Filosofi Sistem Macapat

Karena sejak kecil saya suka baca cerita-cerita tentang Wali Songo, ada satu tema yang menarik buat saya… yakni, tentang penerapan sistem macapat (mocopat) dalam membangun tata letak lingkungan di pusat pemerintahan.

Kalau kita sering melihat pusat kota di Jawa, biasanya terletak di alun-alun… pernahkah kita bertanya, kalau itu bukan kebetulan?

Sistem tata kota yang ditinggalkan Wali Songo, dinamakan macapat. Yakni pusat kerajaan, yang biasanya terletak di alun-alun atau lapangan berbentuk segi empat (papat). Alun-alun sebagai tempat berkumpulnya rakyat, yang dikelilingi oleh pusat pemerintahan, tempat ibadah, pasar dan penjara. Lokasi-lokasi penting itu diatur sesuai dengan empat penjuru mata angin.

Inilah makna yang terkandung dari sistem tata letak tersebut:

materi-sejarahklsx2semester-36-638

Di sebelah Selatan terdapat pusat pemerintahan di mana Bupati menjalankan tugasnya, di sebelah Barat terdapat masjid tempat beribadah sehingga diharapkan Bupati dan segenap pamong prajanya tidak melupakan urusan keagamaan, di sebelah Utara terdapat pasar tempat bertemunya para kawula dan tempat dimana roda ekonomi dijalankan, di sebelah Timur terdapat bangunan penjara di mana siapapun yang melanggar aturan maka harus dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Di tengah biasanya terdapat alun-alun dan di situ terdapat dua pohon beringin.

alun-alun-kidul-yogyakarta

Alun-alun Kidul Yogyakarta

Paling jelas dapat kita lihat di alun-alun kota Jogja,, di beberapa kota lainnya… lokasi-lokasi tersebut mungkin ada yang telah digeser oleh kehadiran mall.

alun-alun-utara

Alun-alun Utara Yogyakarta

Sistem tata kota yang digagas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga tidak sekedar masalah sistem tata ruang saja, namun di balik itu banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Seperti Kantor Bupati selalu menghadap ke Utara membelakangi gunung dan menghadap ke arah laut. Ini memiliki makna bahwa seorang pimpinan harus meninggalkan sifat tinggi hati dan kesombongan sebagimana sifat gunung yang tinggi, dan pemimpin harus memiliki hati yang luas seluas samudra. Tentang alun-alun adalah punjer (pusat), dan perwujudan keberagaman masyarakat. Alun-alun berasal dari kata bahasa Arab “allaunu-allaunu” yang berarti beraneka warna jadi pemimpin adalah untuk masyarakat majemuk bukan golongan. Di tengah alun-alun terdapat dua beringin kembar yang melambangkan sumber hukum pemerintahan harus sejalan dengan dua pusaka peninggalan Nabi Muhammad SAW untuk umatnya yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.

————————

Yang saya kagumi dari masyarakat nusantara zaman dahulu, karena mereka sangat berpegang pada filosofi hidup & menerapkannya pada bangunan-bangunan yang mereka dirikan.

source & reference:
Filosofi Macapat
Alun-alun sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang

One thought on “Filosofi Sistem Macapat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s