HABIBIE: Kecil tapi Otak Semua #1

Habibie

“Hanya Allah Swt dan hati nurani saya yang melekat pada diri saya, kawan setia saya.”
– B.J. Habibie

Dalam buku ini kita dapat mengenal lebih dekat pribadi B.J. Habibie, melalui berbagai kisah yang dituturkan orang-orang yang mengenalnya. Kisah-kisahnya banyak yang menyegarkan dan mengundang tawa.

Sejak kecil Habibie lebih suka berkutat dengan buku-buku ketimbang bermain dengan anak lain di luar rumah. Satu hal yang mirip dengan masa kecilku, menurut kesaksian tetangga.

Beda dengan kebanyakan teknokrat yang biasanya berwatak serius, dalam buku ini digambarkan bahwa Habibie adalah sosok yang ceria, suka menghibur teman-temannya dengan bernyanyi maupun melakukan aksi panggung saat ada acara istimewa. Ia juga adalah sosok teknokrat yang humanis, yang akrab dengan siapa saja dan bisa mencairkan suasana.

Yang sering luput dari perhatian kita adalah arti nama Habibie. Bacharuddin Jusuf Habibie. Dalam bahasa Arab bachar berarti lautan, dan dien berarti agama. Jadi arti namanya adalah “lautan agama”.

Saat ia menunaikan ibadah haji, ia diperlakukan dengan terhormat oleh pihak kerajaan Arab Saudi, karena bagi mereka ia adalah tokoh umat Islam.

Konsep ibadah, seperti shalat dan haji bagi Habibie adalah untuk men-charge battery. Shalat adalah tempatnya untuk menemukan ketenangan, membersihkan pikiran, dan secara biologis sujud mengalirkan darah ke kepala sehingga otak mendapatkan aliran darah dan setelah shalat ia merasa fresh. Menurut Habibie isi baterai yang paling besar adalah pada bulan Ramadhan.

Sebuah kisah tentang pendirian ICMI, turut memperkaya wawasan saya. Ternyata inisiatornya adalah mahasiswa-mahasiswa Universitas Brawijaya Malang.

Saya kurang begitu suka membaca bagian kedua “Kebijakan dan Gagasan” karena bahasan yang serius dan membuat dahi berkerut, jadi bagian tersebut saya baca secara skip saja.

Dalam bagian ini kita dapat mengetahui latar belakang pemikiran dari kebijakan-kebijakan yang diambil Habibie, salah satunya tentang pengembangan Pulau Batam. Pulau Batam di tangan Habibie diubah dari pulau sepi dan terbelakang, menjadi daerah industri yang menarik banyak investor. Pulau Batam yang memiliki letak strategis dan dekat Singapura, amat menggiurkan bagi para pencari penghidupan. Akan tetapi oleh Habibie tidak sembarangan orang diperkenankan menetap di sana, selain penduduk lokal hanya pendatang yang memiliki kompetensi yang bisa menjadi penduduk Batam. Ia tak ingin Pulau Batam hanya diolah menjadi kebun sayur.

Selain sebagai ilmuwan, Habibie adalah juga penikmat seni, yang menyukai opera, lukisan, musik klasik dan puisi.

Habibie masuk dunia politik tanpa ambisi, ia adalah orang baik dan jujur, yang menganggap politik hanyalah kesempatan untuk mengabdi pada bangsanya.

“Semua yang duniawi tidak ada yang menguntungkan bagi saya.”

“Manusia tidak hanya hidup untuk makan dan pakaian, tetapi juga dengan kepuasan. Bukan (kepuasan) secara material, tetapi secara jiwa: mendapat kesempatan ikut membantu mengisi kemerdekaan. Ini sama dengan perjuangan yang saya laksanakan sejak muda.”

Harus baca deh buku ini, kisah-kisahnya menarik dan inspirasional.

One thought on “HABIBIE: Kecil tapi Otak Semua #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s