THE ARTIST: The End of Silent Movie

The Artist

Film bisu yang menceritakan tentang film bisu.

George Valentin adalah aktor yang sedang tenar-tenarnya pada era film bisu di tahun 1927. Ia memiliki banyak fans wanita, Peppy Miller diantaranya. Pada sebuah premier filmnya, George dikerubuti oleh para fotografer dan fans-fans wanita. Karena dompetnya terjatuh, Peppy tidak sengaja ‘menyundul’ George. An awkward situation. Tapi George dan Peppy pura-pura saling kenal, agar situasi tidak canggung. Esoknya Peppy menjadi headline dengan pose mencium pipi George.

Peppy mencoba peruntungan di bidang film dengan mengikuti audisi untuk menjadi figuran di studio film Kinograph, tempat George dikontrak. Secara tidak sengaja George melihat Peppy menari dan ia pun menirukan tariannya. Produser film George marah pada Peppy karena telah menyebabkan fokus pemberitaan media bukan film baru George, malah Peppy yang jadi fokus berita: “Who’s That Girl?”. Namun George membela Peppy, sayang sekali saya tidak dapat mengetahui secara jelas apa yang dikatakan George saat itu. Karena film ini berformat film bisu.

Peppy diam-diam mengagumi dan mencintai George, dia hanya menyimpannya dalam hati. George memberinya ciri “tahi lalat” agar ia tampil berbeda dan sukses di dunia film, karena dunia hiburan menyukai sosok yang berbeda.

Produser film memberi tahu George bahwa perkembangan teknologi perfilman saat ini sedang beralih ke film bicara. Audio dapat digabungkan dengan rekaman gambar. Saat itu George sinis dan pesimis, “Penonton tidak ingin mendengar kita bicara!”, katanya. Ia terlalu sombong untuk menerima tren terbaru itu, ia terlalu bangga dengan kesuksesan era film bisu. Ia kemudian didepak dari Kinograph, karena Kinograph menginginkan wajah baru untuk generasi baru, film bicara. Ternyata artis baru itu adalah Peppy Miller.

George ngotot, ia memproduksi dan menyutradarai film sendiri, dengan dia sendiri sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi, filmnya jeblok di pasaran. Masyarakat lebih memilih berbondong-bondong menonton film dengan teknologi terbaru, film bicara yang dibintangi Peppy Miller. George pun bangkrut dan istrinya meninggalkannya. George pun sempat bersitegang dengan Peppy, yang telah dibantunya saat belum tenar.

Peppy sedih melihat kondisi artis pujaannya yang semakin terpuruk. Diam-diam ia membantu dan memperhatikan kondisi hidup George saat ini.

Akhir film ini cukup mudah ditebak, George mampu bangkit kembali dengan menerima tawaran Peppy untuk berakting di film bicara.

Yang amat ‘lebay’ bagi saya adalah saat George ngotot bertahan di genre film bisu dan tidak mau mengikuti perkembangan zaman, sampai-sampai membuatnya depresi dan nekat mau bunuh diri. Apaan coba? Di zaman ini kita malah sudah terbiasa dengan teknologi yang berganti dengan begitu cepatnya. Tidak perlu mencintai teknologi yang sudah ‘jadul’ dengan begitu fanatiknya…, biasa-biasa aja lah… Everything is evolving nowaday. Lebih baik bersikap adaptable pada perkembangan teknologi, yang juga bermakna kemajuan peradaban manusia.

Tontonan ini cukup menghibur, tapi amat disayangkan kita tidak bisa mengetahui dengan tepat apa yang hendak disampaikan para aktor. Kita cuma bisa mereka-reka sendiri dialog apa yang sedang terjadi dari mimik muka mereka. Aku sih merasa lebih nyaman dan lebih komplit menonton film beserta dengan dialognya, sehingga kita bisa menangkap dengan jelas isi film itu. I love dialog. Film bisu menuntut daya imajinasi kita, untuk memahami maksud film. Sehingga interpretasi masing-masing penonton akan berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s