ELLA ENCHANTED: Plesetan Cinderella

Ella Enchanted

“Nobody should be forced to do things they don’t want to do.”
– Ella of Frell

This one is my favorite! Kisah film ini diangkat dari buku berjudul sama: Ella Enchanted karya Gail Carson Levine yang merupakan plesetan atau interpretasi lain dari kisah Cinderella.

Sifat Cinderella yang seolah manut saja bila diperintah ibu tiri dan saudara tirinya, digambarkan dengan lebih rasional. Ibu peri Ella yang sembrono memberi ‘gift of obedience -yang lebih tepat disebut ‘curse’– agar ia patuh pada setiap perintah yang diberikan padanya.

Saudara tirinya Hattie mengetahui kelemahan Ella itu dan mempermainkan Ella dengan menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak ingin ia lakukan. Karena tidak tahan lagi, Ella bertekad menemui Lucinda -ibu perinya- agar mencabut ‘gift’ tersebut.

Dalam perjalanan Ella berjumpa dengan Pangeran Charmont  -plesetan dari Prince Charming- yang menyelamatkannya dari para ogre. Ella tidak menyetujui kebijakan-kebijakan baru Sir Edgar, paman Pangeran Charmont. Ia memegang kendali kerajaan setelah ayah Pangeran Charmont tewas. Ia mengeluarkan berbagai kebijakan yang tidak adil antara lain menyingkirkan elf, ogre dan raksasa ke hutan.

Para elf dipaksa hanya bekerja sebagai penghibur dan penyanyi, sementara Slannen –elf teman seperjalanan Ella- ingin berprofesi sebagai pengacara. Ella juga dibekali peri rumahnya, Mandy, dengan buku yang bisa berbicara bernama Benny. Benny serupa ensiklopedia berjalan yang bisa menunjukkan pada Ella berbagai informasi, peta dan menampilkan gambar mengenai keberadaan Lucinda.

Benny tak ubahnya iPad atau tablet pada masa ini.

Sir Edgar-lah yang sebenarnya membunuh ayah Pangeran Charmont. Ia pun memanfaatkan kelemahan Ella dengan memerintahkannya membunuh Pangeran Charmont tepat saat ia dilamar. Ella akhirnya bisa mematahkan ‘kutukan’-nya, akan tetapi Pangeran Charmont sudah terlanjur salah sangka. Ella pun ditahan dalam penjara.

Akhir kisahnya cukup mudah untuk ditebak. But, watching this movie is a great pleasure! Banyak adegan-adegan yang lucu karena dianalogikannya kondisi modern ke zaman itu. Misalnya ada eskalator dari tangga kayu, ada demo dengan mengacung-acungkan poster, dan Pangeran Charmont bahkan serupa selebriti yang memiliki fan club.

Saya suka akting Anne Hathaway yang ekspresif dan total. Tidak seperti putri yang anggun, ia malah aktif melompat-lompat, berkelahi, dan melakukan berbagai gerakan-gerakan aneh yang diperintahkan pada tokoh yang ia perankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s