Trying to love this city

Ibaratnya orang pacaran yang lagi penjajakan, mesti banyak ribut di awal hubungan.

Itulah yang masih saya alami, masih mencoba mengerti karakter & hati orang Jogja. clash of culture

Tapi saya ga akan menyerah, meski beberapa orang terlihat sebel sama saya. mungkin krn sy orangnya blak-blakan, suka bertingkah yg nyebelin, ga sopan

suka ngomel, emosian

Ibuku bersyukur sekali aku bisa diterima di Jogja, katanya “Alhamdulillah, Allah itu ngerti ya… anakku biar ngerti unggah-ungguh.”

Salah satu alasan, kenapa saya apply kuliah di Jogja… krn saya ingin mengenal Indonesia.

Saya lahir dan besar di Gunung Madu, di kompleks perkebunan tebu di Lampung. Begitu lulus SMP, udah dikirim ortu merantau ke Malang

Ortu asli Jawa Timur, Bapak Jember, Ibu Pasuruan. Mereka kerja di Lampung, berjodoh… lalu lahirlah aku.

Abis itu aku kuliah D3 dan S1 di Bandung, lama… dari 2002 ke 2009. aku suka molor klo kuliah. pas D3 krn sibuk jadi aktivis, jadi ga tll mikirin kuliah. akhirnya temen2 lulus, aku masih bingung bikin skripsi. pas ekstensi udah mulai ngerti pentingnya akademik, jadi nilai ga keteteran. cuma waktunya juga molor, krn sakit… dan harus cuti 1 semester

trus 2010 balik ke Lampung, sambil nungguin diterima kerja. akhirnya keterima kerja di Lampung.

karena aku dah tau Jawa bagian Timur dan Jawa bagian Barat, jadi aku juga ingin tahu Jawa bagian Tengah. aku ingin kenal & mempelajari kultur daerah dan karakteristik penduduknya. simply coz I love Indonesia

Dulu pas kuliah, aku terlalu sosial sampe keteteran studi. aku takut jadi autis & anti sosial klo hya fokus di studi. ga baik klo hanya jadi pinter untuk diri sendiri, tp secara sosial kita dibenci

Harus belajar nge-blend dengan warga sekitar

Selama di rantau, ya penduduk di kota itu adalah keluarga kita. *masih berusaha mengimbangi, krn akhir-akhir ini aku emg agak anti sosial & ga suka bergaul

Dan lagi, sepertinya warga Jogja punya pengalaman ga ngenakin dengan pendatang. love-hate relationship mungkin

aku sering, langsung diplengosi… krn dianggap menyinggung

Padahal aku ga bermaksud menyinggung, aku emang orangnya cablak

Semoga do’a ibuku terkabul. dan aku bisa jadi cewek Jawa tulen. *bukan cewek Jawa KW

Pemakaian Baterai Handphone

Agar baterai handphone tidak cepet drop, dan kita terpaksa harus ganti baterai baru… ada tipsnya.

Aku sering mengalami baterai yang menggelembung, sehingga bila di-charge tidak cepat terisi dan cepat sekali habis sumber dayanya. Klo sudah begini terpaksa harus beli baterai baru

Trus aku dateng ke service center Samsung, untuk beli baterai baru… ternyata mahal, hampir Rp. 200.000,-. Akhirnya aku nanya sama mba pegawainya, “gimana ya, mba? biar bateraiku awet dan ga harus sering genti krn rusak?”

Nah, dia ngasih tips pemakaian handphone dan cara men-charge yang benar:

  1. Jangan di-charge sampe terlalu penuh. Kita kan sering ngecas hp trus ditinggal tidur pas malem. itu salah! Hal ini membuat baterai cepat menggelembung, dan rusak. Harusnya dicas hanya sampai penuh, klo udah segera dicabut. jangan terus-menerus berada dalam posisi dicas
  2. Jangan pake powerbank. aku kurang ngerti tentang listrik. tapi kata mba-nya, daya dari powerbank dengan handphone itu berbeda. dan lagi powerbank itu bukan bikinan dari pabrik ponselnya kan? jadi ya, ga compatible. *trus solusinya? krn ga bisa pake powerbank, jadi ya… charger harus dibawa ke mana-mana
  3. Dicas pake charger adapter yang sesuai dengan seri ponselnya. Makanya pas pake beli baterai pengganti, harus nunggu semingguan krn indent. Harus dicari cas-casan yang sesuai dengan seri ponsel kita. ga bisa asal… kan kita sering tuh,, asal pinjem cas-casan, yang penting bisa ngisi daya baterai dan colokannya pas
  4. Jangan dipake klo lagi dicas. ini salah satu yang bikin baterai cepet rusak. dan lagi radiasi paling besar itu, klo hp lagi dicas.

Pengalaman Pertama ke Galeri Seni

undagi poster

Aku ga sengaja nemuin poster tentang UNDAGI pas maen ke Perpustakaan Kota Yogyakarta.

Wah, boleh juga nih… aku memang seneng dengan benda-benda unik yang bermuatan seni. Biasanya sih pembuatnya, atau senimannya tidak hanya membuat sebuah bentuk yang unik, namun juga sekaligus menyampaikan pesan dan kritik sosial melalui karyanya.

Aslinya aku pengen ke sana bareng adekku yang akan dateng dari Malang. Tapi keburu pamerannya abis, dan aku ga sempet nonton… udahlah aku ke sana sendiri. Adekku juga kayaknya lebih seneng wisata alam, dia malah kepengen ke Gunung Kidul. maaf ya ga bisa nemenin, aku banyak tugas

Bedanya museum dengan galeri seni: klo museum benda yang dipajang biasanya permanen, untuk jangka waktu lama. Sementara pameran di galeri seni, hanya sewaktu-waktu dan tentu bendanya khusus, produk-produk terbaru (kontemporer) karya seniman. Klo di museum kan benda-benda yang sudah lama dibuat

Emang ga rugi, sempet mampir ke sana…

Ini adalah salah satu karya yang mengandung sindiran sosial:

Aku suka dengan filosofi patung Dewi Saraswati ini:

… pengalaman yang menyenangkan…

Surga Buku

Klo menurutku, salah satu jenis surga yang mungkin akan diciptakan Tuhan di alam akhirat nanti… mungkin adalah “surga buku”.

Buat penggemar buku, masuk ke suatu tempat dengan banyak buku-buku bermutu itu laksana memasuki gudang harta karun yang isinya emas permata dsb. mungkin seperti  gudang uangnya Paman Gober dalam komik Donal Bebek

Kemaren malem, tanggal 22 Agustus… aku ke Toko Buku Toga Mas di Jl. Gejayan, deket kosku. Sebenernya nyari buku untuk tugas kuliah sih… eh, kenapa keluarnya malah dapetnya buku Biografi Pak Habibie (?)

Aku orangnya emang susah fokus pada satu bidang studi,, ibaratnya pas kuliah D3 dulu… aku malah sibuk jadi aktivis & belajar hal-hal lain di luar bidang studi yang sebenernya. Aku orang yang punya terlalu banyak minat, atau banyak ilmu pengetahuan yang pingin aku serap. Padahal sebenernya kita memang harus punya satu hal yang kita ekspertis banget. Seperti klo jurusanku di IT, ya harus expert dan mendalami IT, tho?

Ya itulah, kali ini aku berusaha fokus dan ga bingung menjelajah surga-surga buku di Jogja ini & malah membaca buku2 yang di luar tema studiku.

Suasana Jogja yang memfalisitasi banget terhadap pendidikan, dengan berlimpahnya sumber pengetahuan… memang menggiurkan. Seperti suasana saat aku di Bandung dulu,, yg banyak toko buku dan perpustakaan. juga pusat penjualan buku murah atau diskonan, seperti BBC (Bandung Book Center) di Palasari.

Aku orangnya mudah jenuh, jadi kan di kuliahan (pas D3 & S1) udah full bahasan tentang teknik… sehingga sebagai hiburan, aku mencari bacaan2 alternatif. Dan aku memang sebenernya lebih suka hal-hal yang bersifat sosial kemasyarakatan, ketimbang hal-hal yang sifatnya teknis

Apalagi pas udah kerja; ya membaca buku adalah salah satu alternatif hiburanku, selain musik, film, menulis…

Tapi semoga aku dapat menahan hasratku itu… dan mengalihkannya ke buku-buku bacaan yang selaras dengan jurusanku, dan menunjang pengerjaan tugas-tugas kuliah.

Buat temen-temen yang tinggal di Jogja, kalian itu sadar ga sih… klo kalian tinggal di salah satu kota surga pengetahuan di Indonesia. manfaatkanlah sebaik2nya, karena tidak semua wilayah di Indonesia bisa mendapatkan akses seleluasa di kota ini, terhadap ilmu pengetahuan

*ibaratnya, pas aku tinggal di Lampung… aku harus belanja buku secara online untuk mendapatkan buku-buku bagus, dan itu pun kadang habis atau stok tidak ada. Sementara aku lihat di sini, buku-buku yang aku cari dan tidak tersedia secara online tersebut, malah masih banyak stoknya; atau juga bisa dipinjam di perpustakaan

Terpesona dengan Masjid Gedhe Kauman

20160813_191229

Hari Sabtu, tanggal 13 Agustus kemaren… karena ada waktu luang, aku berkunjung ke rumah saudara sepupuku di Bantul. Sepulangnya dari sana sekitar maghrib, aku menuju alun-alun kidul… karena pgn liat, katanya ada festival. Tapi aku sekedar lewat doang, trus menyusuri jalan lewat Ngasem dan kemudian, seperti pesen Mba Bety (sepupuku tadi)… klo lewat sekitar keraton bisa mampir tuh, ke Masjid Gedhe Kauman

Aku sering lewat di depannya, tapi baru kali ini mampir…

Indah banget tyt interiornya, dan suasananya khusyuk banget. Aku sholat Isya di sana, dan di pelataran masjid aku liat ada panggung untuk Festival Shalawat yang diadakan tanggal 14 Agustus keesokan harinya.

Esoknya, karena pingin liat Festival Shalawat… aku ke sana lagi, dan sempet ikutan sholat Isya berjamaah. Lebih banyak nenek-nenek/ibu-ibu yang sudah tua yang sholat jamaah di barisan shaf wanita. Aku sampe berpikir, ini generasi mudanya kemana ya?

Seperti yang kulihat di film “Sang Pencerah”, ternyata emang bener ya… kiblat masjid ini dibetulkan oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Dapat dilihat dengan jelas dari pagar pembatas shaf wanita dengan pria yang berupa diagonal yang melintang, bukan sejajar/horisontal seperti kebanyakan masjid lain.

Dan, satu hal yang berkesan banget. Ada satu aturan dalam shalat berjamaah yang tidak pernah aku lihat diterapkan, namun di sini diterapkan: shaf wanita diisi yang paling belakang dulu.

Yang bener khan, emang begitu… anak-anak di depan, dan sebaik2nya shaf buat wanita itu yang di belakang. Jadi yang diisi barisan belakang dulu

Beda dengan aturan untuk shaf laki2

Tapi aturan semacam ini, saya tidak pernah melihat hal tersebut diterapkan. Baru di masjid ini saya lihat spt itu… *dan itu bagus, berarti menunjukkan keseriusan

Trus, selesai sholat… aku nungguin tuh, Festival Shalawat-nya dimulai. Katanya abis Isya, tapi lama banget aku tungguin belum mulai2. *masih persiapan… trus kulihat jam udah menunjukkan jam 8 malam. Wah, ga bisa nih aku ikutan. Karena badan udah lelah, waktunya istirahat… ga enak juga klo pulang kos malem2 dan besok juga mau kuliah. Jadi, aku pulang deh..

Belanja di mana?

Buat yang nyari oleh-oleh di Jogja, terutama yang bukan berupa makanan… semisal batik & souvenir atau kerajinan tangan. Lebih suka belanja di mana: pasar tradisional atau swalayan?

Sebenarnya jadwal wajib kunjung saya klo ke Jogja itu Mirota Batik (sekarang sudah jadi Hamzah Batik)

Spesial banget toko itu…

Klo pgn nyari souvenir & macem2 kerajinan tangan, emang lebih enak di sini. Krn model & macamnya variatif… jadi ga perlu keliling Jogja tuh, buat nyari kerajinan2 khasnya.

Tapi, krn kali ini ada yg pesen bahan batik… dan aku ragu, beli di Pasar Bringharjo atau Mirota Batik

Pertimbanganku, klo di Pasar Bringharjo mgkn lbh murah & bisa ditawar

Tapi, beli di pasar tradisional jg beresiko. Krn aku orangnya ga bisa nawar. Berapa pun harga yg penjual kasih, aku iya2 aja… (nawar sih, tp ga sampe separuh harga. dan ga ngotot2 amat ke penjualnya, seperti kebanyakan ibu2)

Dan aku senengnya, di pasar tradisional itu ada kedekatan dengan penjualnya. Kadang dia ikut memilihkan motif dari batik yang kita cari. Dan menceritakan motif batik ini tentang apa: “yang ini motif garuda”, “ini motif ikan”, “ini sekar jagat”

Lucunya, krn dr harga yang ditawarkan penjual… ga aku tawar; in the end mereka sdr yg nurunin harganya. *mgkn krn kasian liat aku yg ga bisa nawar, hehe

Oh ya, klo ke Pasar Bringharjo dan pgn murah… enaknya, pas pagi. krn biasanya masih sepi, dan penjual nyari penglaris. Cuma, ya beberapa kios mgkn blm buka… jadi pilihan agak terbatas

Jogja

Hari ini, jam 10.45 nanti… aku akan kembali sebentar ke Lampung, untuk mengurus berkas-berkas permohonan Tugas Belajar-ku.

Sebelumnya, saya ingin menuliskan beberapa kesan saya tentang Jogja. Kota yang selama 2 minggu… sudah saya tinggali

Alhamdulillah, saya sudah diterima di Program Magister CIO (Chief Information Officer) di UGM melalui beasiswa dari Kemkominfo.

Dan tanggal 4 kemarin sudah diadakan kuliah perdana sebagai orientasi terhadap Mahasiswa Baru. Jadi tanggal 3 Agustus aku dah pamitan sama temen2 kantor

Sebenarnya aku ga bener2 fresh & siap, karena baru aja sebelum berangkat ada beberapa masalah di kantor

Tapi ya sudahlah, berangkat aja mulai kuliah… 4 an escape from reality

————————

Ada beberapa kesulitan saya untuk beradaptasi dengan kultur Jogja…

Di sini semua serba sopan, ramah, unggah-unguh. Sementara di Lampung ga harus gitu… Adakalanya di sana, klo orang terlalu ramah, baik, sopan malah bisa ‘dikerjain’.

Aku biasa jaga jarak dengan orang lain dalam pergaulan; karena di sana kehidupan keras. Dan di sini tiba-tiba harus akrab gitu… aku belum bisa

Seni

105_3359.jpg

Saya sangat suka buku “Insan Kamil: Konsepsi Manusia Menurut Islam” yang saya temukan di perpustakaan pribadi milik almarhum Prof. Doddy Achdiat Tisna Amidjaja, mantan rektor ITB.

~~~~~~~~~

Dulu, semasa ngelanjutin kuliah ekstensi S1 dari D3… karena ga terlalu sibuk

(kuliahnya malam doang, sementara aku sudah ga ikutan organisasi & ga sambil kerja juga)

Aku jadi nelusurin hampir semua perpustakaan di Bandung, mulai dari Perpustakaan Daerah Jawa Barat di Jl. Soekarno Hatta (skrg sudah pindah lokasi) sampe Perpustakaan PUSDAI di pusat kota.

Salah satu perpustakaan yang tidak sengaja saya temukan adalah perpustakaan milik Prof. Doddy, yang berdiri di rumah pribadinya di seputaran Buah Batu. jadi rumah tinggal yang masih ditempati istrinya, dibuka untuk umum… (di bagian perpustakaan & halaman belakangnya)

Dan itu bukunya… bagus-bagus!! kebanyakan buku lawas dan langka

Tidak seperti perpustakaan lain yang mungkin harus kita telusuri satu persatu, untuk menemukan buku yang menarik. Dalam perpustakaan ini sudah terhimpun buku-buku yang hampir semuanya bagus dan merupakan buku penting.

Aku nemu buku “Bung Karno Masa Muda” di perpustakaan ini… kertasnya udah coklat-coklat, buku tua bangett. dan di halaman depan ada tanda tangan dan tulisan Ajib Rosidi (jadi buku tersebut adalah pemberian untuk sahabatnya, Prof. Doddy)

Sekarang perpustakaan ini sudah digabungkan dengan Perpustakaan ITB

Awalnya aku ga tau klo beliau adalah mantan rektor ITB, baru tau setelah browsing dan baca buku biografinya yang tersedia dalam perpustakaan tersebut.

Beliau juga pernah jadi peneliti di LIPI, dan berhubung aku juga suka baca buku biografinya Habibie… ga sengaja aku nemuin fakta, klo beliau juga pernah jadi guru SMA Habibie.😮

~~~~~~~~~

Balik lagi ke buku “Insan Kamil: Konsepsi Manusia Menurut Islam”

Saking sukanya dengan buku ini, sampe aku fotokopi… walau cuma beberapa halaman yang penting.

Buku tersebut berisi esai-esai dari beberapa cendekiawan Indonesia, mengenai filsafat manusia menurut beberapa tokoh di dunia pemikiran Islam.

Di bawah ini salah satu ulasan yang menarik buat saya:

Manusia yang ideal menggunakan seni tidak untuk memuaskan kesenangan, lupa diri dan kemewahan yang menghabiskan banyak sumber daya energi. Tidak juga menggunakan seni untuk tujuan-tujuan pemuasan hawa nafsu, kepentingan politik, atau kepentingan ekonomi. Seni merupakan anugerah Tuhan yang diberikan oleh Tuhan kepada khalifahnya di bumi untuk menjadikan bumi ini sebagai surga, penuh keindahan, dan kebahagiaan. Ia merupakan kreativitas untuk menciptakan kehidupan yang baru, dunia baru, dan masa depan yang lebih cemerlang.
– “Manusia dalam Perspektif Humanisme Agama: Pandangan Ali Shari’ati” oleh Hadimulyo