aku ketawa… Ya, nonton film ini memang membuat kita bisa menertawakan diri sendiri.

Kecanggihan teknologi, emang ngerubah segalanya. Misal hobi selfie dan upload aktivitas pribadi kita ke media sosial.

Tapi kerasa ngganggu ga sih, perilaku kayak gitu? Gimana ya, perasaan suaminya… pas mereka sedang makan malam romantis, eh Mae malah sibuk foto-foto kemesraan mereka dan upload? *klo buat gue, momen romantisnya malah jadi ilang

Kayak aku nih, malah jadi ngerasa ga enjoy sendiri… pas nonton konser, dan malah sibuk ngerekam atau foto-foto artis yang lagi perform ketimbang menikmati konsernya.

Film ini aktual banget, dan bagus buat lucu2an.

A WALK TO REMEMBER: She Changes Him

A Walk to Remember

A Walk to Remember

Pas jaman kuliah dulu (sekitar th 2003), temen-temen sekamar di Asrama Putri… suka banget sama film ini:

Landon, adalah murid SMA yang berandalan. Sementara Jamie, anak pendeta yang alim… dibesarkan scr religius. Ia tipe cewek yang suka bawa Bible ke mana-mana.

Karena kenakalan remaja, Landon dihukum mengikuti program community service… termasuk mengikuti kelas drama. Di sana ia bertemu dan terpaksa harus bekerja sama dengan Jamie. Ia meminta Jamie menolongnya berlatih dialog, untuk menguasai peran utama drama tersebut.

Jamie mengiyakan, namun dengan syarat…

“You have to promise you won’t fall in love with me.”

Landon sebenarnya agak gengsi berteman dengan Jamie, ia seolah tidak mau mengakui Jamie di hadapan teman-temannya. Karena Jamie dianggap ga gaul, pakaiannya selalu panjang, tertutup dan itu-itu saja… *sweater-nya ga pernah genti

Lama-lama Jamie dan Landon semakin akrab…, apalagi setelah pertunjukan drama.

Teman-teman London, merasa pertemanan mereka makin renggang… dan Landon terpengaruh dengan gaya hidup Jamie.

“This girl is changing you and you don’t even know it.”

Karena sebal, mereka mengerjai Jamie. Namun, Landon membela dan melindungi Jamie… sampai bertengkar dengan teman-temannya.

Jamie memiliki beberapa wishlist yang merupakan mimpi-mimpinya, dan Landon ikut membantu mewujudkannya. *seperti ingin berada di dua tempat yang berbeda pada waktu yang sama

Landon, setelah beberapa lama dekat dengan Jamie… menjadi lebih terarah hidupnya. Ia jadi memiliki target dalam hidup, seperti masuk ke sekolah kedokteran. Ibunya dapat merasakan perubahan pada Landon, yang sebelumnya berandalan.

“Jamie has faith in me. She makes me want to be different, better.”

Jamie…, akhirnya mengakui pada Landon bahwa ia menderita penyakit serius, Leukimia. Oleh karena itu, ia mungkin tidak dapat bertahan hidup dalam waktu lama.

Landon marah, kenapa Jamie tidak memberitahu sebelumnya. Lalu, Jamie berkata…

Ya know, I was getting along with everything fine. I accepted it, and then you happened!”

Ayah Jamie mulanya tidak menyetujui hubungan Jamie dengan Landon, karena Landon terkenal anak nakal. Namun, melihat Jamie bahagia, ia berharap Jamie dapat bertahan lebih lama dari penyakitnya…

Apalagi ia melihat Landon sudah menunjukkan perubahan sikap, dan perhatian pada Jamie yang sedang sakit.

Teman-teman lama Landon juga sudah bisa memahami kedekatan Landon dengan Jamie.

“She’s the best person I’ve ever known.”

Akhir cerita, Landon mewujudkan wishlist no. 1 Jamie, yakni menikah di gereja tempat orang tua Jamie menikah dulu.

————————

Beberapa tahun setelahnya, Jamie sudah meninggal dan Landon berkunjung ke rumah ayah Jamie. Landon meminta maaf karena belum berhasil mewujudkan wishlist Jamie “to witness a miracle”.

Namun ayah Jamie berkata, “Tidak, ia sudah menyaksikannya.” Landon adalah ‘miracle’ dalam hidup Jamie.

Landon lalu berkata dalam hati,,

“Jamie saved my life. She taught me everything. About life, hope and the long journey ahead. I’ll always miss her. But our love is like the wind. I can’t see it, but I can feel it.”

THE BUCKET LIST: Good for Soul

image

The Bucket List

Film ini adalah salah satu film paling memorable buat saya. Ga bosen, liat film ini berulang-ulang.

Menonton film ini membuat kita mensyukuri hidup, dan menghayati tiap menit yang tersisa.

Edward Cole, adalah pengusaha sukses paruh baya. Ia memiliki sebuah rumah sakit, di mana demi pengiritan finansial… ia membuat kebijakan, satu kamar untuk 2 orang.

Akhirnya karena kebijakannya sendiri, begitu sakit ia dirawat sekamar dengan seorang pria kulit hitam yang paruh baya juga.

Carter Chambers, adalah seorang montir yang pintar dan berpengetahuan luas. Sebelumnya ia bercita-cita menjadi profesor sejarah, namun terpaksa berhenti kuliah… krn pacarnya hamil, dan ia harus mencari nafkah.

Karena dirawat sekamar, kedua pria berbeda latar dan sifat itu akhirnya menjadi sahabat.

Keduanya didiagnosa kanker, dan divonis hanya memiliki sisa waktu hidup selama 1 tahun.

Mereka lalu berencana mewujudkan “bucket list” mereka. “The bucket list” berisi harapan-harapan yang ingin mereka lakukan sebelum umur mereka habis.

Edward memiliki dana tak terbatas untuk mewujudkannya. Akhirnya kedua lelaki paruh baya itu, melakukan petualangan gila-gilaan di berbagai landmark terkenal di dunia.

Mereka melakukan skydiving, berkunjung ke piramid di Mesir, safari ke hutan di Afrika, balapan dengan Shelby Mustang, motor ride di Tembok Besar Cina, ke Taj Mahal, ke Himalaya… sayang sedang ada badai jadi mereka tdk bs menuju puncak.

Sepanjang perjalanan mereka saling berbagi cerita ttg hidup mereka masing2, merencanakan bagaimana jenazah mereka akan dimakamkan dan lain-lain.

Carter adalah pria yang hidupnya lurus, ga neko-neko, dan setia pada istrinya. Edward, pernah menikah 4 kali dan semua berakhir cerai. Ia memiliki satu orang putri, namun putus hubungan karena sebuah kesalah pahaman.

Edward adalah tipe bad boy, yang suka bermain-main dg wanita muda, dan ia merasa satu-satunya perkawinan yg berhasil adalah antara dirinya dan pekerjaannya.

Namun, akhirnya dia harus tinggal sendirian dan kesepian. Sementara Carter yg setia, makan malam dengan harmonis bersama keluarganya.

Ternyata Carter yang terlebih dahulu harus meninggal dunia, Edward berusaha melakukan saran Carter agar berbaikan lagi dengan putri kandungnya.

Edward mengunjungi rumah putrinya, dan di sana ia bertemu untuk pertama kalinya dengan cucu perempuannya.

Lalu, ia mencoret salah satu item dalam daftar keinginan mereka… yakni, “kiss the most beautiful girl in the world”.

Ini adalah salah satu scene favorit saya. #sweet

Akhirnya begitu mereka berdua meninggal, abu kremasi mereka disimpan dalam kaleng kopi dan disemayamkan di puncak Himalaya.

Dialog-dialog dalam film ini meaningful dan hampir setiap scene-nya penting. Tidak ada scene yang tidak penting, karena saling berkaitan satu sama lain.

Ada juga sisi humor dalam dialog antara Edward dengan asistennya, Matthew.

Meski film ini sederhana, dan ga bombastis spt kebanyakan film action-hero… tapi ini adalah film yang sangat manis, dan life-changing banget!

Nonton film ini meningkatkan spirit hidup kita, makanya aku suka nonton film ini berulang-ulang.

How one person walk into our life, and change everything.

That one person is called “best friend“.

RAB NE BANA DI JODI: Aku Melihat Tuhan dalam Dirimu

Salah satu film India, yg saya lihat baru-baru ini dan mengharukan sekali.

Film ini berkisah ttg pengorbanan dan perjuangan seorang suami, untuk membuat istrinya jatuh cinta padanya.

Lho? Udah nikah, belum saling cinta?

Jadi, mereka ini menikah karena dijodohkan. Surinder adalah mantan murid ayah Taani. Ia bertamu, saat Taani hendak melangsungkan pernikahan. Tanpa dinyana, calon suami Taani yg dipilihnya sendiri karena cinta… (bukan melalui perjodohan) mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju tempat pernikahan.

Ayah Taani pun mengalami serangan jantung, karena syok.

Karena merasa ajalnya semakin mendekat, ayah Taani menitipkan anaknya pada Surinder. Ia menikahkan Taani dengan Surinder. Surinder mencintai Taani, tapi Taani belum merasakan cinta pada Surinder. Mana lagi ia masih berduka, karena kepergian dua orang yang dikasihinya sekaligus: calon suami dan ayahnya.

Surinder membawa Taani ke rumahnya, tapi mereka tinggal dan tidur terpisah ruangan. Surinder tidak memaksakan Taani mencintainya, ia hanya berusaha agar Taani bahagia dan tersenyum. Karena ia menjadi murung, dan tidak bergairah hidup… Taani juga berkata, ia belum sanggup membuka hati untuk siapa pun.

Suatu waktu Taani, melihat ada brosur tentang lomba pasangan dansa. Ia berminat mendaftar, dan meminta izin pada Surinder. Surinder mengizinkannya, karena ingin Taani bahagia.

Surinder yang ingin menguntit kegiatan Taani, berdandan seperti cowok macho dan cool… agar bisa bergabung dalam kelompok penari itu.

Tanpa diduga, ia yang ingin menghindari Taani… malah akhirnya dipasangkan dengan Taani, melalui pengundian.

Surinder di rumah dan di kantor adalah orang nerd, pemalu dan ga gaul. Jadi Taani tidak bisa mengenali suaminya sendiri dalam dandanan yg gaul, dan gaya yang flirty.

Surinder mengaku bahwa namanya adalah “Raj”, dan mereka pun semakin dekat. Kadang2 Raj menggoda Taani, tapi Taani selalu marah bila ia mulai ganjen.

Surinder mulai bimbang, dan ia sedih bila mengingat Taani sepertinya lebih mencintai sosok “Raj” bukannya dirinya sebagai seorang Surinder.

Pernah ia berusaha menyerah dan mundur sebagai pasangan dansa Taani, namun ternyata Tuhan belum mengizinkan. Taani justru datang sendiri, dan mengajaknya kembali menjadi partner dansa.

Surinder mengetes perasaan Taani…, sebagai “Raj” ia menyatakan cinta pada Taani dan mengajak Taani kabur, meski Taani sudah bersuami.

Antara hancur, dan bahagia… perasaan Surinder. Taani meski mengaku cinta juga sama “Raj”, tapi ia tidak bisa meninggalkan suaminya, Surinder.

Surinder bertekad membongkar penyamarannya, ia tidak mau lagi berpura2 menjadi “Raj”. Ia ingin Taani mencintainya sebagai Surinder bukan sebagai “Raj”.

Di hari perlombaan, dengan dandanan aslinya yg geek… Surinder mengejutkan Taani, saat ia ternyata hafal semua gerakan tarinya dengan “Raj”.

Pelan-pelan Taani sadar…, betapa Surinder mencintainya. Sampai rela berpura-pura menjadi orang lain, demi melihat Taani bahagia.

————————

Bagus2 juga soundtrack film ini…., bikin sedih dan inget film ini lagi klo aku ndengerin lagunya.

Kenapa aku suka film India? Krn org2 India itu ga pernah main2 dg kata “cinta”. Menurutku India adalah negara yg penduduknya romantis, dan menjadikan cinta sbg salah satu spirit hidupnya. Bayangkan saja, sampai tercipta salah satu dari 7 keajaiban dunia di sana… krn kisah cinta. Keajaiban dunia lainnya, kan… biasanya bangunan sbg alat ibadah, seperti Borobudur. Atau karena perintah penguasa, seperti Tembok Besar Cina.

Klo pingin tahu bagaimana “cinta” itu, tontonlah film India!

HIJRAH CINTA: Kesabaran Pipik

Hijrah Cinta

Film ini menunjukkan betapa besarnya peran Pipik dalam proses hijrah Uje.

Meskipun tumbuh dan berasal dari keluarga yg religius, tidak lantas menjadikan Uje menjadi anak yg alim. Pergaulan di dunia hiburan yg ia tekuni, mengenalkannya pada narkoba.

Ia berkonflik dg ayahnya, yg tidak setuju dg keputusan Uje masuk di dunia artis.

Uje telah bertekad untuk kembali ke jalan yg benar, namun harus jatuh bangun terlebih dahulu. Pipik mau menerima Uje, meskipun Uje belum sembuh dari ketergantungan obat-obatan.

Masa pernikahan dan bulan madu mereka jangan dianggap langsung senang… justru Pipik harus bersabar merawat Uje.

Tapi ia bertekad Uje harus sembuh! Ia menemani Uje ke dokter untuk konsultasi, mengikat Uje dan menyeretnya ke kamar mandi untuk kemudian Pipik guyur dengan air… saat Uje sakaw.

Aku merasa si Pipik tdk hanya jadi istri, tp juga perawat bagi Uje.

Merawat jiwanya, mengembalikan hidayah pada Uje.

Saat menikah, jangankan mencari nafkah… Uje saja masih jadi pecandu! Bahkan ia sering minta uang pada Pipik yg bekerja sebagai pegawai, untuk membeli obat-obatan.

Sungguh besar jiwa Pipik, sehingga akhirnya bisa mengantarkan Uje menjadi orang yang besar dan berguna.

Padahal kalau dipikir-pikir, kok mau-maunya ya…? Emangnya Pipik dapat untung apa, kok mau menikah dg pecandu narkoba dan belum bisa menafkahi? Malah Pipik yg bekerja dan sering dimintai uang Uje.

Dialog yg paling menyentuh adalah saat Uje bertanya pada Pipik, kok mau dengannya? Pipik menjawab, “Karna saat pertama kali ketemu di Menteng, aku yakin kalau kamu sebenarnya orang baik.”

Jadi keyakinan Pipik bahwa Uje bisa kembali menjadi orang baik, menguatkannya utk mendampingi Uje hingga akhir.

Pipik mendidik Uje dg tegas, di mana ia berhenti bekerja saat mengalami kehamilan pertama. Ia mengatakan, sekarang saatnya Uje belajar bertanggung jawab sebagai seorang suami dan mencari nafkah.

Uje memperoleh pendapatan pertamanya sebagai pengisi khotbah sholat Jum’at. Dan itu disyukuri Pipik, hingga ia menangis terharu.

————————

Merinding denger lagu “Istighfar” yg dinyanyikan Uje, dan lagu “Hijrah Cinta” di akhir film bikin nangis.

FROZEN: Who’s Your Real Love?

Frozen

Elsa dan Anna adalah dua bersaudara putri kerajaan Arandelle. Elsa memiliki kekuatan untuk membuat es dan salju. Elsa nyaris mencelakakan adiknya dengan kekuatannya itu. Sehingga ia menutup diri dalam kamar dan tidak lagi bergaul dengan adiknya, selama ia belum bisa mengendalikan kekuatannya.

Saat raja dan ratu mangkat, Elsa lalu diangkat menjadi ratu. Pada saat pelantikannya, Anna berjumpa dengan Hans -pangeran dari kerajaan lain- dan serta merta merasa jatuh cinta padanya. Ia lantas memohon pada kakaknya agar merestui mereka bertunangan dan segera menikah. Elsa tentu tidak setuju, bagaimana mungkin orang bisa langsung memutuskan menikah dengan orang yang baru ditemuinya.

Karena Anna memaksa, Elsa pun kehilangan kendali dan mengeluarkan kekuatannya dengan tidak terkontrol. Akhirnya rakyat Arandelle tahu akan kekuatan magis Elsa, yang sayangnya belum bisa ia kendalikan. Karena khawatir melukai lebih banyak orang, Elsa pergi meninggalkan kerajaannya untuk menyepi di sebuah gunung, dan menciptakan istana es sebagai tempat tinggalnya.

Anna bergegas menyusulnya, dan menyerahkan kendali kerajaan pada Hans. Anna berjumpa dengan Kristoff dan rusanya, lalu memintanya untuk menemaninya menuju pegunungan tempat kakaknya mengasingkan diri.

Dalam perjalanan Kristoff pun menertawakan kepolosan Anna, yang dengan serta merta menerima lamaran pria yang baru ditemuinya. “Didn’t your parents ever warn you about strangers?”, tanya Kristoff, “bagaimana kalau ia punya niat jahat?”.

Dan memang Hans hanya berpura-pura manis, sebenarnya ia mengincar tahta kerajaan Arandelle dengan memikat salah satu dari kedua putri kerajaan itu. Apalagi Anna yang tidak mengenal dunia luar, amat mudah ia perdaya.

Film ini berkesan lebih dewasa dan kelam dibanding film Disney sebelumnya. Tidak terlalu banyak humor, tapi lebih terasa realis dan manusiawi. Misalnya, Kristoff digambarkan sebagai orang yang punya masalah sosial, karena ia lebih percaya untuk berteman dengan hewan daripada manusia, karena manusia sering bersifat jahat dan tidak tulus.

Karakter Anna agak membingungkan, dia orang yang spontan, aktif dan lincah, tapi dia juga berlagak (berpura-pura) anggun saat awal perkenalan dengan Kristoff.

Sama dengan Elsa dan Kristoff, saya juga tidak sepakat dengan yang namanya cinta dalam sekejap mata. Tanpa proses perkenalan dan pertemanan dalam waktu yang cukup lama, lalu setuju untuk menikah. Jangan-jangan kita tertipu oleh perasaan yang terlampau berbunga-bunga dan melupakan logika.

Kisahnya hampir mirip dengan film Aquamarine, di mana cinta sejati yang dicari ternyata bukan antar lawan jenis. Dalam film Aquamarine adalah cinta antar sahabat, sementara dalam film ini cinta antara saudara kandung.

————————

Saya bisa merasakan dilema Elsa, karena saya juga punya sifat temperamen, yang kadang bisa melukai orang lain. Sehingga saya lebih memilih pergi dan sendiri, daripada melukai orang-orang yang dekat dengan saya, seperti saudara dan kerabat. Dan seperti Elsa, saya berharap bisa mengendalikan emosi saya, tidak mudah tersinggung dan mudah memaafkan, sehingga bisa berinteraksi sehat dengan orang-orang yang saya sayangi.

99 CAHAYA DI LANGIT EROPA: Menyusuri Kejayaan Islam

99 cahaya

Film Indonesia yang mengesankan!

Baru kali ini lho…, lihat film Indonesia yang dibuat dengan profesionalisme. Saya sampe ngga percaya sendiri, beneran nih… film ini bikinan orang Indonesia? Bisa dibandingkanlah dengan film-film luar secara kualitas. Calon pemenang FFI nih! Karena diliat dari pemenang FFI tahun ini (Sang Kiai), sepertinya yang dilirik adalah yang dibuat dengan penuh dedikasi dan totalitas… bukan hanya secara komersil laris di pasaran.

Film ini diangkat dari novel “99 Cahaya di Langit Eropa” karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Hanum ini anaknya Amien Rais, lho…! Novel ini adalah kisah nyata dari pengalaman Hanum saat menyertai suaminya Rangga, menempuh studi S3 di Vienna, Austria.

Sebelumnya saya dah baca bukunya dan terpukau banget…!!! Dalam hati berkhayal dan berharap, andainya buku ini difilmkan karena saya juga ingin menyaksikan sendiri situs-situs bersejarah yang ditelusuri Fatma, Hanum dan Rangga. “Tapi apa ya mungkin?”, pikirku. Soalnya seingat saya di museum yang mereka datangi, tidak boleh dilakukan pemotretan sembarangan, apalagi di Louvre. Apa ya film Indonesia, bisa diizinkan syuting di sana? #sangsi

Buku ini feel-nya seperti novel “Da Vinci Code”, ia mengajak kita menelusuri rahasia-rahasia istimewa mengenai jejak peradaban Islam di Barat. Pasti banyak banget pengetahuan baru yang bisa kita tahu.

Tanggal 22 Desember 2013, saya menonton film ini. Memuaskan dan beyond expectation!

Entah kalau orang lain, tapi bagi saya scene yang menggetarkan dan bikin merinding itu saat pertama kali Fatma (Raline Shah) masuk ruangan kelas, dan mengenalkan namanya. Tone suara-nya berat dan dalam, sehingga berhasil menanamkan dalam benak kita, akan sosoknya yang tegas, berwibawa dan percaya diri. Dia mewakili sosok muslim yang bangga dengan keislamannya. Tidak ada rasa minder, karena ia paham sejarah Islam. Ia tidak setuju dengan cara-cara kekerasan atau terorisme.

Begitu pula saat ia berkata, “Mungkin karena ini!,” sambil menunjuk hijabnya. Sebagai jawaban atas pertanyaan Hanum, mengapa ia sulit mendapatkan pekerjaan meskipun ia berbakat di bidang fashion. Aduh, trenyuh sekali mendengarnya… Begitu ya, susahnya menjadi minoritas di negera sekuler?

Yang bikin seger nonton film ini adalah adegan-adegan humor antara Rangga (Abimana Aryasatya) dan Stefan (Nino Fernandez), ketika mereka berdiskusi tentang agama dan Tuhan. Berhubung si Stefan ini, seperti kebanyakan orang di negara sekuler Eropa, adalah seorang yang agnostik.

Yang aku suka adalah, film ini membawa tema-tema berat tentang ketuhanan tanpa membuat kita mengernyitkan dahi. Rangga hanya menggiring pemahaman Stefan dengan memberi logika-logika yang ringan.

Raline Shah bener-bener bertransformasi dari sosoknya sehari-hari, maupun sebagai Riani di “5 cm”. Pokoknya bener-bener ‘beda’. Keren lah…!, wong pas di “5 cm” kemarin dia terasa masih kaku aktingnya. Sebagai Fatma dia bisa membawakannya dengan luwes, dan menjadi sentral dalam film ini.

Sedangkan akting Acha sebagai Hanum, terasa biasa saja… karena sudah terlalu sering melihat aktingnya. Tidak seperti aktor dan aktris lainnya yang jarang saya lihat perannya.

Akting Abimana keren, apalagi saat matanya melirik Hanum dengan tatapan menyindir, agar ia segera mengenakan hijab. Dia membawakan karakter Rangga, yang seorang akademisi dengan meyakinkan. Melihat sikapnya, dia sepertinya mudah bergaul dan toleran. Ia berteman dengan siapa saja, sekalipun berbeda pandangan dengannya. Mulai yang fanatik sampai yang agnostik.

Adegan ia men-skip sholat Jum’at untuk mengikuti ujian, agak bikin kaget. Tapi bagi saya manusiawi, ia dalam dilema… Um, saya ga ngerti nih hukumnya, mungkin kondisinya darurat (?). Sehingga Hanum dan Rangga akhirnya berkonsultasi dengan imam masjid. Dan aku senengnya, imam masjid itu tidak langsung memvonis bahwa ia salah, tapi menyerahkannya pada Allah. Karena Allah yang mengetahui niat dalam hati Rangga.

Alex Abbad yang memerankan Khan, mahasiswa Pakistan yang fanatik dan keras, membuat saya pangling. Karena seingat saya Alex Abbad itu gayanya slengean, waktu dia jadi VJ MTV zaman baheula dulu! Tapi toh, dia cocok dan menjiwai banget perannya di sini.

Akting yang mencuri perhatian lainnya juga ditampilkan Dewi Sandra sebagai Marion Latimer.

Memang agak canggung melihat: orang Turki, Pakistan, dan Perancis… kok ngobrolnya pake Bahasa Indonesia? Terasa kurang real. Mungkin susah kali, ya… klo full cast orang luar? Tapi, ya… kita jadi lebih mudah memahami maksud mereka.

Banyak adegan yang membutuhkan penjelasan lebih bagi penonton yang belum membaca bukunya. Misalnya mengapa Fatma menangisi lukisan Kara Mustafa, dan mengucapkan penyesalan atas tindakan buyutnya itu. Klo di bukunya kan kita bisa tahu kalau Fatma menyayangkan invasi Kara Mustafa yang berdasarkan ambisi kekuasaan, bukannya dengan misi yang tulus untuk menyebarkan cahaya Islam.

Begitu juga dengan adegan saat Hanum tersinggung dengan obrolan dua orang turis mengenai croissant, yakni roti berupa bulan sabit. Roti itu dibuat dengan bentuk bulan sabit, sesuai dengan lambang pada bendera Turki. Di mana Turki merupakan simbol kekhalifahan Islam. Sehingga mereka mengolok-olok orang Islam dengan memakan roti itu.

Fatma kan baru keluar tuh dari toilet…, kok dia langsung nyambung dengan Hanum? Hanum memberi tahu bahwa turis itu menyinggung mereka, dengan penjelasan yang singkat: “Mereka bilang, memakan roti ini seperti memakan kita!”. Belum dijelaskan panjang lebar, kok Fatma langsung paham?

Seolah sudah tahu duduk perkaranya dan langsung mengambil tindakan yang lebih bijak. Padahal kalau aku yang jadi Fatma pasti aku tanya dengan jelas dulu, “Apa hubungannya roti itu sama kita?”.

*Atau mungkin Fatma sudah tahu bahwa idiom roti croissant memang sudah sering dijadikan bahan olok-olokan terhadap orang Islam.

Overall this is a good movie…!

Dan aku suka dengan product placement yang smooth dan pada tempatnya, sehingga tidak merusak konsentrasi penonton yang sedang menikmati jalannya cerita.

Mungkin kemunculan Fatin, yang agak bikin kagok… 😉

Di bawah ini adalah komentar original saya,… instant setelah nonton film ini di status Facebook saya:

Film “99 Cahaya di Langit Eropa” is a must see…!
Well made Indonesian movie, rare one… bernas,
aku suka suasana lingkungan akademik yg ditampilkan
Filmnya bikin nangis dan tergetar… somehow pernah ngerasain jg gmn rasanya mempertahankan keyakinan… #sad
Film ini membawa level baru bagi film Indonesia lainnya, yg kualitasnya dan orientasinya masih rendahan… hya mencari keuntungan komersil belaka, tanpa makna dan mutu yg meningkatkan pengetahuan dan pengalaman penonton
Secara tidak langsung, film ini memberi inspirasi agar Indonesia bisa semaju negara-negara Eropa itu, dan memberi visi pada remaja agar bercita-cita tinggi seperti Rangga, menuntut ilmu ke negara maju tapi ttp mempertahankan identitas keimanannya

OK, selamat menonton!

THE ANT BULLY: Belajar dari Koloni Semut

the ant bully

Sometimes animals are more human than people.

Lucas Nickle adalah seorang bocah yang sering di-bully temannya yang berbadan lebih besar dan gerombolannya. Karena tidak mampu membalas, ia kemudian melampiaskan kekesalannya dengan merusak gundukan tanah yang merupakan sarang semut. Tanpa ia sadarinya akibatnya, koloni semut itu merasa benar-benar terganggu, sementara mereka tidak merasa bersalah.

Penyihir di kalangan semut itu, Zoc, kemudian membuat ramuan yang dapat mengubah tubuh Lucas menjadi sekecil semut. Lucas pun dibawa ke sarang semut. Sebagai hukuman atas perbuatannya, ia pun dituntut untuk belajar cara hidup semut.

Lucas memperoleh banyak pelajaran berharga dari para semut. Ia mulai mengerti makna persahabatan, karena selama ini ia memang tidak punya teman. Selain itu ia belajar sikap kepahlawanan dan belajar berani pada orang-orang yang menindasnya. Ia juga belajar teamwork, sehingga ia bisa memimpin anak-anak yang bertubuh lebih kecil agar bersatu dan melawan anak bertubuh besar yang sering mem-bully mereka.

Film ini mungkin ditujukan untuk anak-anak, tapi banyak dialog bermakna yang rasanya patut direnungkan orang dewasa. Seperti saat Zoc menanyakan pada Lucas, apakah manusia hidup bekerja sama seperti koloni semut.

Zoc: “And the humans that live there are all brothers working together for the greatness of their colony?”

Lucas: “Well, not exactly. It’s a little more like, you know, every man for himself.”

Sepertinya dialog ini adalah sindiran terhadap tingkah manusia yang semakin individualis, dan kurangnya sifat empati satu sama lain.

“To attack without provocation, without reason, just because they can, it’s… It’s barbaric.”

Saya rasa quote ini cocok untuk menyindir perilaku pemerintah Amerika sering menyerang negara lain, seperti Irak, yang tidak pernah menyerang wilayah Amerika.

Yang juga patut kita renungkan adalah, perilaku negatif itu menular. Seperti Lucas yang di-bully temannya yang terlihat lebih kuat. Karena tidak mampu membalas, ia malah ikut mem-bully makhluk yang lebih lemah darinya, yakni koloni semut yang tidak bersalah.