99 CAHAYA DI LANGIT EROPA: Menyusuri Kejayaan Islam

99 cahaya

Film Indonesia yang mengesankan!

Baru kali ini lho…, lihat film Indonesia yang dibuat dengan profesionalisme. Saya sampe ngga percaya sendiri, beneran nih… film ini bikinan orang Indonesia? Bisa dibandingkanlah dengan film-film luar secara kualitas. Calon pemenang FFI nih! Karena diliat dari pemenang FFI tahun ini (Sang Kiai), sepertinya yang dilirik adalah yang dibuat dengan penuh dedikasi dan totalitas… bukan hanya secara komersil laris di pasaran.

Film ini diangkat dari novel “99 Cahaya di Langit Eropa” karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Hanum ini anaknya Amien Rais, lho…! Novel ini adalah kisah nyata dari pengalaman Hanum saat menyertai suaminya Rangga, menempuh studi S3 di Vienna, Austria.

Sebelumnya saya dah baca bukunya dan terpukau banget…!!! Dalam hati berkhayal dan berharap, andainya buku ini difilmkan karena saya juga ingin menyaksikan sendiri situs-situs bersejarah yang ditelusuri Fatma, Hanum dan Rangga. “Tapi apa ya mungkin?”, pikirku. Soalnya seingat saya di museum yang mereka datangi, tidak boleh dilakukan pemotretan sembarangan, apalagi di Louvre. Apa ya film Indonesia, bisa diizinkan syuting di sana? #sangsi

Buku ini feel-nya seperti novel “Da Vinci Code”, ia mengajak kita menelusuri rahasia-rahasia istimewa mengenai jejak peradaban Islam di Barat. Pasti banyak banget pengetahuan baru yang bisa kita tahu.

Tanggal 22 Desember 2013, saya menonton film ini. Memuaskan dan beyond expectation!

Entah kalau orang lain, tapi bagi saya scene yang menggetarkan dan bikin merinding itu saat pertama kali Fatma (Raline Shah) masuk ruangan kelas, dan mengenalkan namanya. Tone suara-nya berat dan dalam, sehingga berhasil menanamkan dalam benak kita, akan sosoknya yang tegas, berwibawa dan percaya diri. Dia mewakili sosok muslim yang bangga dengan keislamannya. Tidak ada rasa minder, karena ia paham sejarah Islam. Ia tidak setuju dengan cara-cara kekerasan atau terorisme.

Begitu pula saat ia berkata, “Mungkin karena ini!,” sambil menunjuk hijabnya. Sebagai jawaban atas pertanyaan Hanum, mengapa ia sulit mendapatkan pekerjaan meskipun ia berbakat di bidang fashion. Aduh, trenyuh sekali mendengarnya… Begitu ya, susahnya menjadi minoritas di negera sekuler?

Yang bikin seger nonton film ini adalah adegan-adegan humor antara Rangga (Abimana Aryasatya) dan Stefan (Nino Fernandez), ketika mereka berdiskusi tentang agama dan Tuhan. Berhubung si Stefan ini, seperti kebanyakan orang di negara sekuler Eropa, adalah seorang yang agnostik.

Yang aku suka adalah, film ini membawa tema-tema berat tentang ketuhanan tanpa membuat kita mengernyitkan dahi. Rangga hanya menggiring pemahaman Stefan dengan memberi logika-logika yang ringan.

Raline Shah bener-bener bertransformasi dari sosoknya sehari-hari, maupun sebagai Riani di “5 cm”. Pokoknya bener-bener ‘beda’. Keren lah…!, wong pas di “5 cm” kemarin dia terasa masih kaku aktingnya. Sebagai Fatma dia bisa membawakannya dengan luwes, dan menjadi sentral dalam film ini.

Sedangkan akting Acha sebagai Hanum, terasa biasa saja… karena sudah terlalu sering melihat aktingnya. Tidak seperti aktor dan aktris lainnya yang jarang saya lihat perannya.

Akting Abimana keren, apalagi saat matanya melirik Hanum dengan tatapan menyindir, agar ia segera mengenakan hijab. Dia membawakan karakter Rangga, yang seorang akademisi dengan meyakinkan. Melihat sikapnya, dia sepertinya mudah bergaul dan toleran. Ia berteman dengan siapa saja, sekalipun berbeda pandangan dengannya. Mulai yang fanatik sampai yang agnostik.

Adegan ia men-skip sholat Jum’at untuk mengikuti ujian, agak bikin kaget. Tapi bagi saya manusiawi, ia dalam dilema… Um, saya ga ngerti nih hukumnya, mungkin kondisinya darurat (?). Sehingga Hanum dan Rangga akhirnya berkonsultasi dengan imam masjid. Dan aku senengnya, imam masjid itu tidak langsung memvonis bahwa ia salah, tapi menyerahkannya pada Allah. Karena Allah yang mengetahui niat dalam hati Rangga.

Alex Abbad yang memerankan Khan, mahasiswa Pakistan yang fanatik dan keras, membuat saya pangling. Karena seingat saya Alex Abbad itu gayanya slengean, waktu dia jadi VJ MTV zaman baheula dulu! Tapi toh, dia cocok dan menjiwai banget perannya di sini.

Akting yang mencuri perhatian lainnya juga ditampilkan Dewi Sandra sebagai Marion Latimer.

Memang agak canggung melihat: orang Turki, Pakistan, dan Perancis… kok ngobrolnya pake Bahasa Indonesia? Terasa kurang real. Mungkin susah kali, ya… klo full cast orang luar? Tapi, ya… kita jadi lebih mudah memahami maksud mereka.

Banyak adegan yang membutuhkan penjelasan lebih bagi penonton yang belum membaca bukunya. Misalnya mengapa Fatma menangisi lukisan Kara Mustafa, dan mengucapkan penyesalan atas tindakan buyutnya itu. Klo di bukunya kan kita bisa tahu kalau Fatma menyayangkan invasi Kara Mustafa yang berdasarkan ambisi kekuasaan, bukannya dengan misi yang tulus untuk menyebarkan cahaya Islam.

Begitu juga dengan adegan saat Hanum tersinggung dengan obrolan dua orang turis mengenai croissant, yakni roti berupa bulan sabit. Roti itu dibuat dengan bentuk bulan sabit, sesuai dengan lambang pada bendera Turki. Di mana Turki merupakan simbol kekhalifahan Islam. Sehingga mereka mengolok-olok orang Islam dengan memakan roti itu.

Fatma kan baru keluar tuh dari toilet…, kok dia langsung nyambung dengan Hanum? Hanum memberi tahu bahwa turis itu menyinggung mereka, dengan penjelasan yang singkat: “Mereka bilang, memakan roti ini seperti memakan kita!”. Belum dijelaskan panjang lebar, kok Fatma langsung paham?

Seolah sudah tahu duduk perkaranya dan langsung mengambil tindakan yang lebih bijak. Padahal kalau aku yang jadi Fatma pasti aku tanya dengan jelas dulu, “Apa hubungannya roti itu sama kita?”.

*Atau mungkin Fatma sudah tahu bahwa idiom roti croissant memang sudah sering dijadikan bahan olok-olokan terhadap orang Islam.

Overall this is a good movie…!

Dan aku suka dengan product placement yang smooth dan pada tempatnya, sehingga tidak merusak konsentrasi penonton yang sedang menikmati jalannya cerita.

Mungkin kemunculan Fatin, yang agak bikin kagok… 😉

Di bawah ini adalah komentar original saya,… instant setelah nonton film ini di status Facebook saya:

Film “99 Cahaya di Langit Eropa” is a must see…!
Well made Indonesian movie, rare one… bernas,
aku suka suasana lingkungan akademik yg ditampilkan
Filmnya bikin nangis dan tergetar… somehow pernah ngerasain jg gmn rasanya mempertahankan keyakinan… #sad
Film ini membawa level baru bagi film Indonesia lainnya, yg kualitasnya dan orientasinya masih rendahan… hya mencari keuntungan komersil belaka, tanpa makna dan mutu yg meningkatkan pengetahuan dan pengalaman penonton
Secara tidak langsung, film ini memberi inspirasi agar Indonesia bisa semaju negara-negara Eropa itu, dan memberi visi pada remaja agar bercita-cita tinggi seperti Rangga, menuntut ilmu ke negara maju tapi ttp mempertahankan identitas keimanannya

OK, selamat menonton!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s