A SEPARATION: Ego Sang Istri

A Separation

Saya bingung dengan si istri, Simin, ia ngotot mengajukan gugatan cerai karena suaminya, Nadir, tidak lagi sepakat bahwa mereka akan tinggal di luar negeri untuk kebaikan masa depan putrinya.

Masalah yang terlalu dibesar-besarkan menurut saya. Memangnya kenapa kalau harus di dalam negeri? Setahu saya Iran termasuk stabil situasi politik dan keamanannya, ketimbang Irak atau Afghanistan.

Bukankah lebih baik tetap bersama dalam kondisi sesulit apa pun?

Seorang istri yang baik harusnya mengerti kondisi ayah mertuanya yang sakit, yang menjadi alasan suaminya membatalkan rencana itu. Nadir ingin merawat ayahnya yang menderita Alzheimer.

Menurutku istrinya memang wanita, tapi sifatnya ‘terlalu lelaki’. Ia tidak bisa mengalah dan selalu merasa sebagai pengambil keputusan yang paling benar, bahkan melangkahi suaminya. Sifat pengasih seperti hilang darinya. Quite unnormal. Biasanya wanita mudah trenyuh dan tidak tega…, dan mungkin yang lebih ngotot untuk tinggal dan merawat mertuanya yang sudah sepuh dan sakit seperti itu.

Di lain waktu, Simin mengeluh mengapa Nadir tidak memohonnya untuk tinggal dan membiarkannya pergi.

Sedikit membingungkan, jadi intinya ia butuh romantisme dari suaminya?

Kalau begitu mengapa ia sampai menggugat cerai? Sementara ia masih butuh afeksi suaminya? Perceraian itu lebih parah ketimbang tidak jadi ke luar negeri!! *confused* Kan bisa tinggal terpisah negara, tapi tetap dalam ikatan pernikahan? Bercerai malah jelas berdampak buruk bagi masa depan putrinya.

Menurutku alasan gugatan cerai yang tidak masuk akal dan kurang kuat adalah kelemahan film ini.

Intinya, ‘ego’ Simin tidak bisa menerima keputusan Nadir, padahal ia kepala keluarga.

Nadir juga memikirkan masa depan putrinya. Tapi apa itu lebih penting ketimbang mengabdi pada orang tua, yang sudah kehilangan ingatannya dan tak bisa ditinggal sendiri? Toh, yang dihadapi bukan situasi yang gawat seperti sedang perang, bencana dan adanya tekanan dalam memperoleh hak-hak dasar. (Dalam film digambarkan, di Iran wanita bisa memperoleh pendidikan dan bisa berkarir.)

Nadir juga bukan suami yang fanatik dan otoriter, bahkan ia termasuk demokratis dengan mengizinkan putrinya mengambil sikap sendiri terhadap masalah mereka.

Kemajuan wanita tidak harus disimbolkan dengan perlawanan pada suami. Menurut saya, nilai yang berharga dan justru dirindukan dari wanita adalah sikap bijak dan pengertiannya. Saya rasa itu yang diinginkan setiap pria dari wanita, sehingga bisa membuatnya tenang.

Tapi bila Nadir sudah tidak bisa memperoleh ketenangan dari Simin yang selalu menuntut, saya setuju mereka memang lebih baik bercerai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s