Meritokrasi sebagai antitesa Demokrasi; dengan Musyawarah Mufakat

Datuk Ninik mamak

rapat ninik mamak

Sistem demokrasi ala Barat, di mana rakyat yg diminta memilih. Dg kuantitas jumlah pemilih yg jd ukuran, bukannya kualitas pemilih… akan terus menimbulkan masalah.

Krn setiap calon akan berusaha memanipulasi pencitraan melalui kampanye dan iklan2/poster2 politik. Menyebarkan sembako dan politik uang untuk menarik simpati masyarakat.

Begitu seterusnya, shg tokoh2 pemimpin yg lahir dr sistem spt ini, blm tentu adalah tokoh yg terbaik.

Krn pukul rata latar belakang pendidikan pemilih. Yg terpelajar mgkn tidak akan tertipu money politic atau pencitraan. Tp masyarakat yg msh lugu, amat mudah dikendalikan oleh politik uang dl memilih.

Shg tjd lingkaran setan, untuk berkampanye agar terpilih, modal utamanya adalah uang.

Selalu hrs berduit atau pya sponsor utk mjd pemimpin. Di mana sponsor itu pasti pya kepentingan.

Keluar uang banyak, lalu saat menjabat korupsi. Dan yg kalah, rugi banyak krn dana kampanye yg besar.

Shg kadang2 kompetensi dan track record calon pemimpin itu tdk jelas, tp krn iklan yg masif… ia jd menang. Tokoh politik tak ubahnya selebriti pd saat ini. Bila iklannya byk dan terkenal, mk ia dianggap mampu dan pantas jd pemimpin.

#mengamati model pemilihan pemimpin, spt caleg/gubernur#

Model pemilihan pemimpin spt ini, memungkinkan pihak2 yg berkepentingan utk menggolkan pemimpin yg tidak kompeten, krn kemenangannya bisa direkayasa melalui pencitraan dan politik uang. Krn pemilihan diserahkan pd rakyat, yg dipukul rata tgkt kelayakannya dl memilih. Krn yg berpengaruh hya kuantitas pemilih, bukan kualitas pemilih.

Klo dl sejarah dulu, dl memilih pemimpin (perang/pemerintahan) atau khalifah setelahnya… Rasulullah menunjuk langsung org2 yg kompeten. Setelah Nabi tdk ada, melalui musyawarah di antara sahabat. Bukan diserahkan pada semua masyarakat untuk voting, tp musyawarah dewan tertinggi / para pemuka / tetua / pemimpin / org2 yg berilmu atau kompeten di antara mereka.

Sehingga pemilihan pemimpin tidak jatuh pada sembarang atau semua org, tp kita serahkan pd org2 yg kompeten, dan dipercaya di masyarakat. Spt yg tjd di masyarakat adat.

Sehingga bukan demokrasi, di mana pemegang suara terbanyak yg jd pemimpin.

Tp meritokrasi, yg kompeten yg mjd pemimpin dan memegang amanah.

Banyak dipilih, blm tentu bagus secara kualitas. Tp baru setaraf popularitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s